oleh: Danyputra
Dikurun waktu belakangan dibantu sedikit pengalaman beberapa tahun terakhir, saya cukup banyak membahas tentang trilogi gerakan politis yang tengah berupaya mengembangkan pemikiran-pemikirannya di Indonesia. Menarik mengkaji kedalaman mengenai kelompok-kelompok terstempel ‘radikal’. Disebut demikian bukan sebab memiliki pandangan menyeluruh dan berakar (radix), melainkan sisi sikap mereka yang berlebihan dalam mengekspresikan suatu ajaran agama (Islam), bahkan satu diantaranya, yakni klan Takfiri melegalkan darah meskipun terhadap sesama muslim, apalagi terbukti menjadi penolong penguasa-penguasa ‘thaghut’ seperti TNI dan Polri. Maka itu tidak heran jika serangkaian aksi teror acapkali menyasar aparat penegak hukum.
Kemudian bagaimana dengan Wahabi dan Tahriri? Kendati tidak seberbahaya Takfiri namun pola dakwah mereka memiliki potensi memicu konflik horizontal. Agar tidak menuduh, saya telah menerima laporan, cerita, melakukan wawancara, terjun langsung ke masyarakat, beragam informasi verifikatif saya tampung, berisikan keluhan warga atas perlakuan saudaranya terhadap mereka setelah berhijrah ke kedua aliran politis tersebut.
Misalnya di kampung saya, terdapat dua saudara kandung yang terdampak sebagai korban dakwah Wahabi, saat kakak kandungnya meninggal, mereka menolak untuk melakukan tahlilan, sementara mereka tinggal di pedesaan kecil dengan kondisi tidak ada rukhshah (keringanan) untuk tidak menghadiri kenduri kematian. Akhirnya, pertengkaran antar keluarga tak dapat dihindari.
Di tempat berbeda, saya mendengar curhatan salah seorang tokoh, mirip kasus pertama diatas, terdapat seorang pengikut Wahabiyah, ketika orangtuanya wafat, menolak untuk dibacakan surah Yasin di kediamannya. Padahal warga sudah berbondong-bondong menuju rumah duka, dan menolong proses penguburan dari awal hingga akhir. Tidak kuasa memperpanjang perkara, masyarakat dan tokoh adat memilih mengalah.
Kasus ketiga, ini seakan mengonfirmasi efek dakwah Ustadz Yazid Jawas dan Ustadz Khalid Basalamah tentang larangan sungkeman dengan kedua orangtua. Sebelum video ceramah itu viral, saya sudah memeroleh kabar di sebuah kampung, sempat anak kecil saat hari raya idul fitri tidak mau bersalaman kepada Ibu-Bapak, bahkan kakeknya. Bocah imut berusia 6-7 tahun itu menyebutkan alasannya karena tidak dilakukan oleh Nabi SAW, sebagaimana diajari Ustadzahnya di sekolah.
Lalu terkait kelompok Tahriri, berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, pergerakan mereka sedikit lebih rapi dari Wahabi. Dalam bahasa media kerap disebut terstruktur, sistematis, dan massif. Kelompok pendamba doktrin ‘khilafahisme’ ini sangat pandai mendekati tokoh agama, tokoh politik, hingga militer untuk mendukung ideologi mereka. Cerita nyata ketika sebuah Pondok Pesantren di Pasuruan digerebek, terindikasi menyebarkan paham ‘keras’, dan berhasil memengaruhi seorang Kyai. Framing mereka cukup canggih misalnya untuk menggaet Ulama2 tradisional yang umumnya terafiliasi ke NU, mereka mengadakan semacam seminar, pertemuan Ulama Aswaja.
Di dalam forum, umumnya mereka menyampaikan keburukan-keburukan pemerintah dan memprovokasi Kyai-Kyai yang tidak terlibat secara struktural. Mereka mencoba mengkotak-kotakkan antara pengurus struktural dan kultural menggunakan kacamata Hitam-Putih. Pihak yang masuk ke dalam sistem dikatakan berada di jalan yang salah, sementara pihak diluar sistem dikatakan sebagai kembali ke khittah KH. Hasyim Asy’ari, padahal jika melacak ke kitab-kitabnya langsung, mereka justru mengkritik akidah yang dipahami oleh Asy’ariah dan Al Maturidiyah, menempatkan diri berposisi berbeda dari keduanya.
Selain itu, kelompok ini juga telah memperdaya seorang Da’i ternama, sampai2 menyebabkan hidup sang Ustadz ‘berantakan’.
Secara garis besar, kelompok tahriri tidak merisak amalan-amalan, ataupun adat-istiadat masyarakat, mereka lebih kepada ‘mendakwahi’ umat untuk ‘berjuang’ bersama, mendukung usaha politis mereka dalam rangka menumbangkan kekuasaan yang ada, melakukan ekspansi, agitasi walau harus mengkudeta. Data mengenai jejak hitam ini sangat berlimpah di jejaring sosial.
Melihat realitas ini, saya tidak bermaksud menggeneralisasi perilaku oknum untuk menghakimi suatu kelompok atau organisasi. Akan tetapi saya sedikit melakukan pengamatan yang bertujuan untuk mengambil kesimpulan singkat, yakni apakah trilogi pemikiran (Wahabi-Tahriri,Takfiri) memang benar-benar memberikan ancaman bagi kebhinekaan atau tidak.
Selain itu, saya juga berusaha memberikan jawaban pertanyaan seorang sahabat apakah ujug-ujug meletakkan cap radikal terhadap sesama muslim dapat dibenarkan, sementara terdapat ayat Al-Qur’an surah Al Fath ayat 29:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُم
“Muhammad itu adalah utusan Allah
dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”
Untuk menjelaskan makna ayat tersebut, saya perlu merujuk kepada pendapat ulama, yakni Imam Al-Alusi dalam tafsir Ruhul Ma’ani yang menyebutkan bahwa firman Allah dalam QS Al-Fath:29 erat kaitannya dengan situasi perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu, Rasulullah SAW dan Sahabat hendak menunaikan haji di Makkah namun rombongan beliau dihadang oleh orang kafir, sehingga ayat ini menjadi ‘penghibur’ dari Allah agar umat Islam tetap tegas kepada kafirin dan tetap berpegang teguh berjuang melaksanakan ibadah rukun Islam keenam.
Dengan demikian dapat dipahami, perspektif saya yang mengamati wahabi, tahriri, dan takfiri tidak bisa dikatakan sebagai sikap keras antar sesama muslim, namun berkasih sayang kepada orang non-muslim. Q.S Al-Fath:29 sering disalahartikan sebagai bentuk permusuhan, seolah menjadi kewajiban asas bagi setiap muslim untuk tetap berprasangka baik, memaklumi akan sikap saudaranya, meskipun terbukti melakukan kerusakan, namun harus menaruh curiga terhadap orang-orang kafir, meskipun mereka bersedia hidup berdampingan dalam keragaman dan kedamaian.
#peace

No responses yet