Setelah menghadiri 100 hari famili di Pace, Nganjuk yang katanya terkena korona, kami nginap di Tuko Prambon. Lalu pada Sabtu malam, saya ke kiai di pondok yang penuh aura mistis, Mbah Jad untuk mengambil pentashihan redaksi doa. Bagi yang belum tahu Mbah Jad, silakan baca beberapa tulisan saya di sini:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=897931044337654&id=100023623007183

Beliau mengulang lagi masalah pentingnya khataman dan istighosah yang perlu dilakukan para pemangku kuasa agar tidak bingung berlarut larut. Mbah Jad juga menyinggung tentang vaksin halal-haram (saya tidak perlu mengungkapkan pendapat beliau). 

Tadi malam saya heran ke Mbah Jad yang “anti” televisi dan HP (bahkan HP bagi pribadi beliau sama dengan nutul syetan) tapi ternyata beliau tahu berita tentang vaksin. Saya bertanya, “Mbah, Panjenengan  ternyata tahu perkembangan?” 

Sambil tersenyum beliau berkata, “Etok-etoke ngono  (seakan-akan begitu). Tapi kalau korona, saya sama sekali tidak ikuti.”  

Saya tidak akan menuliskan pendapat beliau tentang korona, silakan sowan sendiri. Hal yang pasti, pengajian dan situasi pondok tiada beda antara saat korona dan saat sebelum korona.

Mbah Jad hanya fokus kasihan rakyat kecil yang jualannya dibatasi. Kata beliau, “Kalau jualan dibatasi, terus anak-anaknya bagaimana?”

Mbah Jad yang saat mondok di Lirboyo termasuk santri awal yang berambut panjang lalu diikuti -kata beliau- oleh Gus Idris dan Gus Ma’shum ini selalu merendah dalam masalah mengaji. Beliau mengatakan kalau mengaji memakai kitab-kitab tipis saja. Karena beliau saat mondok di Lirboyo disuruh kiainya untuk mengajari santri-santri dan tidak boleh keluar jauh untuk mengaji kepada kiai lain.

Beralih ke sholawat. Kiai yang sangat ketat masalah fiqih ini termasuk pengamal kuat sholawat. Setiap selesai sholat lima waktu membaca 500 kali. Lalu pada malam harinya bersama santrinya membaca minimal 20 ribu kali, kadang 30 ribu, kadang 40 ribu kadang 50 ribu. Ramadhan lalu banyak masyarakat yang datang ke musholla Mbah Jad pada malam hari, sehingga membaca sholawat sampai 125 ribu kali.

Sambil “guyon” beliau berkata kenapa memperbanyak sholawat? Karena nanti sesuai dengan hadis:

أكثركم أزواجا يوم القيامة، أكثركم صلاة علي فى الدنيا

Saya tidak fokus meneliti eksistensi hadis itu dari aspek ilmu hadis. Saya malah tertarik  dengan kelanjutan ucapan “guyon” Mbah Jad,  “Kalau baca sholawat banyak, maka akan mendapatkan  banyak bidadari. Di dunia saya  tidak menikah tidak apa-apa, nanti si akherat akan banyak mendapat bidadari.”

Tentu saya yakin Mbah Jad yang memang sampai usia 86 tahun membujang ini saat  bersholawat ada tujuan lain yang tidak kalah penting yakni untuk mendoakan umat. 

Mbah Jad termasuk manusia  “langit’ yang wingit  yang dibutuhkan umat dan menyayangi umat. 

***

Khat (tulisan) Mbah Jad yang bagus sekali plus isi pesan yang bagus. Tentu kami saat memfotonya meminta izin beliau. Jangan tanya kok boleh  memfotonya? Ya tergantung beliau.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *