Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, sejak dahulu sudah mempunyai tradisi Baladuman dan Balatupan di bulan Ramadan yang bahan dan peralatannya mereka ambil dari sumber lingkungan mereka sendiri, tidak berbiaya mahal, apalagi sampai disebut sebagai membakar duit yang terkesan sebagai perbuatan mubazir dan berpoya-poya dari orang kaya dan berpunya.

Baladuman merupakan kegiatan yang mengeluarkan bunyi ledakan besar yang menggema cukup jauh berupa bunyi Dum..Dum atau Gum…Gum yang keluar dari Batang Bambu dan Barang Kelapa yang minyak tanah (minyak gas) atau karbit yang kemudian disulut api di lubang kecil  yang sengaja dibuat di bagian belakangnya. Sedangkan Balatupan kegiatan yang mengeluarkan bunyi ledakan kecil tidak menggema terlalu jauh berupa bunyi Tum…Tum atau Tup…Tup yang keluar dari Petrum pelang atau jari-jari ban Sepeda atau Beca yang sudah dikreasi menjadi pistolan, senapanan, geranatan dan catukan mini atau hanya dari kayu Ulin yang dilobangi kemudian diisi dengan sendawa korek api dengan sedikit robekan kertas pembakarnya, lalu lubang itu diberi paku lantas dipukul atau dibenturkan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *