Categories:

Oleh : Ummi Husnul Khotimah (Anggota KKN MDR YASAWIRYA IPMAFA 2020)

Dewasa ini media sosial sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Dikatakan demikian karena tak sedikit (hampir seluruh) masyarakat di penjuru dunia bermedia sosial. Menurut McGraw Hill Dictionary yang dilansir dalam pakarkomunikasi.com bahwa media sosial adalah sarana satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.  Media sosial secara tidak langsung telah menciptakan interaksi sosial tanpa batas ruang dan waktu. Ruang personal yang awal lingkupnya begitu terbatas pada jarak yang nyata, kini hanya dipisahkan oleh sebuah layar pada computer atau handphone si pengguna. Dan waktu yang tak terbatas, kapanpun dan dimanapun pengguna media sosial dapat menonton, melihat, mendengar informasi apapun, bahkan dalam jangka waktu yang tak terbatas. Informasi itu sendiri tersedia dalam berbagai platform media seperti YouTube, Instagram, Line, Telegram, Twitter, WhatsApp dan masih banyak lagi.

Dengan adanya media sosial, pengguna media sosial dapat bertukar informasi dan membagikan informasi. Namun banyak juga dari pengguna yang menyalahgunakan media sosial dengan membagikan informasi yang mengandung kebencian, perseteruan, permusuhan antar dimana pelaku hanya mencari sensasi belaka. Penelitian dari UNESCO menyebutkan bahwa 4 dari 10 masyarakat di Indonesia aktif di media sosial seperti WhatsApp 2,9 juta, Facebook sebesar 3,3 juta dan media social lainnya.

Toleransi adalah sikap manusia untuk saling menghormati dan menghargai baik antar individu maupun antar kelompok. Sikap toleransi begitu dijunjung tinggi di Indonesia. Apalagi melihat toleransi adalah kunci perdamaian yang patut dijaga, mengingat Indonesia yang memiliki 6 agama dan banyak suku. Berbagai suku dan  budaya di setiap wilayah memiliki keragaman dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Serta perbedaan keyakinan, ras, warna kulit, menjadi ciri khas yang patut dibanggakan di kancah dunia. Toleransi akan mencegah terjadinya diskriminasi. Bentuk sosial yang akan menjaga keutuhan persaudaraan, tanpa memandang perbedaan.

Banyak pengguna media sosial yang menyalahgunakan akun mereka dengan mempublikasikan kontennya dengan merendahkan orang lain, atau memberi komentar yang tidak pantas pada postingan orang lain yang menimbulkan banyak orang beradu argumen dan saling menjelekkan dan tak sedikit pula yang menyerang simbol-simbol keagamaan dan perbedaan. Tak hanya itu, pengguna media sosial  banyak juga yang ceroboh dalam hal membagikan postingan, terlebih jika berbentuk artikel atau video.  Mereka tidak meneliti dahulu isi konten tersebut seperti apa, kebanyakan mereka hanya terpacu pada judul yang dicantumkan oleh orang yang mempublish konten tersebut.

Salah satu  cara untuk membangun toleransi adalah dengan dialog antar umat beragama. Dialog yang dimaksud disini memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar percakapan antara dua orang atau lebih. Dialog ini bisa diimplementasikan berbeda sesuai dengan karakter masyarakat yang disasar. Misalnya dialog mengenai dalil-dalil, akidah-akidah, atau tentang keagamaan lainnya. Hal ini hanya berbentuk dalam pengetahuan semata, bukan maksud lain.

Oleh karena itu, kita sebagai pengguna media sosial yang bijak, tidak mudah percaya dengan segala informasi  dan isu-isu yang beredar, kita meneliti dan menyaring terlebih dahulu. Kita juga harus berhati-hati dan tetap mengedepankan sopan santun jika ingin menanggapi konten orang lain. Apalagi berita hoax dan akun bodong yang masih marak terjadi dan beredar dimana-dimana.

Menanggapi hal ini, beberapa hal bisa kita lakukan ketika menerima sebuah berita. Hal pertama yaitu menelisik apaka berita itu benar? Jika tidak ata belum pasti benar, maka jangan di share atau disebarkan. Berdasarkan hadits yang berbunyi : “Barang siapa tergesa, akan salah”. (HR.Al-Hakim). Jika benar, langkah selanjutnya adalah memastikan apakah berita tersebut bermanfaat bagi orang lain atau tidak? Jika tidak, maka jangan di share atau disebarkan. “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, kataknlah kebaikan atau diamlah” (HR. Bukhar-Muslim).

Semoga kita termasuk dari pengguna media sosial yang bijak. Mari saling mengahargai dan menghormati, karena dengan begitu akan tercipta kedamaian. Salam Moderasi!

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *