Orang itu ya macem-macem, mbah. Ada yang kecukupan tapi bahagia, ada yang kelihatan kurang tapi jiwanya merdeka, ada yang kaya tapi gak bisa menikmati, ada yang miskin tapi nelangsa.
Yang paling enak mana? Ya pokoknya yang melegakan jiwa. Entah miskin atau kaya, kalo jiwanya merdeka, senang menerima jatah dan berdamai dengan keadaan, ya enak-enak aja.
Untuk bisa punya jiwa yang merdeka, step pertama itu memang kudu menundukkan akal, bahwa semua keadaan itu udah jatah dari Gusti Allah. Kita gak usah mikir terlalu muluk gimana bisa merubah keadaan dunia kita. Mikir ya sekedarnya saja, sejangkauan kita dan semampunya kita. Gak usah ngimpi atau berangan-angan muluk yang justru bikin berat hidup kita.
Kerjaan kita udah banyak, ibadah kita udah banyak, personaliti (akhlaq) diri sendiri yang harus diperbaiki juga masih banyak, itu semua aja udah cukup jadi beban hidup kita. Gak usah ditambah beban yang lain.
Kalo akal udah tunduk pada qudroh Gusti Allah, tinggal kita setting ego (amarah) dan keinginan (syahwat) diri untuk menyesuaikan keadaan yg udah jadi jatah kita dari Gusti Allah. Jadi, PR kita udah banyak.
Nah, agar bisa menundukkan akal, kita kudu mengerti dan memahami Qudroh Gusti Allah. Ada hukum Gusti Allah yang udah jadi adat kebiasaan (sunnatullah) dan ada kalanya Gusti Allah berbuat di luar kebiasaan. Atau istilahnya sifat jaiz Gusti Allah. Itu semua harus bisa kita terima sebagai realita.
Bahwa ternyata, segala sesuatu di jagat raya ini, gak mesti terjadi sesuai perhitungan matematis manusia. Ada kalanya perhitungan matematis itu benar, ada kalanya salah. Karena ternyata semua tergantung faktor pokok, sesuai qudroh Gusti Allah atau tidak. Kalo sesuai ya terjadi, kalo gak ya gak bakal terjadi.
Di sinilah akal harus diletakkan. Mindset kita harus gak boleh yakin 100%, biar gak kecewa. Perhitungan kita itu sebenernya cuma 90% dan ada 10% yang jadi faktor penting. 10% itu justru sangat berkuasa, bisa membalik semua rencana 180 derajat dan membuyarkan semua yang 90% tadi. Yaitu Qudroh Gusti Allah.
Makanya, masyhur dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
الدنيا ملعونة ملعون ما فيها، إلا ما كان الله تعالى منها
“Dunia itu rusak dan semua yg di dalamnya terlaknat, kecuali dunia yang di dalamnya dibarengi Nama Gusti Allah”
Sebagai penutup bab, Imam Ghozali dawuh
وأنه المتفرد بالخلق والاتراع، المتوحد بالإيجاد والإبداع، خلق الخلق وأعمالهم، وقدر أرزاقهم واجالهم، لا يشذ عن قبضته مقدور، ولا يعزب عن قدرته تصاريف الأمور، لا تحصى مقدوراته ولا تتناهى معلوماته
“Dan sesungguhnya Gusti Allah itu Maha Absolut dalam segala penciptaan, baik pada makhluk yang sudah ada dan makhluk yang belum pernah ada. Dialah satu-satunya Sang Pelaku yang pertama kali mewujudkan dan memulai sesuatu. Gusti Allah sendiri yang menciptakan makhluk dan segala perilaku makhluk, Yang menjatah rizki makhluk dan menentukan kematian makhluk. Pengaturan-Nya tidak bergantung pada kemauan makhluk, dan segala perubahan di alam raya ini tidak lepas dari kehendak-Nya. Tidak bisa terkira bagaimana pengaturan-Nya dan tidak dapat terelakkan ketetapan-Nya”

No responses yet