Secara historis konsep pondok pesantren menurut sebagian besar peneliti memiiki keterkaitan istilah dengan funduq, yang dalam tradisi bahasa Arab berarti tempat menginap. Sedangkan santri lebih dikaitkan dengan konsep cantrik dalam tradisi bahasa Jawa (Hindu) yang berarti orang yang sedang berguru. Jadi secara konseptual pondok pesantren bisa dimaknai sebagai sebuah komplek padepokan (ada bilik santri, mushola/masjid, dan rumah kiai/Nyai) tempat para santri menempa diri dengan ilmu yang diharapkan bisa didapatkan dari seorang kiai, yang diyakini memiliki ilmu kebijaksanaan atau hikmah dalam bahasa Arab.

Dengan demikian figur kiai atau nyai selalu menjadi sentral dalam sejarah berdirinya sebuah pesantren. Konsep kiai dan nyai sendiri adalah konsep lokal yang mengarah pada satu makna bahwa seseorang atau sesuatu itu diyakini memiliki kelebihan (kesaktian) yang bersifat “mistis” atau spiritual, sehingga bisa memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat luas. Dari pemahaman lokal inilah masyarakat Nusantara terutama Jawa mengenal istilah kiai Slamet, Kiai Pleret, Nyai Roro Kidul, sampai gelar kiai dan nyai yang melekat pada tokoh “ulama” pesantren, seperti kiai Kasan Besari, Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Nyai Halimah, Nyai Khoiriyah, dan Nyai Juaesi.

Tradisi Akademik Pesantren

Mengacu pada proses sejarah dan perkembangan definisi konsep di atas maka pondok pesantren hakekatnya adalah tempat para santri secara mandiri menempa diri untuk menjadi pribadi yang berilmu. Proses awal pendidikan pesantren dimulai ketika seorang santri mendatangi kiai atau nyai yang dianggap memiliki ilmu (ilmu adalah cahaya karena itu akan mengundang orang lain atau subjek lain untuk mendatangi nya). Proses ini sama ketika para sahabat nabi yang datang dari luar kota Madinah ingin “mengaji” pada nabi. Mereka kemudian “menginap” di emper masjid Nabawi sambil menunggu nabi Muhammad menjelaskan Wahyu ilahi. Inilah konon menerut sebagian ulama kemudian dikenal sebagai kaum sufi. Dalam tradisi Islam di Jawa kita menyebutnya kaum santri. Jadi mereka hidup secara mandiri dan terkadang para sahabat dibantu kebutuhan hariannya oleh nabi dan para sahabat terdekat Nabi. Inilah Sunnah nabi yang kemudian ditiru para kiai dengan membantu menyediakan kebutuhan para santri. Karena santri yang datang semakin banyak, maka mereka mulai mendirikan bilik-bilik di sekitar rumah kiai atau mushola. Mushola adalah bangunan yang biasanya dibangun lebih dulu oleh para kiai sebagai tempat mengajar mengaji masyarakat sekitar wilayah itu sendiri atau yang dikenal dengan istilah “santri kalong”. Karena semakin masyhur maka mulailah datang santri mukim yang akhirnya mendorong berdiri nya sebuah masjid di pesantren.

Tradisi akademik pesantren ternyata dimulai dari kesadaran diri dari para santri untuk mengaji pada para kiai dan nyai. Bahkan istilah ngaji dalam bahasa Jawa menurut yang diajarkan bapak saya sewaktu kecil dimaknai dengan Ngalap Aji. Yakni mencari aji (nilai kemanfaatan dari jurus/ilmu) agar bisa dikuasai dan dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga bermanfaat untuk orang banyak. Tradisi lebih dahulu mengamalkan sebelum mengajarkan sebuah ilmu inilah yang dipraktekkan para kiai dan ulama Islam salaf (bukan salafi). Artinya kesadaran berilmu itu lebih kuat ditanamkan melalui proses keteladanan dibandingkan pengajaran. Inilah “tradisi hidup” nabi Muhammad yang diteladankan sejak beliau masih kecil. Karena kemuliaan akhlaknya inilah beliau sampai dijuluki Al Amin. Sehingga ketika umur 40 beliau ditasbihkan Allah sebagai Uswatun Hasanah, padahal beliau adalah seorang yang ummi (lugu atau sederhana dalam berwacana). Karena itulah pesantren sejak awal dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter muslim dengan contoh ideal ahlaqnya nabi yang hidupnya sederhana dan penuh kemuliaan hikmah.

Kesederhanaan pesantren yang juga direpresentasikan oleh kesederhanaan gaya hidup para kiai dan nyai adalah ciri kultur akademik yang mulai hilang akhir-akhir ini. Dahulu pesantren itu hampir semuanya menggratiskan biaya untuk santri. Bahkan para kiai dan nyai seringkali justru menyediakan kebutuhan sebagian santri yang benar-benar tidak mampu. Sementara yang lain mencukupi dirinya sendiri dengan bekal atau hasil kerja mereka membantu masyarakat sekitar pesantren. Dalam hal proses transmisi keilmuan juga sangat unik, para santri lebih mantab memulainya dengan “riyadho” agar ilmu yang didapat dari pesantren benar-benar bersih dari kepentingan pribadi atau haddun nafsi (yang bersifat duniawi). Baru kemudian memantapkan diri dengan mengikuti pengajian secara tekun pada kiai dan nyai. Intensitas interaksi para santri dengan kiai dan nyai yang sangat tinggi sehingga membuat para santri mengenal secara pribadi gaya hidup sederhana kiai dan nyai juga menjadi keunikan tradisi akademik pesantren. Para pengamat menyebut dengan sangat keliru dengan istilah patronase. Padahal sejak awal tidak ada eksploitasi yang dilakukan para kiai kepada santri.

Bisnis “Sekolah” Pesantren

Namun konsep ini mulai menemukan konteknya ketika Orde Baru berkuasa dan melakikan represi politik secara tidak langsung kepada pesantren. Regim dengan rekayasa sosial budaya dan politiknya atas nama pembangunan, mulai menyebabkan sektor pertanian hancur sebagai penopang ekonomi rakyat. Para kiai yang kebanyakan berprofesi sebagai petani kecil, mulai tidak mampu membiayai pesantren nya secara mandiri. Akibatnya pesantren mulai berubah menjadi “sekolah” untuk dijadikan ladang baru sebagai penunjang keberlanjutan pesantren. Pesantren akhirnya berubah menjadi aset ekonomi untuk menggantikan “sawah” para kiai yang mulai menurun “produksinya”, sehingga menggoyahkan ekonomi para kiai. Bagi keluarga besar kiai memang tidak ada pilihan lain kecuali harus membuka sekolah dan asrama “”pesantren” khusus untuk bertahan. Karena untuk masuk bergabung dalam barisan regim orba (meski sangat menjanjikan karena otomatis akan didukung regim orba) juga sangat beresiko, karena masyarakat akan dengan sangat cepat menganggap pesantren atau kiai dan nyai tidak Istiqomah dan qonaah lagi. Padahal aspek itulah yang membuat pesantren begitu kuat bertahan hingga saat ini.

Di sisi lain perubahan zaman telah merubah wajah sebagian pesantren menjadi lebih “modern”, sehingga membutuhkan biaya operasional yang semakin besar. Karena itulah kemudian mulailah santri dikenakan biaya “layanan penuh” (mulai makan sampai cuci setrika baju), karena sudah jarang anak zaman sekarang yang memiliki keahlian bertahan hidup secara mandiri penuh. Apalagi standar hidup sehat di masyarakat juga semkain tinggi. Sehingga pesantren juga mulai menata ulang sesuai kehendak masyarakat. Saya sendiri pada akhir 1991 sampai awal 1992, pernah sebentar menikmati kesederhanaan pesantren salaf Ploso Kediri. Sebelum akhirnya keluar dan meneruskan kuliah. Saat itu sudah ada perintisan asrama queen untuk “santri kota” yang ingin mondok tapi tidak harus “susah”. Alhamdulillah saat itu saya juga kena giliran “ro’an” untuk membantu mengecor gedung asramanya.

Pada tahun 1990-an memang sudah sangat banyak pondok pesantren salaf yang mulai mengadopsi model pendidikan modern atau paling tidak menggabungkan dua sistem akademik yakni antara sistem salaf tradisional dan klasikal modern. Proses inilah yang kemudian menjadi pintu masuknya “kapitalisasi pendidikan” di lingkungan pesantren. Jumlah santri yang sangat banyak dan beragam tuntutan dari orangtuanya santri yang punya beragama latar belakang juga menjadi faktor utama pendukung perubahan tersebut. Belum lagi pola persaingan dengan lembaga pendidikan formal modern (boarding school) dan pesantren modern yang juga berubah menjadi pilihan “bisnis pendidikan” yang sangat menjanjikan. Maka mulailah sebagain pesantren terbawa arus perubahan.

Sekarang ini kita bisa menemukan dengan sangat mudah di kota ataupun di desa, pesantren yang mengembangkan sekolah modern unggulan. Akibatnya biaya santri yang ingin mondok sekaligus sekolah menjadi sangat mahal. Bahkan biaya itu kadang tak terjangkau oleh kebanyakan kaum santri klas bawah. Namun fenomena ini begitu disukai masyarakat menengah atas dan menjadi kebanggaan kiainya, sehingga ditawarkan kesana kemari agar mendapatkan dukungan penguasa. Akhirnya bisnis “pesantren” akan menjadi ancaman paling serius dari “memudarnya” tradisi akademik pesantren yang “genuin” dan begitu efektif membangun karakter ummat atau santri.

Namun demikian sampai sekarang kita masih bisa menemukan pesantren yang bertahan dengan “keunikannya” yang lama. Sidogiri salah satu diantara pesantren besar yang terus bertahan dengan tradisi akademik unggulan Nusantara ini. Di samping itu kolaborasi beberapa “kiai” dan pesantrennya untuk mendirikan Ma’had Aly yang merupakan “klas khusus kader ulama”, menjadi harapan pesantren tidak akan hilang dalam waktu dekat. Akhirnya benar sekali peringatan Allah yang tersirat dan tersurat dalam Al Qur’an bahwa musuh terberat kita adalah diri sendiri. Karena itu pesantren sendirilah yang harus menjaga dirinya sendiri agar tidak hanyut dalam arus kapitalisasi pendidikan. #SeriPaijo

Tawangsari, 09-09-2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *