Abdullah bin Umar berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda: Allah tak mengabil ilmu dr para hambanya dg cara mencabutnya, melainkan dengan mewafatkan para ulama sehingga tak tersisa satupun. Dengan begitu manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka menjadi tempat bertanya dan mereka mengeluarkan fatwa tanpa didasari ilmu. Mereka sesat lagi menyesatkan.
Syarah Dr. Ahmad Umar Hasyim
• Hadis dalam bab ini menjelaskan cara Allah mencabut ilmu agar manusia bersemangat, menjaga dan mengkodifikasi khazanah keilmuwan. Dalam surat Umar bin Abdul Aziz pada Abi Bakar bin Hazm, beliau memerintahkan agar menulis dan mengkodifikasikan hadis. Ini merupakan awal kodifikasi hadis karena kekhawatiran hilangnya ilmu sebab wafatnya para ulama. Sebelumnya, mereka hanya berpedoman pada hafalan.
• Hadis di atas menjelaskan Allah tidak mengambil ilmu dengan cara menghapusnya dr hati, tetapi dengan mencabut arwah ulama dan kematian pembawanya. Rasul mengatakan demikian ini pada Haji Wada. Dalam hadis Abi Umamah, Nabi bersabda: saat Haji Wada Rasulullah bersabda: “carilah ilmu sebelum ia dicabut atau diangkat”. Seorang Arab badui bertanya: “bagaimana cara pengangakatan itu duhai, Rasulullah?”. Kanjeng Nabi menjawab: “Ingat ! lenyapnya ilmu itu dengan kematian pembawanya”. Beliau mengulangi jawaban itu sebanyak 3x.
• penggalan hadis “manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh yang berfatwa tanpa didasari ilmu”, berarti ketika tak lagi menemukan ulama, mereka akan cenderung pada pemimpin-pemimpin bodoh yang tak berkompeten. Suatu kebodohan yang bertingkat (jahil murakkab): tidak mengetahui suatu hal tapi meyakini dirinya mengetahui. Ini sering terjadi pada orang-orang yg berfatwa tanpa didasari ilmu. Kadang jg terjadi pada hakim.
• Penggalan hadis “mereka sesat lagi menyesatkan”, berarti dirinya sendiri sesat, dan bila ia berfatwa tanpa didasari ilmu tentu akan menyesatkan orang lain.
• Dari hadis di atas terdapat penjelasan dr Rasulullah saw, tentang kedudukan dan keutamaan ulama. Allah mengutamakan Nabi Adam dan menyuruh malaikat sujud kepadanya karena ilmu: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya [al-Baqarah; 31]. Maka ketika Allah mengehendaki mengambil ilmu, Ia mewafatkan para ulama. Karena itu, manakala ketika seorang alim berpindah dr kehidupan dunia kita (wafat) kebaikan berkurang banyak, tuntunan dan petunjuk hilang, ilmu yang bermanfaat tercabut.
• Hadis di atas memberi peringatan kepada kita, tapi dilain sisi juga menjelaskan fadilah ilmu dan kedudukan ulama, serta cara Allah menghidupkan hati (dengan ilmu)
• Bila sudah jelas Allah mengambil ilmu dengan cara mewafatkan ulama maka wajib bagi kita bersemangat menimba ilmu pada ulama secara talaqi (bertatap muka) dan jangan menimba ilmu pada selain ulama. Sebab menimba ilmu pada selain dr mereka menyebabkan banyak kesalahan dan menjauhkan dr hakikat.
Apa yg bisa dipetik dr hadis ini?
1. Hilangnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Ini mengaharuskan umat Islam mengkodifikasi, mengarsip dan menulis sehingga ketika ulama wafat ilmu tidak sirna. Ini perihal yang ditegaskan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau memerintahkan agar mengkodifikasikan secara resmi hadis pada masa kekhalifahannya.
2. Mayoritas ulama berdalil dg hadis ini tentang kemungkinan ketiadaan mujtahid dalam suatu masa. Berbeda dg pendapat Hanabilah.
3. Keutamaan dan kedudukan ulama, mereka adalah pewaris para Nabi
4. Terlarang berfatwa dengan rasio tanpa didasari keilmuwan atau tanpa pertimbangan ahli yang berkompeten dalam bidang tertentu.
5. Peringatan agar tidak menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin masyarakat
6. Mengeluarkan fatwa adalah suatu otoritas yang riil, tak boleh dilakukan oleh seorangpun yang tak berilmu.

No responses yet