Inilah apa yang terjadi pada diriku bersama Syekh Syarafuddin QS.”

Salah satu teman Eskici Ali Usta yang telah bermigrasi dengannya dari Daghestan menerima sepucuk surat dari Syekh Syarafuddin QS ketika ia masih berada di Daghestan, isinya berbunyi, “Tinggalkan Daghestan. Tidak ada lagi spiritualitas di sana. Daghestan tidak lagi berada di bawah lindungan Ilahi karena di sana terlalu banyak tirani. Datanglah ke sini ke Turki, dan ke Rasyadiya.” Orang itu meletakkan surat dari Syekh, mengabaikannya dan berpikir, “Bagaimana Aku meninggalkan semua kekayaanku dan semua yang kumiliki di sini?” Beberapa saat kemudian Rusia menguasai kota itu dan menyita semua kekayaannya. Lalu ia teringat dengan surat yang dikirim oleh Syekh. Akhirnya ia segera menyusun rencana untuk melarikan diri ke Turki dan ke Rashadiya. Namun ia telah kehilangan keluarga dan semua kekayaannya akibat penundaannya itu.

Suatu kali Syekh Syarafuddin QS datang ke Istanbul dan tinggal di Hotel Massarat. Beliau ditanya oleh seseorang yang bernama Syekh Zia, “Bagaimana engkau akan meninggal?” Beliau menjawab, “Apakah pertanyaan itu penting bagimu, bagaimana Aku akan meninggal?” Ia menjawab, “Pertanyaan itu datang begitu saja ke dalam hatiku.” Beliau berkata, “Aku akan meninggal ketika kita mendapat serangan dari Armenia, dan pada saat itu banyak sekali orang-orang yang zalim.” Malam harinya Syekh Zia berwudu lalu salat 2 rakaat dan berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, singkirkanlah kesulitan itu (invasi dari Armenia) dari kami, dan panjangkan usia Syekh kami yang tercinta.” Hari berikutnya Syekh Syarafuddin QS berkata kepadanya, “Wahai Syekh Zia, apa yang telah kamu lakukan semalam, berdoa? Doamu telah dikabulkan. Kesulitan itu telah dicabut dari diriku tetapi sebagai gantinya kamu akan menderita dan meninggal sebagai syuhada.” Delapan tahun setelah insiden di hotel itu, bangsa Armenia dan Yunani memasuki Rasyadiya. Zia Effendi tertembak mati, dan apa yang telah diprediksi oleh Syekh Syarafuddin QS semuanya terjadi.

Yusuf Effendi, seorang yang pada tahun 1994 berusia sekitar 100 tahun, menceritakan kisah berikut,

“Suatu ketika Syekh Syarafuddin QS ditahan di Eskisehir, dan Aku adalah penjaganya. Di penjara itu terdapat pula orang yang sangat baik sifatnya, seorang Syekh yang terkenal, Sa’id Nursi QS. Syekh Syarafuddin QS dipenjara bersama khalifahnya, Syekh `Abdullah QS, dan murid-murid yang lain. Ketika Sa’id Nursi QS mengetahui bahwa Syekh Syarafuddin QS ditahan dalam penjara yang sama, beliau mengutus muridnya untuk bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu dan juga menawarkan bantuan. Syekh Syarafuddin QS menjawab, ‘Terima kasih, tetapi kami bukan siapa-siapa dan kami tidak memerlukan apa-apa.’”

“Murid Sa’id Nursi QS terus mendatangi Syekh Syarafuddin QS, bertanya apakah beliau memerlukan sesuatu. Beliau selalu menolaknya. Suatu hari Syekh Syarafuddin QS berkata kepada murid itu untuk menyampaikan pertanyaan kepada Syekhnya, ‘Mengapa kita berada di sini?’ Murid Sa’id Nursi QS itu pergi menemui gurunya. Beliau menjawab, ‘Kita berada di sini untuk mencapai maqam Sayyidina Yusuf AS, Maqam Pilihan Diam.’ Setelah murid itu bertanya dan Syekh Sa’id Nursi QS memberi jawaban, pembicaraannya pun berakhir.”

“Perubahan ini membuatku bingung dan Aku mulai merenungkannya secara mendalam. Kemudian Aku bertanya kepada Syekh, ‘Apa rahasia keberadaanmu di sini?’ Akhirnya, atas desakanku, Syekh Syarafuddin QS menjawab, ‘Aku diutus ke sini untuk membawa rahasia orang banyak, orang-orang yang dipenjarakan tanpa sebab. Aku memberi dukungan kepada orang-orang ini. Allah SWT mengutusku ke sini, karena kamu semua berkumpul di sini, dan sangat sulit mencapai kalian. Saya berada di sini untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu, karena kami segera akan meninggalkan dunia ini. Kami akan mengantarkan kepadamu rahasia-rahasia kamu. Bagi kami tidak ada istilah penjara, kami selalu berada dalam Hadirat-Nya dan kami tidak pernah terpengaruh dengan penjara. Kalian semua akan meninggal beberapa saat lagi tetapi kalian akan bertemu lagi, ketika seorang tokoh penting meninggal dan barulah kalian semua akan bertemu kembali.’ Murid-murid Sa’id Nursi QS mendengar hal ini sebagaimana para tahanan lain yang mendengarkan dengan penuh antusias.”

