Saat nonton film bertema kapal selam, ada beberapa hal yang pantas dicermati: konflik dramatis antara para perwira, suasana yang mencekam diiringi cahaya ruang yang temaram, wajah tegang para awak kapal, ruang-ruang sempit di sekujur tubuh kapal, waktu yang seolah berjalan lambat, hingga keheningan bercampur ketegangan menunggu ledakan torpedo atau peluncuran misil. Khas, memang!

Film klasik bikinan Hollywood, dari The Enemy Below (1957), Das Boot (1981), The Hunt for Red October (1990), Crimson Tide (1995), U-571 (2000), K-13: The Widowmaker (2002), Below (2002), Panthom (2013), The Hunter Killer (2018), Kursk (2018), suasana di atas selalu ada. Termasuk juga di film Bollywood, The Ghazi Attack (2017). Bagi penderita klaustrofobia tentu tidak nyaman menonton film berlatar ruang-ruang sempit ini. Tapi bagi penyuka film eksyen juga drama militer, film-film di atas cukup menghibur.

Jika kita pernah menonton beberapa tayangan di atas, juga liputan tentang kapal selam di beberapa buku/tayangan youtube, niscaya bakal memahami beratnya tugas yang diemban oleh awak kapal selam. Berada selama berpekan-pekan di dasar laut dengan tugas rahasia, ketegangan psikologis yang ada di antara para awak, resiko tenggelam hingga masalah teknis lainnya, selalu mengiringi kesehariannya.

Saya nggak bisa membayangkan, bagaimana para anggota tim di dalam Nanggala 402 bekerja keras agar masalah bisa teratasi, dan lebih ngeri lagi membayangkan beliau-beliau bekerja dengan ketegangan yang memuncak karena cadangan oksigen semakin menipis, dan pada akhirnya….tidak berhasil. Atau dengan penyebab lain, ledakan yang membuat kapal jumbo ini menjadi serpihan di dasar laut. Ya Allah…

Kondisi kapal selam yang sudah uzur memang menjadi masalah klasik dalam alutsista negara kita. Perawatan memang berkala, tapi teknologi tidak bisa diakali. Kita berharap tidak ada lagi para prajurit terbaik yang harus gugur di dalam mesin perang yang sudah gaek. 

Terimakasih telah mengabdikan diri untuk menjaga samudera Indonesia, para prajurit terbaik! Sebagaimana Nanggala, gada andalan Prabu Baladewa, yang efektif menjadi senjata mematikan di Padang Kurusetra, demikian pula dirimu. Seperti motto Wira Ananta Rudira, Tabah Sampai Akhir, demikian pula perjuangan para awakmu. 

Selamat jalan para prajurit. 

Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan maghfirah-Nya, menjadikan pengabdian beliau-beliau dalam menjaga kedaulatan Indonesia sebagai amal jariyah, dan keluarga yang ditinggal diberi kesabaran. Alfatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *