Oleh : Mohamad Saraffudin Kusein (Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang)
Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai seorang pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak atas kepemimpinannya. Seseorang memimpin tidaklah harus sebuah negara maupun sebuah wilayah, melainkan juga memimpin dirinya sendiri. Dalam sebuah Naskah kuno atau manuskrip dari Perpusnas yang berjudul Kitab Tauhid dan Wasiat Nabi dengan nomor ID katalog 638659 ditulis dengan tinta berwarna hitam dan merah (pada beberapa kata) menggunakan bahasa arab dan jawa pegon (makna gandul). Belum diketahui siapa pengarang atau penulis dari kitab ini, namun kitab ini merupakan sumbangan dari KH. Abdurrahman Wahid atau gusdur kepada Perpusnas yang dapat kita ketahui dengan melihat kode panggilnya. Kondisi fisik masih terbilang cukup baik dengan 36 halaman yang berukuran 20 x 29 cm, pada setiap halamannya terdiri dari 7 baris teks dengan ukuran blok teks 13 x 18,5 cm.
Kitab ini dipublikasikan dengan bentuk digital PDF pada tanggal 6 September 2009 yang berada di rak koleksi Naskah Kuno dengan kode panggil AW100. Tidak terdapat iluminasi yang menghiasi baik di awal maupun di akhir cover dan halaman. Namun beberapa teks awalan pembahasan seperti amma (adapun) ditulis dengan gaya khot yang indah.
Dalam naskah tersebut membahas ketauhidan dan pesan-pesan tau wasiat. Pada halaman 29 terdapat penggalan pesan dalam teks tersebut mengharuskan seorang as-sulthan (ratu) diartikan sebagai seorang pemimpin yang mempunyai dua pilihan yakni membangun dengan jalan dan tujuan yang baik dan benar atau memilih jalan yang buruk untuk menuju Allah swt. Jalan yang buruk yaitu membangun agar orang menjadi kufur dan melakukan kemaksiatan, sedang jalan yang baik adalah sebaliknya. Pemimpin bertanggung jawab atas segala isi di dalamnya.
Adapun ratu membangun kepada kebaikan
ataupun keburukan kepada allah taala yakni membangun
bersama orang kafir atau kemaksiatan atau kebaikan …
Dari teks tersebut nampak bahwa seorang ratu atau kita artikan sebagai pemimpin seharusnya mengarahkan apa yang ia pimpin ke jalan yang benar menuju Allah swt dengan jalan wilayah atau kekuasaannya. Hal tersebut juga hampir senada dengan maksud sebuah hadits kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyatihi (setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinanya). Oleh karena itu hal yang terpenting dari sebuah makna pemimpin ialah menuntun kearah jalan yang baik dan benar kepada Allah SWT.
Dalam kutipan teks naskah menutut pendapat yang paling masyhur (al-jumhur) berpendapat bahwa siapa yang meninggalkan pemimpin maka orang tersebut telah menentang dan menyimpang dengan hukum dunia seperti hamba dan tuannya, sedangkan hukum akhirat ialah dirinya sendiri disisi Allah swt. Dari sini kita tahu bahwa seseorang yang meninggalkan seorang pemimpin yang diibaratkan sebagai seorang abdi maka ia termasuk kedalam orang yang menentang serta menyimpang dari aturan, dan yang ia dapat adalah hukuman didunia yakni antara abdi dan tuannya, sedangkan hukuman akhirat ialah dirinya dengan Tuhan.
Makna abdi jika kita artikan dalam konteks sekarang adalah rakyat atau seorang pemimpin (abdi negara) yang terikat dengan aturan yang ada serta harus menaati segala aturan tersebut agar tidak termasuk kedalam gologan yang menentang dan menyimpang. Orang yang membangkang (bughat) /menentang terdapat 2 macam yakni menentang secara dhohir (fisik) dan batin (hati). Menentang dengan batin lebih diutamakan daripada menentang secara dhohir.
Pesan yang dapat kita ambil dari penggalan teks tersebut ialah bahwa seseorang harus dapat memimpin dirinya sendiri dalam hal apapun dengan jalan yang benar serta bertannggung jawab atas segala yang dilakukan baik didunia maupun diakhirat kelak. Karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya dihari perhitungan kelak. Ikutilah pemimpinmu selagi ia masih berada dijalan yang benar dan jangan ikuti ketika berada dijalan yang tidak benar.

No responses yet