Mengenai Wafatnya

Setelah sekitar tiga bulan, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau berkata kepada Syekh ‘Abdullah QS, “Aku akan segera pergi, karena Aku terlalu menguras tenagaku mensarikan rahasia Surat al-An’am.” Beliau meninggalkan wasiat baginya, dan menunjuk Syekh ‘Abdullah QS untuk menjadi penerusnya di Singgasana Pembimbing.

Tiga hari menjelang wafatnya, beliau memanggil Sultan ul-Awliya Mawlana Syekh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani QS beserta beberapa pengikutnya, kemudian beliau berkata, “Selama tiga bulan Aku telah menyelami Samudra Surat al-An’am untuk mengeluarkan seluruh nama dari Tarekat Naqsybandi yang berjumlah 7007 dari salah satu ayatnya. Alhamdulillah, Aku berhasil mendapatkan nama-nama mereka beserta seluruh gelarnya dan Aku telah mencatatnya pada catatan harianku yang Aku berikan kepada penerusku, Syekh ‘Abdullah QS. Ia berisikan nama-nama seluruh wali dari beragam kelompok yang akan ada pada masanya Imam Mahdi AS.”

Keesokan harinya beliau memanggil khalifahnya, Syekh ‘Abdullah ad-Daghestani QS dan berkata, “Wahai anakku, inilah wasiatku. Aku akan pergi dalam dua hari ini. Atas perintah Rasulullah SAW, Aku menunjukmu sebagai penerusku dalam Tarekat Naqsybandi, bersamaan dengan lima tarekat lain yang telah kuterima dari pamanku. Seluruh rahasia yang pernah diberikan kepadaku dan seluruh kekuatan yang telah disandangkan kepadaku dari para pendahuluku di Tarekat Naqsybandi dan kelima tarekat lainnya, kini kusandangkan kepadamu. Seluruh pengikut yang kau bay’at di Tarekat Naqsybandi, juga dengan sendirinya akan di-bay’at di lima tarekat lainnya dan juga akan mendapatkan rahasia mereka. Segera, akan datang kepadamu perintah untuk meninggalkan Turki dan pergi menuju Damaskus (Syam asy-Syarif) [yang pada saat itu amatlah sulit untuk dicapai karena peperangan yang dahsyat].”

Syekh ‘Abdullah QS berkata, “Beliau memberikan wasiat tersebut dan Aku berusaha menyembunyikannya sebagaimana Aku ingin menyembunyikan diriku sendiri.”

Beliau wafat pada tanggal 27 Jumadil Awwal, Ahad, 1355H/ 1936 di Rasyadiya. Beliau dimakamkan di pemakaman Rasyadiya, di suatu puncak bukit. Hingga kini masjid dan zawiyahnya masih terbuka, dan banyak orang mengunjunginya untuk mendapatkan rahmat dan berkahnya. Awrad yang sama yang dulu dikerjakan Syekh Syarafuddin QS, Khatam Khwajagan (Zikir para Guru) masih ada di sana, tergantung di dinding.

Grandsyekh kita, Syekh ‘Abdullah QS, khalifah dan penerus Sayyidina Syekh Syarafuddin QS berkata, “Ketika berita wafatnya diketahui, semua orang datang ke rumahnya untuk mendapatkan berkahnya. Bahkan Ataturk, Presiden Republik Turki yang baru, mengirimkan delegasi kehormatannya. Kami memandikan jasadnya. Ketika kami membaringkannya untuk dimandikan, beliau memindahkan kedua tangannya ke pahanya untuk menampung air yang tercurah darinya ketika kami memandikannya, sehingga semua pengikutnya dapat minum dari air pemandian tersebut. Ketika semua pengikutnya telah selesai minum, beliau kembali memindahkan tangannya kembali ke tempat semula. Itulah keajaiban dari Samudra Keajaibannya, dan itu terjadi bahkan setelah kematiannya.”

“Ketika kami menguburkan jenazahnya keesokan harinya, lebih dari 300.000 orang datang ke pemakamannya dan kota pun tidak mampu mengakomodasi kerumunan massa tersebut. Mereka datang dari Yalova, Bursa dan Istanbul. Sungguh merupakan kerumunan orang berduka yang dahsyat. Para lelaki menangis, para wanita meraung, anak-anak pun menangis juga. Semoga Allah SWT Yang Maha Kuasa mengangkat para walinya di setiap abad.”

Yusuf Effendi, salah seorang pengikutnya berkata, “Memang benar bahwa kami tidak pernah bersama-sama dengan seluruh pengikutnya di suatu tempat yang sama–kami terlalu banyak–namun pada saat kematiannya, seluruh kota mendengar, Bursa, Adapazar, Yalova, Istanbul, Eskisehir, Orhanghazi, Izmir, dan seluruh penduduknya bergabung untuk menyelenggarakan shalat jenazah.”

Syekh Syarafuddin QS telah menulis banyak buku, namun semuanya hilang selama Perang Balkan. Namun demikian, banyak manuskrip yang masih tertinggal di keluarganya yang berisi rahasia dari Tarekat Naqsybandi. Para pengikutnya mendatangi mereka untuk membaca buku-buku tersebut.

Beliau mewariskan Rahasianya kepada penerusnya, Sultan ul-Awliya, Mawlana wa Sayyidina Syekh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani QS.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *