Kisah ini bukan menceritakan “kehebatan” istri saya atas ritusnya. Tapi lebih wujud “kejengkelan” yang dilandasi kasih sayang kepada istri. Saya yakin, amalan yang dilakukan istri saya juga biasa dilakukan oleh anda yang membaca tulisan ini.
Istriku ini memang hobi tahajud. Selama tidak ada uzur, biasanya dia akan bangun jam 1.30 malam lalu tahajud dan jelang subuh tidur sebentar selanjutnya jamaah subuh dan nanti sholat Dhuha. Apalagi saat Ramadhan.
Kalau bulan Ramadhan, dia ada tradisi tiap malam tahajudan di Masjid Tambakberas selama tidak ada udzur.
Kebetulan jelang Ramadhan lalu, istriku ke Malang dengan saya, lalu dia ada acara di Surabaya, selanjutnya ke Nganjuk untuk 100 hari familiku. Sepulang dari Nganjuk, istirahat satu hari lalu bersama beberapa keluarga Tambakberas pergi ke Solo.
Nah sepulangnya dari Solo sangat mungkin kecentok makanan plus akumulasi capek, akhirnya asam lambung kumat. Sebelumnya malah sampai pernah rawat inap di RS. Juga awal korona dulu ke RS tapi tidak mau rawat inap. Kesemuanya asam lambung.
Karena kumat pada awal Ramadhan, tentu perlakuan seperti sebelumnya saya gunakan. Cara herbal, pijat refleksi maupun kompres air panas. Selama tiga hari lumayan berkurang.
Eh dia langsung ngimami santri putri lagi, duduk wiridan lama dan malah minta izin karena malam Jumat mau ke masjid. Setelah itu asam lambungnya kumat lagi.
Sambil saya pijitin, saya berkata, “Kenapa sih kok ngoyo beribadah begitu? Kalau pisik sedang dirasa tidak fit ya tidak perlu ke Masjid dan tidak usah tahajud. Lha sudah saya gantikan ke masjidnya gitu kok. Jangan-jangan Gusti Pengeranmu itu ala yang dipahami Wahabi. Yakni harus begini, kalau tidak, maka ancaman di akherat menanti. Wahabi kan model “bertuhannya” kaku, saklek begitu.”
Alhamdulillah istri sembuh. Dan setelah itu dia izin ke masjid lagi.
***
Saya kemarin menjenguk seorang kiai yang juga dosen. Beliau sakit karena salah satunya kurang istirahat banyak kegiatan. Kadung janjian dengan umat untuk acara masyarakat dan ritual keagamaan. Sehingga walau badannya tidak fit, tetap mendatangi umatnya. Tapi akhirnya pisiknya kalah dan menjadi sakit.
Tentu saya menghibur beliau sambil saya pijeti dan berkata agar jangan memaksakan diri saat pisik mulai kelelahan. Eh beliau malah berkata bahwa janjian dengan umatnya ini sudah mereka minta 4 tahun lalu dan baru bisa dipenuhi saat ini. Maka saya kisahkan kepada beliau apa yang dilakukan istri dan juga saya sampaikan Tuhan ala Wahabi.
Catatan: jangan punya persepsi saya mengentengkan amalan ibadah ataupun mengentengkan masalah istiqomah dan menepati janji lho.

No responses yet