Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Pandangan terhadap seorang sufi tidak dapat lepas dari sisi kemanusiaannya sebagai makhluk sosial. Keberadaannya bukan hanya dipandang sebagai makhluk suci yang melakukan rutinitas dalam ibadah ilahiyah semata, sebab tidak selamanya kaum sufi terus menyibukkan diri di dalam ruang kholwatnya.

“Ruang kholwat bagi kaum sufi itu hanyalah sementara,” kata Ali M. Abdillah saat mengisi kajian rutin Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (3/3).

Perlu diketahui bahwa tujuan utama seorang sufi adalah wushul ilallah atau liqo’u ribbi, bertemu dengan Allah. Ketika kecintaan seorang sufi sudah mendapatkan respon oleh Allah, maka ia akan mengemban tugas-tugas baru di muka bumi ini.

Seperti yang dijelaskan oleh Kiai Ali bahwa tugas seorang sufi yang sudah menjadi mursyid itu terbagi ke dalam empat tahapanan. Pertama, Tahdib al Nufus yakni mendidik kegelapan murid-muridnya.

“Murid yang belum tersentuh oleh ilmu maka ia akan mengalami kebingungan yang luar biasa, jangan sampai di tengah-tengah kebingungannya seorang murid bertolak ke dukun yang nantinya akan menyesatkannya,” papar Sekretaris Jami’iyyah Thariqoh Al Mu’tabarah An Nahdhiyyah (JATNMAN) di hadapan peserta diskusi.

Tugas sufi yang pertama ini mendekatkan murid-muridnya pada jalan yang benar. Sebab keyakinan ahli toriqoh pada permasalahan seberat apapun, dengan pertolongan Allah pasti akan ada jalan keluarnya.

Kedua, Tahqiq al Aqidah, seorang mursyid harus membina keyakinan murid-muridnya hingga pada keyakinan yang tahqiq. Tahap ini harus tuntas sehingga tak ada lagi keraguan dalam hati muridnya terhadap Allah.

Kemudian menuju pada tahap yang ketiga, Tarbiyah al Akhlak. Di sini seorang mursyid memiliki peran untuk membina akhlak murid-muridnya dari yang tercela menuju akhlak yang terpuji. Pembinaan yang dilakukan para mursyid tentu memiliki versi yang berbeda-beda.

“Kita sering mendengar ada murid yang datang tapi tidak disuruh ngaji justru malah disuruh mengembala kambing,” kata Kiai Ali mencontohkan.

Meskipun berupa tindakan yang sepele, namun bagi kalangan sufi hal tersebut merupakan usaha pembinaan terhadap rohani sang murid. Jika hanya sekedar mengaji maka ilmu yang dirasakan hanya dalam pikiran saja, namun untuk merasakan ilmu-ilmu yang sifatnya rohani maka perlu ada proses pembinaan secara nyata.

Keempat, Ta’awun al Ummah, seorang sufi memiliki peran aktif dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang dialami umat.
“Setiap hari banyak orang-orang yang sowan (berkunjung) ke Habib Lutfi dengan membawa permasalahan yang berbeda-beda serta latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari orang-orang biasa hingga kalangan pejabat,” terangnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa seorang sufi itu adalah seorang yang solusional, seseorang yang juga memiliki tingkat kepekaan dan humanis yang sangat tinggi. “Martabat yang diperoleh Syaikh abdul Qodir al Jailani itu bukan karena sholatnya, baca Qur’annya, serta ibadah-ibadahnya, tapi lebih karena kepeduliannya terhadap orang lain,” jelasnya.

Selain itu Kiai Ali juga mengutip dari hadits qudsy. “Kamu katanya menuju Allah, tapi kamu malah meninggalkan Allah, ketika ada saudaramu yang sakit maupun kelaparan, kenapa kamu tidak melihat hal itu sebagai makhluk Allah yang perlu disentuh dari sisi kemanusiannnya, kenapa kamu egois, hanya memperbanyak dzikir?” tambahnya.

Hadis tersebut merupakan sindiran keras bagi kaum sufi, untuk tidak egois dengan mementingkan ibadah-ibadah individual. Sebab ternyata ibadah-ibadah sosial juga mampu mengantarkan para sufi dalam mencapai tingkatan maqam yang tertinggi.
Yang terakhir, ketika seorang sufi sudah mencapai puncak yang tertinggi atau istilahnya tanazul, maka ia akan hidup pada maqom yang baqa’.

“Pada maqam baqa’ ini seorang sufi akan hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai pengayom, sesuai konteks zamannya,” kata Kiai Ali mengahiri. (Nuri Farikhatin)