Tadarrus Surat an-Nisa’ Ayat: 77
بسم الله الرحمن الرحيم
ألم تر إلى الذين قيل لهم كفوا أيديكم وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة فلما كتب عليهم القتال إذا فريق منهم يخشون الناس كخشية الله او أشد خشية وقالوا ربنا لم كتبت علينا القتال لولا أخرتنا إلى أجل قريب قل متاع الدنيا قليل والآخرة خير لمن اتقى ولا تضلمون فتيلا (٧٧)
Apakah Anda tidak renungkan dengan bijak?
Orang-orang yang diinformasikan kepada mereka untuk menahan tanggannya tak ikut berjuang dan berjihad, namun tetap menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Ketika mereka diwajibkan untuk berjihad tiba tiba sebagian golongan yang munafik merasa takut kepada manusia -musuh- seperti takutnya kepada Allah bahkan melebihi dari itu. Seraya mereka berucap Ya Allah kenapa Diwajibkan jihad itu kepada kami, mengapa tidak Engkau tunda saja beberapa waktu ke depan? Katakan wahai Muhammad kepada mereka! Kesenangan dan kenikmatan dunia itu hanya secuil sementara akhirat itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa dan kalian tak akan terzhalimi sedikitpun.
Ayat ini menjelaskan tentang TUJUH hal:
Pertama: Pertanyaan untuk pembelajaran dan perenungan. (ألم تر)
Ayat yang dimulai dengan pertanyaan Alam Tara biasa menunjukkan sesuatu yang diluar kebiasaan manusia, sesuatu yang menunjukkan hal yang sangat penting atau juga sangat berbahaya dan merugikan banyak orang. Lihat ayat al-Fil diawali dengan alam Tara dan banyak lagi yang menjelaskan tentang hal-hal yang penting untuk dipelajari, direnungkan.
Ayat ini memang menjelaskan tentang tipologi manusia yang ada dalam tiga kategori:
- Orang yang beriman aktif – orang yang beriman dengan penuh kepatuhan terhadap perintah apapun baik perintah shalat, Zakat bahkan perintah Jihad / perang.
Orang yang beriman aktif inilah yang diapresiasi oleh Allah dengan ganjaran pahala syurga dan keredhaan Allah swt. - Mukmin orang yang beriman Pasif. Orang yang hanya menunggu perintah yang bisa menyenangkan atau masih ada tawar menawar atas perintah itu.
Inilah orang yang bisa disebut orang yang beriman pasif. - Orang yang munafiq yang abai terhadap perintah Allah, berpura-pura taat kepada Allah terhadap perintah yang ringan-ringan namun jika ada perintah yang berat seperti Jihad, mereka protes kepada Allah agar diundur atau ditangguhkan. Inilah makna ayat di atas secara tipologi.
Kedua: Perintah Shalat dan Zakat
Perintah shalat dan zakat adalah dua perintah yang selalu disebut berbarengan karena keduanya menjelaskan dwi fungsi sekaligus Fungsi kesalehan personal dan Kesalehan Sosial. Dicap kafir oleh Allah jika tidak menjalankan keduanya dengan bersama-sama jika dalam kolidor mampu.
Perintah shalat dan zakat merupakan perintah yang sering dilalaikan oleh orang munafik.
Ketiga: Perintah Jihad Fi sabilillah
Jihad fi sabillah adalah wujud ketaatan lahir bathin, ketaatan jasmani dan rohani. Ketaatan yang mengedepankan nyawa sebagai taruhannya.
Jihad sebagai medium penguatan keimanan dan keikhlasan kepada Allah. Betapa banyak yang gagal ketaatannya kepada Allah karena sebab tak ada ketaatannya untuk berjihad.
Jihad fi sabilillah sebagai upaya mengembangkan kemajuan agama dan bangsa dalam segala dimensi kehidupan kemanusiaan.
Keempat: Khasyatullah vs Khastayunnas
(خشية الله ضد خشية الناس)
Ayat ini sesungguhnya menegaskan tentang takut kepada Allah jauh lebih penting dari segalanya. Sebab muara ketakwaan itu adalah rasa takut kepada Allah karena rahman-rahim Allah atas segala karunia yang sangat berharga diberikan kepada manusia. Maka rasa takut kepada Allah mendorong untuk memicu semangat keimanan dan keikhlasan mereka.
Kelima: Kesenangan Dunia Secuil
(متاع الدنيا قليل)
Kenikmatan duniawi sebatas lewat dari tenggorokan maka nikmat duniawi ini tak perlu diburu buru sampai mengalahkan urusan ukhrawi.
Keenam: Kebahagian Akhirat yang paling utama.
والآخرة خير لمن اتقى
Ketujuh: Tak Ada Kezaliman Hak sedikitpun bagi mereka yang beriman dan bertaqwa.
ولا يظلمون فتيلا.

No responses yet