Kasus tertembaknya anggota FPI, UAS berkomentar tiga poin. Poin kedua dan ketiga bisa diterima. Poin pertama yang perlu didedah. Poin pertama berisi bahwa dalam ajaran Islam, membunuh satu orang sama saja dengan membunuh semua orang. Kemudian, membunuh orang beriman maka balasannya adalah neraka jahanam.

https://nasional.okezone.com/read/2020/12/08/337/2323668/6-laskar-fpi-ditembak-mati-uas-membunuh-orang-beriman-balasannya-neraka-jahanam

Bagaimana menyikapi statemen UAS pada poin pertama di atas?

A. UAS benar bila sekedar dikaitkan dengan adanya isi Alquran tentang pembunuhan secara umum tanpa dikaitkan dengan kasus saat ini.

B. UAS tidak tepat  atau bisa juga disebut  “bener tapi ora pener” alias benar tapi tidak tepat dan kurang bijak karena:

1. Bisa memberi persepsi ataupun framing kepada pembaca bahwa aparat salah dan jahannam balasannya karena fakta yang terbunuh adalah anggota FPI. 

2. Kenapa UAS diam tidak berdalil  atas kasus lain yang sebelumnya telah terjadi di NKRI seperti pembunuhan 5 polisi secara sadis di Mako Brimob

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1034862-wakapolri-sebut-terjadi-pembunuhan-sadis-di-mako-brimob. UAS juga diam atas pembunuhan keji di Sigi oleh kelompok teroris Ali Kalora https://www.dw.com/id/fakta-fakta-kejinya-pembunuhan-di-sigi-pimpinan-ali-kalora/a-55767437

3. Dalam konteks penegakan hukum, seharusnya bicaranya hukum yang berlaku di NKRI yang Pancasila sebagai dasar bernegara, dimana nilai agama terserap di situ. Kalau merasa ada kejanggalan tentu ada proses atau mekanisme hukum yang berlaku.  Poin kedua dari komentar UAS bisa diterima dalam konteks ini.

4. Di negara yang mendeklarasikan sebagai negara Islam seperti Arab Saudi, Iran dan lainnya acuannya juga hukum yang  telah diformulasikan dalam undang-undangnya bukan dengan memasukkan ancaman neraka jahannam.

5. Hal yang menarik saat konflik Suriah pecah, UAS sama sekali tidak bicara neraka jahannam,  padahal saat itu, bahkan hingga saat ini sesama muslim bertempur dan saling membunuh. UAS malah cenderung membela pemberontak dengan  mengatakan bahwa  konflik Suriah adalah murni peperangan antara Aswaja dengan rezim Syiah Nushairiyyah.

UAS juga mengatakan bahwa Bashar Al-Assad telah membunuhi kaum Muslimin secara masif baik laki-laki maupun wanita, orang tua, orang muda, dan anak-anak. Dengan kata lain, ia telah menghalalkan darah kaum Muslimin. Kekejaman Bashar Al-Assad terhadap kaum Muslimin sama seperti kekejaman Komunis Soviet

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/03/08/137420/sikap-tegas-ustadz-somad-terhadap-tragedi-suriah.html.

Kalau UAS mengatakan konflik Suriah adalah sektarian, tapi warga Damaskus sendiri menolaknya

https://m.cnnindonesia.com/internasional/20160524140433-120-133099/warga-damaskus-bantah-isu-sektarian-picu-konflik-suriah.

Kenapa UAS cawe-cawe nun jauh di sana, di Timur Tengah dengan cawe-cawe yang berbeda dari pendapat ulama top di Suriah seperti Syaikh Al Buthi yang  jelas sikapnya terhadap pemberontak. Untuk tahu masalah konflik Suriah baca tulisan alumni Suriah ini https://news.detik.com/kolom/d-4191038/radikalisme-antara-suriah-dan-indonesia

***

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *