Alhamdulillah, pada 15 Desember 2020 saya menerima hadiah “Syekh ‘Abd al-Ra’uf al-Fansuri: Rekonsiliasi Tasawuf dan Syari’at abad ke-17 di Nusantara” (Kompas, 2020) dari penulisnya yaitu Dr. Ridwan Arif “Tuangku Bandaro”, Dosen Prodi Falsafah dan Agama – Universitas Paramadina. Sebenarnya buku ini telah sampai ke Darek seminggu yang lalu, namun baru sampai dihadapan pagi ini.

Buku ini merupakan penelitian terbaru tentang Syaikh Abdurra’uf Fansuri, tokoh ulama sufi besar Nusantara abad ke-17, syaikh Thariqat Syattariyah berpengaruh (dan beberapa thariqat lainnya), yang tidak lain adalah guru “Syaikhul Islam” Syaikh Burhanuddin Ulakan (pengembang agama Islam di Minangkabau). Selain merujuk langsung kepada karya Syaikh Abdurra’uf al-Fansuri yaitu Tanbihul Masyi dan ‘Umdatul Muhtajin, penulis juga melakukan kunjungan ziarah dan penelitian di Aceh beberapa saat untuk melengkapi penelitiannya. Artinya penelitian ini adalah kajian serius, yang patut menjadi referensi utama bila membahas Syaikh Abdurra’uf Fansuri.

Buku ini merupakan penelitian disertasi penulis pada International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), IIUM – Malaysia. Awalnya disertasi tersebut dalam Bahasa Inggris. Menariknya, sosok penulis ialah murni Pakiah Surau dengan gelar Tuangku Bandaro, dan tidak lain ialah pengamal Thariqat Syattariyah yang bersambung sanadnya dengan Syaikh Abdurra’uf Fansuri. Dengan kata lain penelitiannya, tidak berangkat dari ruang hampa. Beliau ialah orang yang merasakan rasa buah, sebelum mencatat nama dan model buah. Tentu akan beda, dengan mereka yang hanya masuk taman penuh buah, dan hanya mencatat dan menganalisa buah, tanpa merasakan dzuq rasa manisnya buah.

Kenapa “al-Fansuri”?

Saya termasuk yang sangat setuju dengan apa yang pernah diutarakan alm. Wan Shaghir Abdullah (manuskrip berjalan Dunia Melayu), bahwa gelar nisbah Syaikh Abdurra’uf ialah al-Fansuri, tidak lazim disebut “al-Singkili”. Ini merujuk kepada kitab-kitab dan manuskrip berkaitan dengan syaikh sendiri. Dalam buku Tuangku Dr. Ridwan Arif ditulis betul nisbah “al-Fansuri”, karena begitu yang tertulis dalam naskah. 

Wal akhir, syukran jazilan Tuangku Dr atas hadiah ini. Ini adalah inspirasi, ilmu dan juga motivasi; pertama (1) bahwa banyak hal yang dapat ditulis dari ulama-ulama kita, yang keilmuannya sangat mumpuni, dan (2) bahwa pakiah dan anaksiak (urangsiak)-pun mampu berdialektika dalam jenjang akademik, sebagai bantahan terhadap orang yang memandang kita sebagai pelajar yang hanya bergelut pada Matan Ajurumiyah dan Matan Bina semata.

Mungka, 15 Desember 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *