Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam “Jauhar al-Tauhid” menjelaskan bahwasanya berdasarkan pendapat Ibnu Abbas, surga itu ada 7 tingkatan  yaitu:

1. Surga Firdaus. Surga yang tertinggi. Nabi pernah menyuruh umatnya, jika berdo’a memohon surga, mintalah surga Firdaus. Di atas surga ini ada ‘Arsy ALLAH Ta’ala. Semua sungai di surga berasal dari Surga Firdaus.

2. Surga ‘Adn.

3. Surga Janatul Khuld.

4. Surga Jannatun Na’im.

5. Surga Jannatul Ma’wa.

6. Surga Darus Salam.

7. Surga Darul Jalal

Kesemua surga itu berdampingan dengan maqom wasilah yang di miliki Rasulullah saw, supaya semua ahli surga bisa merasakan nikmatnya memandang Rasulullah s.a.w.. Maqom wasilah ini bercahaya terang benderang yang menyinari semua penghuni surga sebagaimana matahari yang menyinari penghuni dunia.

 Semua kenikmatan surga tidak bisa dibayangkan atau dikhayalkan oleh pikiran manusia. Keindahannya belum pernah terlihat oleh mata siapapun serta keluarbiasaan kondisi surga belum pernah didengar oleh telinga siapapun. Namun semua nikmat tersebut terkalahkan dengan nikmat yang terbesar dan terindah yakni melihat dzat ALLAH SWT, Sang Pemberi nikmat surga yang luar biasa (Q.S.al-Qiyamah: 22-23). Ibaratnya jika kita diberi jam tangan oleh Presiden, pasti kita merasa senang dan bangga. Namun ketika Presidennya itu sendiri datang menemui kita, maka terlupalah kita akan nikmat jam tangan itu, karena lebih senang melihat orang nomor satu di negara kita tersebut.

 Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dalam “Tanwir al-Qulub” menjelaskan bahwasanya surga adala negeri yang disucikan dari segala kotoran seperti kencing, berak, haid, nifas, ludah dan air mani. Semua pembuangan sisa-sisa makanan dalam tubuh para penghuni surga itu menjadi keringat yang berbau wangi seperti minyak kesturi (misik).

 Sedangkan keadaan di neraka itu jauh bertolak belakang dengan surga. Para ulama tauhid menjelaskan bahwasanya api neraka itu dipanaskan selama 1000 tahun, sehingga berwarna putih. Lalu dipanaskan lagi selama 1000 tahun hingga berwarna merah; terakhir dipanaskan lagi selama 1000 tahun, sehingga berubah warna apinya menjadi hitam. Adapun bara apinya berasal dari manusia penghuni neraka dan batu-batu berhala yang disembah oleh mereka. Bagi orang-orang kafir, mereka akan kekal selama-lamanya di neraka yang disebut juga dengan darul ‘adzab (negeri siksaan). Sedangkan bagi orang-orang mukmin yang berdosa, maka ibarat baju yang kotor, pasti tidak akan langsung dimasukkan ke dalam lemari. Maka ssebelum dimasukkan ke surga. Mereka akan dicuci alias disiksa terlebih dahulu di neraka. Lama atau sebentar di neraka, tergantung dari kadar kesalahan mereka. Jadi mereka tidak akan kekal di dalamnya. Sebab tempat kembalinya orang yang beriman adalah surga. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Maliabary dalam Manzhumah Syu’ab al-Iman, yaitu :

وَ بِأّنَّ مَرْجِعَ مُسْلِمٍ لِجِنَانِهِ # وَ بِأّنَّ مَرْجِعَ كَافِرٍ لَجَهَنَّمُ 

“Bahwasanya  tempat kembali orang Muslim adalah ke surganya * dan tempat kembalinya orang kafir adalah neraka Jahannam.” 

 Adapun tingkatan-tingkatan neraka sebagai berikut :

1. Neraka Jahannam. Surga yang paling tinggi..

Penghuninya adalah : orang-orang mukmin yang disiksa sesuai dengan kadar dosa-dosa mereka. Setelah mereka dikeluarkan semua dari neraka Jahannam, maka neraka ini pun akan dirobohkan atau dihancurkan.

2. Neraka Lazho.

Penghuninya orang Yahudi.

3. Neraka Huthomah.

Penghuninya : Orang Nasrani

4. Neraka Sa’ir.

Penghuninya : penganut agama Shobi’in, sekte dari Yahudi.

5. Neraka Saqor.

Penghuninya : orang-oang yang beragama Majusi, kaum penyembah api

6. Neraka Jahim.

Penghuninya : para penyembah berhala.

7. Neraka Hawiyah.

Penghuninya : orang-orang munafik.

Menurut paham Ahlussunnah wal Jama’ah, setiap dalil yang menegaskan adanya adzab kubur dan nimat kubur, menjadi dalil kuat akan adanya surga dan neraka. Lalu berdasarkan petunjuk ayat dan hadits kita diberi informasi bahwa surga maupun neraka itu keduanya sudah tercipta sejak dulu kala, berbeda denagn golongan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa surga dan neraka itu baru diadakan nanti pada hari kiamat. (Muhammad Ahmad al-‘Adwy, al-Syarh al-Jadid li Jauhar al-Tauhid, AlHaramain Singapore-Jeddah , tt., hal. 138)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *