Wonosobo terletak di daerah pegunungan muda dengan lembah yang curam dan dengan ketinggian lokasi antara 250-2.250 M DPL (di atas permukaan laut). Secara geografis, kabupaten yang terletak antara 7°.11′.20″-7°.36′.24″ garis LS (Lintang Selatan), serta 109°.44′.08″-110°.04′.32″ garis BT (Bujur) ini memiliki luas wilayah 98.448 Ha (984,68 KM2) yang terletak di bebatuan prakwaker. Kabupaten ini juga berada pada rentang 250-2.250 DPL dengan dominasi pada rentang 500-1.000 DPL sebesar 50% dari seluruh areal, menjadikan ciri dataran tinggi sebagai wilayah Wonosobo dengan posisi spasial berada di tengah-tengah Pulau Jawa dan berada di antara jalur Pantai Utara dan jalur Pantai Selatan. 

Curah hujan di Wonosobo sangat signifikan sepanjang tahun. Bahkan pada musim kemarau terkering masih memiliki banyak curah hujan. Suhu udara rata-rata pada siang hari 24-30 ºC dan pada malam harinya turun menjadi 20 ºC, namun pada bulan Juli-Agustus turun menjadi 12-15 ºC pada malam hari dan 15-20º C di siang hari. Rata-rata suhu tahunan di Wonosobo adalah 22.3 °C, dan dalam setahun, curah hujan rata-rata 3572 MM.  Berdasarkan data dari Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Wonosobo, per Desember 2019, jumlah penduduk Wonosobo adalah 790,491 jiwa terdiri dari 400,599 (50,68%) laki-laki, dan 389,892 (49,82%) perempuan. 

Menurut para ahli, Wonosobo berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, yakni wana dan saba. Wana berarti sawah, alas atau hutan. Sedang saba berarti dikunjungi. Konfigurasi dari dua makna itu dapat dipahami bahwa Wonosobo berarti wana kang disaba, yang berarti “hutan yang sering dikunjungi.”  Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari bahasa Sanskerta, yaitu wanua yang berarti desa dan sabha yang berarti besar. Secara etimologi, Wonosobo adalah wanua besar atau desa besar yang kedudukannya sebagai tempat pertemuan para raja dalam upacara pendarmaan.  Bahasa Jawa Wonosobo juga dapat diambil dari Bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai bagian dari judul dua buku dari epos Mahabarata, yaitu Sabhaparwa danWanaparwa.  

Menurut Kusnin Asa, wilayah Wonosobo, Banjarnegara, dan sekitarnya pada zaman kuno merupakan wilayah Mataram Kuno, Dinasti Sanjaya maupun Syailendra.  Kira-kira 600 M, Ratu Sanjaya menaklukkan atau mendirikan kerajaan di wilayah Bagelen. Berita Wonosobo yang merupakan bagian dari wilayah Bagelen dapat dilihat dalam studi H.J de Graaf yang dibuat oleh A.J Vander yang menyatakan bahwa Bagelen merupakan tanah perdikan Majapahit. Wilayah ini mendapat otonomi yang sangat luas karena letaknya yang jauh dari pusat kerajaan. 

Satu abad kemudian, Keraton Kerajaan Sanjaya dipindah ke Wonosobo. Wilayah tersebut berbentuk segitiga, tempat yang sekarang dikenal dengan Ledok (Wonosobo) merupakan pojok paling utara dari Bagelen, basisnya Pantai Selatan, dan puncaknya Gunung Prahu (Dieng), dengan sungai utama Watukura (Bogowonto) yang mengalir dari lereng Sumbing.  Kerajaan Mataram Kuno telah mampu menundukkan daerah Wonosobo dengan mendirikan komplek candi Dieng. Dari sinilah kemudian tidak mengherankan jika A. Kholiq Arief dan Otto Sokatman menyebut Wonosobo sebagai mata air peradaban. 

Keberadaan candi-candi tertua di Indonesia yang terdapat di dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari peradaban Nusantara. Dataran Tinggi Dieng atau daerah sekitar Wonosobo pada umumnya mulai dikenal orang dalam pelataran sejarah, pertama lewat cerita mistis migrasi Sang Hyang Jagadnata (orang-orang Siwa dari India) ke Tanah Jawa. Migrasi itu berhubungan dengan mitos perpindahan gunung atau Kahyangan para dewa dari gunung Meru di Jambudwipa (India) ke Tanah Jawa. Sebagaimana tertuang dalam kitab Tantu Panggelaran, yang merupakan buku petunjuk pertapaan-pertapaan Hindu di Tanah Jawa. 

Dalam cerita massif dari Serat Paniti Sastra Kawi, Serat Paramyoga, Serat Pustaka Raja Purwa, Serat Miladuniren, dan Serat Juz al-Gubet juga disebutkan mengenai pertapaan Aji Saka, Raja Medang Kamulan dan penemu aksara Jawa, di Pegunungan Dieng (Ardi Hyang), yang sebelumnya telah diurabi (diberkahi) oleh Sang Hyang Jagadnata, sebagai pingkaling-ganing buwana (poros dunia). 

Sejarah juga mencatat, bahwa wangsa-wangsa Jawa awal (abad ke-I M) muncul di sekitar Dieng (Wonosobo), yaitu Kerajaan Kalingga yang kemudian melahirkan tokoh legendaris Ratu Shima, serta wangsa Mataram Kuno (Sanjaya-Syailendra). Sumber informasi dari Serat Kandha menyebutkan bahwa pada masa Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, lokasi Keraton Mataram kuno terletak di wilayah yang sekarang jadi pasar Wonosobo, yang sebelum masa itu, Keraton Mataram terletak di pegunungan Dieng. Mataram kuno mencapai puncak kejayaannya pada masa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, menyusul terjadinya Mahapralaya (prahara bumi Jawa) pada tahun 928 Saka (1006 M), kemudian pusat kekuasaannya dipindah ke Lembah Kali Brantas oleh Empu Sendok (w. 947 M).

Menurut Otto Sukatno dalam Dieng Poros Dunia (2003), Wangsa-wangsa Jawa Timuran, yang memuncak pada kebesaran Kerajaan Majapahit, secara genealogis, juga merupakan garis langsung dari Wangsa Mataram Kuno.  Demikian pula, Kesultanan Demak, Pajang, Mataram Islam, hingga Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, juga merupakan bagian dari mata rantai historis dari Mataram Kuno, yang berpusat di Dieng. Bahkan untuk Mataram Islam, diyakini muncul dari geneologi Ki Ageng Wonosobo.

Pada era selanjutnya, dengan melemahnya pengaruh kekuatan besar Majapahit pada abad ke-XV, wilayah Wonosobo (Ledok dan Gowong) kemudian berada dalam pengawasan Bagelen (Pagelen) yang menjadi bawahan Kasultanan Demak, di bawah Raden Patah atau Panembahan Jimbun atau Sultan Syah Alam AKbar (1455-1518) yang berhasil mengalahkan Girindra Wardhana pada tahun 1478 M, serta memperluas kekuasaan dan penyebaran Islam di berbagai wilayah, melalui para wali yang diutusnya.

Saat Raden Patah wafat pada tahun 1518, pemerintahannya dilanjutkan oleh anaknya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1480-1521). Pati Unus yang bernama asli Raden Abdul Qadir bin Yunus ini kemudian bergelar Sultan Alam Akbar ats-Tsaniy. Ia merupakan seorang panglima perang yang terkenal dan ahli strategi yang ditakuti oleh Portugis. Di bawah pemerintahan Pati Unus yang memegang prinsip dan wawasan nusantara ini, Kerajaan Demak diproyeksikan sebagai kerajaan maritime terkuat. Hal itu ditandai dengan besarnya armada laut Kerajaan Demak yang menjadi kekuasaannya.

Pada tahun 1521 M, Pati Unus gugur saat akan menyerang Portugis di Malaka. Kekuasaannya kemudian dilanjutkan adiknya, yaitu Sultan Trenggono (1483-1546 M), bergelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Pada masa Sultan Trenggono ini Demak berada pada puncak keemasan. Ia berhasil menghalau Portugis dari Sunda Kelapa, setelah merebutnya dari Kerajaan Padjajaran. Ia juga berhasil menaklukkan beberapa wilayah, seperti Tuban, Surabaya dan Pasuruan (ketiganya ditaklukkan tahun 1527 M), Madiun (tahun 1529 M), Malang dan Blambangan (tahun 1545).

Pada era keemasan Demak ini, proses islamisasi dilakukan secara masif dan menyeluruh. Kerajaan Islam Demak semakin kuat dan berkembang. Daerah Bagelen dan sekitarnya berhasil dipengaruhi oleh para wali dalam rangka penyebaran agama Islam.  Pada masa inilah, agama Islam mulai masuk dan berkembang di Wonosobo. 

Saat itu, Demak sudah menjadi pusat perkembangan Islam yang baru timbul.  Selanjutnya mereka mulai menyebarkannya ke berbagai daerah, hingga Bagelen. Islamisasi sebelah Timur Sungai Lukula dilakukan oleh Sunan Geseng. Sebelah Barat dilakukan oleh seorang ulama bernama Syekh Baridin, sebelah Barat Banyumas dilakukan oleh Bupati dan para ulama, salah satunya ialah Makduwali atas perintah Sultan Demak. 

Ki Cakrajaya (Sunan Geseng) merupakan murid Sunan Kalijaga. Ia berasal dari Desa Bedug Bagelen dan merupakan petani penderes nira (kelapa) yang hidup miskin bersama anak dan istrinya. Meski melarat, ia kuat dalam tirakat dan tapabrata, hingga akhirnya ia menjadi orang sakti. 

Babad Demak Pesisiran menggambarkan peranan Ki Cakrajaya dalam tembang Dhandanggula,

“Tanah Bagelen wijile kang jalmi// Cakrajaya nderes karyanira// desa Bhedug ing dukuhe// tan wonten rowangipun// among garwa myang anak siji// jalu wanci jejaka// meski kelangkung// wisma celak lawan wana// pakaryane nderes klapa mung sauwit// matenge pendak pasar// Datan darbe// karya malih-malih// pan mung nderes setangkep sepasar// tan mangan-mangan liyane// mung nrima lawan turu// yen wis nderes nembang sawengi// kongsi prapteng raina// lagon// ning nong ning nung// lamun kendel srah kang murba// sepradene jiwane mentas kelimis// labete anarira.” 

Naskah Babad Demak Pesisiran juga mengisahkan pertemuan antara Cakrajaya dengan Sunan Kalijaga yang diuraikan dalam tembang Dhandhanggula berikut,

“Pan cinoba mring Jeng Sunan Kali// Nujwa nembang winulang parikan// klimah loro parikane// Cakrajaya miturut// aparikan kalimah kalih// enjang nggen nitis gula// pan dadi mas sepuh// mung setangkep katharira// Cakrajaya anjumbul kasmaran ngelmi// lajwarsa puruhita.”

Terjemah bebas: 

“Sunan Kalijaga memberikan pengajaran kepada Cakrajaya, berwujud dua tembang parikan. Cakrajaya menerima dua kalimat parikan tersebut yang akhirnya menggugah hati Cakrajaya untuk menuntut ilmu lebih dalam pada Sunan Kalijaga. Demikian, akhirnya, Cakrajaya menjadi murid Sunan Kalijaga.”

Pada tahun 1755, tepatnya setelah terjadinya perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 M, menyebabkan wilayah Mataram terbagi menjadi dua, yaitu Kasultanan dan Kasunanan. Kesepakatan antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), pihak Mataram (diwakili oleh Sunan Pakubuwana III), dan kelompok Pangeran Mangkubumi ini juga menjadikan kawasan Bagelen terbelah menjadi dua bagian dari kedua kerajaan tersebut. Dalam Babad Purworejo disebutkan,

“Seusai perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 M. tlatah Bagelen atau Pagelen merupakan daerah provinsi yang ada di bawah kekuasaan dua negari, yaitu sebagain wilayahnya masuk dalam Kasunanan Surokarto Hadiningrat, sedangkan sebagian yang lain termasuk dalam lingkungan Negara Agung Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat.” 

Menelisik perjanjian tersebut, maka wilayah Ledok dan Gowong berada dalam lingkungan Negara Agung Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Demikianlah arti penting dari kenyataan bahwa Wonosobo senyatanya dapat kita baca sebagai sumber mata air genealogis historisitas Tanah Jawa atau Nusantara pada umumnya. []

Bersambung……

Nantikan sambungannya dalam Manaqib Walisaba (segera terbit, Insya Allah).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *