“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. Al-A’raf: 175)

Ketika menjelaskan ayat ke-175 dari surat al-A’raf ini, Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni dalam Shafwat al-Tafasir mengutip pendapat Ibn ‘Abbas r.a., bahwa yang dimaksud dengan orang yang telah diberi ayat-ayat Allah kemudian melepaskannya, sehingga disertai setan dan akhirnya tergoda adalah Bal’am bin Ba’ura.

Sejumlah ulama tafsir seperti Ibn Katsir dan Fakhruddin Ar-Razi, menegaskan bahwa Bal’am bin Ba’ura adalah seorang ulama’ yang juga Wali Allah dari kalangan Bani Israil yang hidup di zaman Nabi Musa a.s. yang sangat mustajab doanya. Dia termasuk salah seorang yang diberi ilmu tentang Ismul A’zham (Nama Allah Yang Paling Agung).

Menurut Ibn Mas’ud, Bal’am bin Ba’ura adalah seorang alim dan abid (ahli ibadah) dari Bani Israil yang diutus oleh Nabi Musa a.s. untuk menyampaikan dakwah, menyerukan ajaran tauhid kepada raja Madyan. Namun ketika bertemu dengan raja Madyan tersebut, sang Raja justru memberinya berbagai fasilitas berupa harta serta jabatan yang tinggi, dengan catatan dia mau meninggalkan ajaran Nabi Musa.

Bal’am bin Bau’ra ternyata tidak tahan dengan godaan duniawi tersebut, sehingga kahirnya menerima tawaran serta pemberian raja Madyan tersebut dan meninggalkan ajaran Nabi Musa a.s. Hingga ia pun menjadi sesat.

Kisah tentang Bal’am bin Ba’ura ini hendaknya menjadi peringatan bagi kita semua. Betapa godaan nafsu duniawi seringkali melenakan manusia. Tidak terkecuali mereka yang diberi anugerah oleh Allah Swt. berupa ilmu pengetahuan.

Seorang alim, yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi, bahkan mungkin juga seorang abid yang ahli ibadah, tidak menjadi jaminan bahwa dia akan tahan terhadap godaan dunia.

Indahnya rupa dunia bisa berbentuk kelimpahan materi, jabatan yang tinggi, popularitas yang menjulang, bahkan bisa berupa sosok perempuan cantik nan mempesona. Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa tingginya kualitas intelektual serta tingginya frekwensi ibadah yang dilakukan seseorang tidak menjadi jaminan bahwa dia dapat tahan terhadap godaan nafsu duniawi. Hanya keimanan serta ketakwaan yang menghunjam kuat di dalam lubuk hati seseoranglah yang mampu menghalau semua godaan tersebut.

Dalam rangkaian ayat di atas dijelaskan bahwa setelah Allah Swt. memberikan ilmu pengetahuan, yaitu pemahaman tentang ayat-ayat Allah kepada seseorang, kemudian orang tersebut melepaskan diri dari ayat-ayat Allah itu. Ash-Shabuni menafsirkan bahwa kata melepaskan diri (insalakha) itu seperti halnya ular yang melepaskan diri dari kulitnya, yang dalam istilah Jawa sering disebut dengan nglungsumi.

Orang yang melepaskan diri dari ayat-ayat Allah atau meninggalkannya setelah sebelumnya dia memahaminya, demi memenuhi keinginan nafsunya, maka digambarkan oleh rangkaian ayat selanjutnya seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya setiap saat. Sungguh sangat buruk perumpamaan orang-orang yang demikian itu. Naudzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, dalam ayat lain disebutkan bahwa ilmu yang dimiliki seseorang harus didasari dengan keimanan yang kuat. Ilmu yang dilandasi keimanan akan menjadikan seseorang memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah. Sedangkan ilmu tanpa dilandasi keimanan hanya akan membawa malapetaka dan bencana.

  • Ruang Inspirasi, Rabu, 16 September 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *