Peran dan fungsi Masjid dalam sejarah ummat Islam sangat dinamis dan menarik untuk dikaji. Kurang lebih 13 tahun masa kenabian, ummat Islam menghabiskan waktu “sujud” mereka di rumah ibadah tertua (Masjidil Haram) “bersama” dengan orang kafir qurais. Sulit untuk dibayangkan bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabat bisa dengan sabar “bersujud” di sekitar 360 patung berhala yang memenuhi pelataran Ka’bah, untuk menegaskan kesaksian ketauhidan tidak ada Tuhan selain Allah. Angka 360 juga aneh, benar atau tidak yang ditulis para sejarawan tersebut, paling tidak ini mewakili sebuah gambaran bahwa begitu banyaknya berhala, sehingga 360 derajat putaran Ka’bah tidak satupun yang benar-benar terbebas dari penampakan berhala. Padahal Islam hadir dengan misi mengembalikan persaksian manusia pada satu Tuhan yakni Allah SWT.
13 tahun Nabi Muhammad bersama para sahabat pengikutnya hidup dalam fitnah (ujian yang penuh kekerasan psikologis dan fisik) yang sangat berat demi mempertahankan kalimat tauhid “La Ilaha Illa Allah”. Apalagi diikuti dengan persaksian terhadap kenabian Muhammad S.A.W, yang membuat para pembesar Quraisy semakin iri dan dengki kepada sosok Nabi. Puncak dari fitnah yang sudah mulai mengancam jiwa Nabi dan para sahabatnya, menjadi salah satu sebab dari turunnya perintah Allah untuk berhijrah. Jadi sejarah hijrah dalam Islam terjadi karena motivasi menyelamatkan ummat Islam yang terancam tidak bisa melanjutkan ritual penghambaan mereka pada Allah SWT. Bukan sekedar motif ekonomi yang banyak dilakukan orang akhir-akhir ini. Walaupun berhijrah karena motif ekonomi bukan merupakan hal yang “terlarang” dalam Islam. Karena konon sebagian sahabat juga melakukan hal itu, seperti Abu Sufyan yang banyak diceritakan dalam riwayat tarikh Fathul Makkah.
Peristiwa penting pertama setelah nabi hijrah ke Madinah (kota yang lebih “berperadaban” ketimbang Makkah saat itu), adalah perintah “pembangunan” masjid Madinah (Nabawi). Karena masjid adalah simbol tempat bersujud manusia terhadap Penciptanya. Menariknya arah kiblat yang dituju bukan lagi tanah Haram dimana Ka’bah berada. Tetapi ke Masjidil Aqsha di Syam. Pilihan ini sangat menarik secara teologis, antropologis ataupun sosiologis. Secara teologis “trauma” kekerasan yang dialami ummat Islam karena lebih memilih menyembah Allah dari pada menyembah patung-patung berhala yang banyak di pelataran Ka’bah, akan relatif berkurang jika mereka untuk sementara tidak menghadap ke arah Ka’bah. Secara antropologis mengarahkan kiblat ke Palestina atau ke tanah Syam, akan mengingatkan kembali bahwa nabi Muhammad (orang Arab Makkah) memiliki garis genealogi ke Bangsa “Syam” yakni nabi Ibrahim. Sedangkan secara sosiologis, masyarakat Madinah yang plural dan cukup banyak penganut agama “Ibrani” nya yang juga berkiblat ke Masjidil Aqsha, menjadi relatif “toleran” terhadap ummat Islam. Meskipun akhirnya ketika Islam sudah cukup kuat, arah kiblat dikembalikan lagi ke Ka’bah atau tanah Haram Makkah Al Mukarromah.
Masjid Nabawi segera berkembang menjadi pusat aktivitas ritual spiritual, sosial, politik, budaya dan ekonomi bukan hanya bagi ummat Islam, tetapi juga berdampak pada seluruh warga kota Madinah yang lain. Tidak sampai 10 tahun ummat Islam membangun peradabannya di Madinah, mereka sudah menjelma menjadi kekuatan sosial ekonomi dan politik yang sangat besar. Bahkan membuat kelompok masyarakat lainnya harus “tunduk” dalam payung piagam Madinah yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Kesuksesan ini tidak terlepas dari fungsi Masjid yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat sujud dalam makna yang sempit yakni ritual sholat semata. Nabi Muhammad saat itu juga menjadikan masjid sebagai Madrasah, “kantor” tempat mengatur strategi dakwahnya, sekaligus tempat “menginap” para sahabat yang datang dari luar Madinah yang ingin belajar Islam. Artinya masjid Nabawii juga berfungsi sebagai “pesantren” tempat para sahabat “mondok” dan mengaji pada Nabi Muhammad S.A.W. Dari masjid inilah nabi kemudian mengirimkan para utusan atau sahabatnya yang telah “lulus” untuk menyebarkan Islam ke luar kota Madinah.
Selain sebagai “pesantren”, masjid Nabawi juga menjadi “kantor” tempat Nabi mengatur dan mengelola Baitul mal atau dana ummat untuk kepentingan “dakwah dan kesejahteraan serta kemakmuran” ummat Islam. Nabi tidak mementingkan satu aspek dari aspek yang lainnya. Semua sektor pengembangan ummat beliau perhatikan mulai dari bantuan sosial untuk anak yatim, orang miskin dan muallaf. Biaya dakwah sampai peperangan, serta biaya operasional Masjid sendiri. Bahkan nabi selalu mengingatkan agar lebih memperhatikan penguatan “keyakinan keimanan”, beriringan dengan perbaikan (ahlaq) aspek sosial ekonomi ummat ketimbang kemewahan bangunan masjid. Jadi nilai peradaban Islam itu dibangun dengan pondasi ketauhidan yang diekspresikan dengan akhlaq yang merahmati semua pihak tanpa kecuali.
Namun perkembangan masjid di akhir zaman semakin jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Saat ini masjid menjadi begitu eksklusif dan hanya fokus pada “dirinya” sendiri. Masjid sekarang jauh lebih sibuk mengurus tampilan fisik agar lebih terlihat bagus dan mewah. Masjid mulai meninggalkan agenda kegiatan utamanya sebagai madrasah, sebagai “baitul mal” yang menjaga “kesejahteraan dan kemakmuran” masyarakat dalam arti sosial, budaya dan ekonomi. Bahkan keadaan masjid lebih menyedihkan lagi di saat-saat pesta politik di gelar. Karena tiba-tiba sebagian masjid berubah menjadi “kantor partai politik”, tempat mereka berkampanye dan meyebarkan fitnah politik dari atas mimbar Khotib. Bukan hanya itu sebagian masjid yang dikelola oleh kelompok yang anti NKRI, dimanfaatkan sebagai tempat penyelenggaraan doktrin anti Pancasila dan menyebarkan kebencian terhadap pemerintah yang sah. Masjid “eksklusif” mulai banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia. Alih-alih mengurusi dan menjaga ketauhidan ummat, masjid-masjid ini dijadikan tempat mengekploitasi ummat untuk kepentingan kelompok mereka masing-masing. Inilah bentuk “bid’ah” dan “kesyirikan” baru yang mengancam ketauhidan ummat, yang justru muncul dari masjid yang seharusnya menjadi jantung dari proses kebangkitan Peradaban Islam yang Rahmatan Lil aalamin. Wallahu alam #SeriPaijo

No responses yet