“You have to treat others, as you want to be treated by others.” (Kamu harus memperlakukan orang lain, sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh orang lain juga).
Sikap ini adalah salah satu hal yg bisa dipegang atau menjadi tumpuan ketika kita berhubungan dgn orang lain, baik itu dalam lingkup keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari2. Misalnya menyapa, mengucapkan terima kasih, atau sekedar memberikan senyum, merupakan beberapa hal kecil yg dapat kita lakukan terhadap orang lain.
Mungkin bagi beberapa orang, hal tsb dianggap sepele atau tidak penting. Tapi pernahkah teman2 memikirkan efek apa yg bisa ditimbulkan dgn melakukan itu ? Salah satunya adalah mereka akan merasa diterima dan dihargai keberadaannya. Tidak ada manusia yg ingin dibenci ataupun menerima penolakan oleh orang lain.
Kebanyakan orang menganggap bahwa ‘kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan’.
Dan kebanyakan dari mereka menggunakan contoh “Kalau kamu ingin dihargai, maka kamu harus menghargai orang lain; Kalau kamu ingin dihormati, maka kamu harus menghormati orang lain.”
Itu benar, tapi hanya sebagian benar.
Menghargai dan menghormati orang lain itu adalah sebuah etika dasar yg seharusnya wajib dilakukan oleh semua orang, terlepas apakah lawan bicaranya juga berlaku sama kepadamu. Kamu bisa saja berlaku sangat sopan, dan lawan bicaramu tidak bersikap sopan kepadamu. Atau sebaliknya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
“Barangsiapa yg ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga dan kematian mendatanginya dalam kondisi dia beriman kepada allah ta’ala dan hari akhir, maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dgn sikap yg ingin dia dapatkan dari orang lain.” (HR. Imam Muslim dan Imam An-Nasai rahimahumallah)
Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam Nawawi rahimahullah (Oktober 1233 M – 10 Desember 1277 M, Nawa, Suriah), menjelaskan tentang hadits ini, “Hadits ini termasuk jawami’ul kalim (kata2 yg singkat dan padat namun mengandung makna yg luas, – pen) yg ada pada diri Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, termuat banyak hikmah di dalamnya. Ini adalah kaedah yg penting yg seharusnya menjadi perhatian khusus. Hendaknya manusia mengharuskan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu kepada orang lain kecuali jika ia menyukai hal tsb diberlakukan untuk dirinya.” (kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim)
Dalam kitab Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, karya Syaikh Abul Barakat Badaruddin Muhammad Al-Ghazi rahimahullah (ulama yg hidup antara tahun 904 – 984 H / 1498 – 1576 M), mengutip beberapa maqolah ulama sbg berikut :
Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi Asy-Syafi’i atau Imam Al-Hakim An-Naisaburi rahimahullah (321 – 495 H / 933 – 1014 M Naisabur Iran) berkata : “Ketulusan dalam hal bergaul dgn makhluk, adalah engkau senang apabila mereka memperlakukanmu, sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”
Abu Bakr Syu’bah bin Ayyasy bin Salim al-Hannats al-Asadi an-Nahsyali al-Kufi atau Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy rahimahullah (wafat 193 H / 809 M di Kufah Iraq) mengatakan, “Raihlah keutamaan dgn cara engkau mengutamakan orang lain. Sesungguhnya, manusia memperlakukan dirimu sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”
Sayyidina Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu Anhu (wafat 3 November 644 M, Madinah) berkata, “Ada tiga hal yg akan membuat kecintaan saudaramu kepadamu menjadi tulus : engkau mengucapkan salam ketika bertemu dengannya, melapangkan majelis untuknya, dan memanggilnya dgn nama yg paling disenanginya.”
Semoga bermanfaat
Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet