Jama’ah : “Jo sejak beberapa tahun ini ada kebiasaan baru masyarakat sosmed menggunakan twibo untuk bermacam tujuan. Padahal kalau dilihat-lihat itu seperti iklan kematian dikoran-koran cetak masa lalu. Jadi hanya horang kaya yang bisa melakukan hal itu. Tapi sekarang dengan android hampir semua orang yang bisa melakukan iklan itu dengan muda. Apa ini ada hubungan dengan kematian massal karena Corona Jo?”
Paijo : “Ha ha ha pikiran sampeyan horor terus kang, semua kok dicurigai kayak si ustadz yang jualan kiamat saja. Terkadang emang inspirasi bisa datang dari manapun, saya tidak tahu si kreator twibbo dapat ide dari mana. Tetapi bingkai foto virtual itu memang sudah dikenal di berbagai platform Medsos sudah relatif lama. Namun sekarang ini karena digunakan untuk branding diri, kelompok, dan organisasi, maka jadi lebih memiliki ikatan emosi dengan si pengunggah. Jadi tidak ada kaitannya dengan kematian massal akibat Corona. Satu-satunya hubungan adalah sampeyan terlalu sering dengar berita Corona jadi pikiran dan imajinasi akang selalu terkait Corona. Sampai-sampai aplikasi hiburan dikaitkan dengan wabah.”
Jama’ah : “Tapi serius lho Jo pikiranku jadi serem setelah melihat teman-teman dan kerabat pada pakai twibo. Kayak otomatis terhubung dengan kalimat innalilahi wainnailaihi rojiiun, yang juga banyak berseliweran di berandaku. Apalagi sejak wabah Corona ini melanda dunia.”
Paijo : “Ok kang tapi jangan terlalu serius gitu ah. Kalau aku mikirnya soal namanya itu lho kenapa kok twibbo. Kenapa kok nggak pakai Tibo saja. Sebab dalam bahasa Jawa tibo itu artinya jatuh, kalau twibbo itu jatuhnya parah sekali. Mending tibo saja meski jatuh tapi sakitnya nggak segitu parah. Tapi kalau twibbo pakai “tasdid” itu seperti nyungsep di aspal berlubang kang.”
Jama’ah : “Telo kamu ini Jo, saya serius kok kamu malah guyon.”

No responses yet