Tentang seorang remaja yang matanya berkaca, dadanya sesak melihat dagangan bapaknya utuh dibawa pulang— membayang tentang esok hari yang berat dan tahun depan yang makin muram tidak jelas.

*^^^^*

Cerita ini saya dapatkan dari anakku yang mulai belajar hidup— mempertahankan yang ia punya bersaing dengan realitas yang pahit. Sebuah kehidupan yang dihamparkan Tuhan kepada semua makhluk pada bumi luas-Nya. 

Pada etape di mana manusia seperti ‘gabah di interi’. Berebut bersaing, bahkan saling meniadakan satu sama lain. Pada kang Sedjo yang berbulan-bulan menyiapkan terompet bersama isterinya yang mulai pikun dimakan usia. Pada tukang cilok yang direndahkan dengan berita-berita buruk. Pada tukang dan rombong bakso yang masih sesak dengan dagangan yang tidak laku. Pada anak-anak dan isteri yang setia menunggu di rumah dengan penuh harap tentang makan besuk pagi. 

Pada sebagain orang, hidup itu keras bahkan sangat. Pada sebagain yang lain hidup itu datar mengalir ketemu yang landai dan baik-baik saja. Pada orang-orang suci yang duduk di kursi dan shofa berkerumun sambil berfatwa. Memandang dunia dari kejauhan langit. 

*^^^^*

Memahami kehidupan dan realitas itu penting sebelum mengatakan ini baik itu buruk ini dosa ini haram dan seterusnya. Sudah cukup sesal ketika banyak orang menderita susah akibat kebijakan yang diputus tanpa pertimbangan masak. Pikiran bening dan perspektif luas.

Salah satu kurban kekerasan sosial itu adalah Kang Sedjo penjual terompet musiman, ia adalah orang yang tegar, ulet dan biasa berjibaku dengan banyak aturan dan regulasi— berkejar-kejaran dengan Satpol PP, bahkan adu siasat dengan fatwa ulama. Ia hanya hendak mencari celah untuk mengisi sebagian perutnya. Tidak banyak dan bukan untuk disimpan seperti para koruptor. Ia hanya butuh sesuap yang dibagi rata bersama keluarga. 

Kang Sedjo adalah prototype tentang seorang yang kehilangan peluang. Yang ditinggalkan karena tak cukup punya akses. Keberadaannya tidak dibutuhkan. Namanya tak pernah tercatat dan tak diundang dalam pelbagai jamuan.  Ia hadir hanya sebagai pelengkap dan memerankan kesusahan dan kesengsaraan yang dibebankan. Kerumunan orang banyak seperti kang Sedjo inilah yang diperjuangkan Karl Marx penganjur komunis dalam sebuah kitab bernama Das Capital yang dilarang karena ditakuti para penguasa korup dan borju rakus. 

*^^^^*

Saya hanya hendak berkata, bahwa disetiap momen selalu terkirim rahmat — dengan cara itu Tuhan memberi rizki kepada sebagian makhluk-Nya. Ada yang harus berdiam di rumah, kokoh berkata tahun baru itu ritual pagan. Tapi ada sebagian yang lain mendapatkan rizkinya dari situ. Sampai disini saya tak mampu bernasehat, biarlah ‘kang tawakal’ dan ‘kang sabar’ yang menjawab, ia lebih tahu tentang kehidupan — 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *