Setiap orang pasti punya masa lalu. Ada yang memiliki masa lalu yang baik dan menyenangkan. Ada pula yang memiliki masa lalu yang buruk dan menyesakkan dada.
Masa lalu yang telah kita lewati biarlah menjadi catatan sejarah kehidupan kita. Jika masa lalu kita berisi kebaikan, kenangan indah, jadikanlah sebagai motivasi untuk meraih lebih banyak kebaikan dan kenangan indah di masa yang akan datang, bukan malah larut dalam romantisme sejarah yang melenakan dan meninabobokan. Sebaliknya, jika masa lalu kita dipenuhi dengan catatan kelam yang berisi kegetiran hidup, jadikanlah sebagai pelecut semangat agar kita dapat mengukir sejarah masa depan dengan tinta emas.
Yang lalu biarlah berlalu. Tak perlu dibangga-banggakan segala prestasi yang pernah kita raih, kejayaan yang pernah kita gapai, kesuksesan yang pernah kita capai. Pun tak perlu disesali kegetiran hidup yang pernah kita alami, keterpurukan yang pernah kita rasakan, kegagalan yang pernah kita jumpai.
Jalani saja hidup kita saat ini. Nikmati setiap proses kehidupan ini dengan sepenuh hati. Nikmati setiap langkah yang kita ayunkan, rasakan setiap hembusan nafas kita, perhatikan setiap waktu yang kita lewati. Hidup kita yang sesungguhnya adalah hari ini, bukan kemarin yang telah berlalu atau esok yang belum pasti.
Demikian juga halnya sikap kita terhadap orang-orang di sekitar kita; saudara, sahabat, rekan kerja, kawan sepergaulan dan siapa saja yang ada di sekitar kehidupan kita. Abaikan masa lalu mereka, lihatlah keadaan mereka saat ini. Tak perlu menghakimi mereka dengan masa lalu kelamnya. Pun tak usah menaburkan sanjung puji kepada mereka atas prestasi masa lalunya. Biarkan mereka menikmati hidupnya saat ini.
Yang lalu biarlah berlalu. Rasulullah Saw. pernah marah besar kepada seorang sahabat yang membunuh orang kafir dalam sebuah peperangan. Padahal, sebelum dibunuh ia sempat mengucapkan kalimat tauhid: “la ilaha illallah…”. Alasan sahabat tersebut adalah karena dia menganggap ucapan orang kafir itu untuk melindungi dirinya agar tidak dibunuh. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa kita tidak berhak menghakimi seseorang atas apa yang terbesit di hatinya, kita hanya bisa melihat apa yang tampak secara zahir. Dengan demikian, tidak ada alasan dan tidak ada hak bagi kita untuk menilai isi hati seseorang. Hanya Allahlah yang Mahatahu.
Inilah sikap yang harus kita jaga dalam pergaulan sehari-hari. Tidak perlu mengungkit apalagi mempertanyakan masa lalu seseorang. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana sikap dan perilakunya saat ini. Kalaupun kemudian kita mendengar cerita masa lalu orang tersebut sangat hitam kelam, kita tetap harus berbaik sangka (husnuzhan) semoga saat ini dia bisa berubah menjadi lebih baik. Adalah tugas kita untuk bisa mengajak dan mengarahkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
So, yang lalu biarlah berlalu…
* Ruang Inspirasi, Selasa, 23 Maret 2021

No responses yet