Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam Goresan Tinta Muhammad Asad Shihab

0
469

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah tokoh ulama besar yang tidak hanya masyhur di negeri Nusantara. Tapi juga punya reputasi besar tingkat internasional yang dijadikan rujukan dan diakui dunia Islam secara luas.

Hari Sabtu 03 Maret 2018, A. Ginanjar Sya’ban dalam kesempatan mengisi kajian Turats Ulama Nusantara di INC (Islam Nusantara Center), mengungkap sosok Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam sumber-sumber berbahasa Arab.

Ia menyampaikan bahwa generasi sekarang lebih banyak mengenal kiprah Hadratussyaikh dalam skala nasional. Sementara jejak, pengaruh dan pemikiran Hadratussyaikh di dunia Islam mulai terlupakan. Ini karena kurangnya tulisan-tulisan yang mengungkap sepak terjang Hadratussyaikh dalam dunia internasional. Kurang ada upaya membuka sumber-sumber kuno berbahasa arab, arsip-arsip dan catatan Hadratussyaikh.

Ada beberapa karya berbahasa Arab yang menuliskan biografi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Dua kitab di antaranya adalah kitab biografi berjudul “Natsrul Jawahir Wadurar” yang disusun oleh Syaikh Yusuf Al Marasli dan kitab “Al-Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari” karya Muhammad Asad Shihab.

Sumber-sumber berbahasa arab umumnya menyebut antaranya Mbah Hasyim dengan al-alamah, orang yang luar biasa alimnya. Disebut juga Syaikh ulama Al Indunisi, beliau sebagai penghulu ulama Nusantara paling besar pada zamannya.

Satu kitab berjudul “Al-Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari” karya Muhammad Asad Shihab mengkaji sosok Hadratussyaikh. Seakan akan ketika kita membacanya, kita sedang berada di hadapan Hadratussyaikh. Karena orang yang menulis bertemu langsung pada Hadratussyaikh. Bahkan penggalan-penggalan dialog bersama tamu yang datang, ia tulis.

Dikatakan dalam kitab ini bahwa Hadratussyaikh adalah peletak dasar fondasi kemerdekaan Indonesia. Tidak heran, kerena kita tahu murid-murid beliau ikut berjuang memerdekakan negara ini. Fatwanyalah yang menggerakkan santri dan masyarakat melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Ternyata hadratussyaikh juga ikut berpartisipasi memperjuangkan agar negara-negara Arab mengakui kemerdekaan ini.

Kitab ini penting sekali. Diharapkan ada alumni Tebuireng memaknai gandul kitab ini. Kitab ini diterbitkan ulang agar tetap kontekstual. Karena isi dari kitab ini penting sekali. Kita akan simak seperti apa Hadratussyaikh dalam kesaksian orang yang bertemu langsung. Pengarangnya bertemu langsung pada bulan Juli 1993.

Pada halaman 21, Al-Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari sosoknya sangat besar sekali di Nusantara. Seorang ulama panutan, seorang mujahid, pejuang nasionalis. Tetapi beliau punya sifat yang sangat tawadhu. Akhlaknya agung, kepribadian begitu lembut. Selalu berseri-seri wajahnya. Tidak ada raut marah. Pancaran wajahnya lebih sampai ke hati, sebelum lawan bicara menyampaikan sesuatu.

Beliau menyambut orang-orang yang datang kepada beliau tanpa ada sekat-sekat perbedaan. Jadi menurut Asad shihab, tamu datang dari berbagai kalangan. Yang datang ke rumahnya dari mulai kuli tebu sampai tamu tingkat internasional.

Beliau mempunyai tempat yang besar di hati masyarakat. Orang-orang mengagungkan beliau karena akhlaknya. Ndalem tebuireng ini selalu menjadi tujuan para tamu dari beberapa tokoh besar dunia Islam internasional.

Seorang tokoh besar internasional tidak datang ke Indonesia, kecuali agenda utamanya bertemu dengan Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Untuk saling bertukar pikiran. Dan mereka yang datang sangat mengagumi sosok Mbah Hasyim karena kedalaman dan ketajaman berfikir beliau.

Tahun 1925 Mekah Madinah diduduki oleh tentara Saud. Beberapa ulama Mekah yang berhaluan dengan Aswaja mau berkompromi dengan tentara.
Beberapa ulama mencari suaka dan ditampung di Nusantara, salah satunya di Tebuireng. Diantarnya Syaikh Abdul Hamid Mirdad, Abdullah Hasan Shodaqa Dahlan dititipkan di Lasem, Syaikh Hamzah Syatho di Rembang.

Mereka mengungsi ke Nusantara karena kecamuk masalah Mazhab wahabisme yang terjadi di Mekah.
Diantaranya Syaikh Said Yamani, Syaikh Hasan Yamani, Syaikh Ali Yamani. Mereka datang ke tebuireng tahun 1925-26 ketika masa-masa NU terbentuk.

Hal ini menunjukkan komunikasi internasional dan jaringan yang sangat luas yang saling berkorespondensi.

Melihat hal ini, tugas santri, khususnya santri Tebuireng mencari arsip-arsip surat menyurat Hadratussyaikh. Karena dalam catatan, koleksi di perpustakaan pribadi Hadratussyaikh dikenal sebagai perpustakaan terlengkap se-nusantara.(Damar Pamungkas/Zainal A.)