“In an intellectual time frame, Copernicus and Einstein represent the extreme boundaries of modern paradigm, with Descartes and Newton as medians. But, of course, as with many extremes, Copernicus and Einstein also represent the bridges between paradigm, one with pre-modern the other with postmodern”
[William Doll dalam A Post-modern Perspective on Curriculum]
Seputar Judul dan Tujuan Tulisan
Terma quantum akhir-akhir ini sering disalahgunakan. Seolah dengan melabelinya, karya tertentu menjadi sangat menarik isinya dengan menawarkan sebuah kata asing yang cukup menggugah pembaca. Namun, dalam tulisan ini, saya berusaha menghindarinya. Quantum paling tidak berimplikasi pada dua pemaknaan; pertama, ia mengilustrasikan sebuah konsep dalam fisika yang berhubungan dengan energi elektromagnetik atau sebuah teori yang berdasar pada ide bahwa energi tersimpan dalam unit yang tak bisa dipecah lagi. Dalam ilmu kalam klasik, ia disebut jauhar fard. Kedua, ia menggambarkan perubahan yang cukup tiba-tiba dan menggelegar, atau perkembangan suatu teori ke arah yang sangat penting dan tak disangka sebelumnya.[1] Implikasi terakhir berhubungan dengan penggunaannya dalam bahasa.
Dua implikasi ini sama-sama masuk dalam tulisan ini karena; pertama, saya berusaha meminjam teori-teori fisika quantum sebagai tawaran reformasi sistem pendidikan nasional—dengan perubahan ruang aplikasi tentunya. Kedua, karena saya meminjam teori quantum, agaknya isi tulisan ini, saya harap, memberikan kontribusi yang signifikan dalam perubahan kurikulum nasional, dan tentunya, terkadang cukup tiba-tiba dan tak disangka. Semoga.
Tulisan kali ini akan saya paparkan dalam dua tema besar: teori dan aplikasi. Dalam sub teori, akan saya paparkan seputar konsepsi-konsepi quantum dalam fisika untuk kemudian saya rubah medannya ke dalam teori kurikulum pendidikan. Sedang dalam sub aplikasi, akan saya ejawantahkan teori-teori itu langsung ke dalam aplikasi teori, tepatnya, dalam tubuh kurikulum nasional. Marilah kita sejenak berselancar ide ke relung-relung konsepsi seputar teori quantum, tepat dari ruang ia dicetuskan.
Fisika Quantum; Puncak Reformasi Paradigma seputar Kosmologi
Hasrat begitu besar memahami alam semesta yang rumit ini mendorong Democritus (460-370 SM.) untuk meyakini bahwa di alam ini terdapat bagian terkecil yang tak berubah dan tak bisa dipecah lagi. Ia menyebutnya atom. “A-tom”, dalam bahasa Yunani berarti un-cuttable atau yang tak dapat dipecah lagi. Anggapnya, bahwa setiap bagian alam semesta tak lain adalah susunan atom-atom yang sangat kecil. Ia meyakini bahwa terdapat atom dalam jumlah yang tak terhingga.[2]
Kemudian Aristoteles (384-322 SM.) meyakini bahwa segala materi berasal dari empat unsur: tanah, udara, api dan air. Keempat element ini mengalami persenyawaan melalui dua pertempuran: gravitasi pada bumi dan air, serta levitasi pada udara dan api. Sehingga, materi pada hakekatnya adalah persenyawaan dari setiap keempat unsur ini.[3]
Di era peradaban Islam melalui Hellenisme, dan selanjutnya penerjemahan masif di masa al-Makmun, masyarakat Islam mulai mengenal filsafat Yunani. Sejarah mencatat bahwa Muktazilah yang pertama kali meminjam filsafat Yunani untuk membentengi teologi Islam dari serangan Kristen dan Yahudi kala itu. Di antara filsafat Yunani itu adalah konsep atom atau jauhar fard dalam bahasa arab. Tokoh Abu Hudzail al-‘Allâf (w. 235 H.), seorang pentolan Muktazilah terkemuka, tercatat sebagai yang pertama kali memperkenalkan konsep jauhar fard dalam Islam.
Konsep ini sengaja dipinjam demi menjelaskan ilmu dan qudrah Tuhan, juga eksistensi-Nya. Tegasnya, ketika Quran mengatakan “Wa ahshâ kulla syai’in ‘adadâ” berimplikasi—menurut para Mutakallimin—bahwa alam semesta beserta segala isinya harus bisa “diliputi” dan “dihitung” (qâbil lil ihâthah), atau dengan kata lain segala materi harus terbatas jumlah dan pecahannya (mahshûr al-‘adad wa al-tajzi’ah). Tegasnya, harus ada jauhar fard atau materi yang tak bisa dipecah lagi sebagai implikasi dari bahwa alam semesta ini terbatas.[4]
Keimanan terhadap eksistensi jauhar fard ini meresap ke seluruh sekte Mutakallimin, Muktazilah maupun Asya’ariyyah dan Maturidiyyah. Namun, Ibnu Rusyd (w. 595 M.), sebagai tokoh pensyarah karya-karya Aristo, menolak konsep ini. Tokoh yang disebut Averroes di Barat ini, menegaskan bahwa konsep ini bukan hanya rumit diaplikasikan dalam teologi, namun juga tak bisa dibuktikan secara empiris.[5]
Selama berabad-abad, atom—dengan pengertian elemen yang tak dapat dipecah lagi—belum dapat dibuktikan eksistensinya secara memuaskan oleh para ilmuwan. Pada tahun 1804 kimiawan dan fisikawan Inggris, John Dalton, menjelaskan bahwa unsur kimia yang selalu mengandung elemen tertentu bisa dijelaskan dengan menyatukan atom-atom untuk membentuk unit yang disebut molekul. Namun bukti yang cukup memuaskan berhasil dipaparkan oleh Albert Einstein dalam papernya yang ditulis tahun 1905. Meski tetap saja, masih ada keraguan: apakah atom-atom ini sama sekali tak dapat dipecah lagi?
Ternyata benar keraguan itu. J. J. Thomson, mahasiswa Trinity College, tujuh tahun sebelumnya, membuktikan bahwa materi apapun memiliki partikel yang ia sebut elektron. Ia nyatanya lebih kecil seribukali lipat massanya dari atom terkecil. Segera setelah itu, nyatanya ditemukan pula bahwa elektron pun masih tersusun dari atom-atom yang menyusunnya. Tahun 1911, fisikawan Inggris, Ernes Rutherford, akhirnya memaparkan bahwa atom memiliki struktur internal dalam dirinya: ia tersusun dari nukleus-nukleus yang sangat kecil tempat pelbagai elektron mengorbit, memutari.
Sebagai yang berenergi negatif, elektron memiliki pasangannya yang berenergi positif: proton, dari bahasa Yunani yang bermakna the first karena ia diyakini sebagai unit paling dasar yang membentuk materi. Namun, penemuan tahun 1932 oleh kolega Rutherford di Universitas Cambridge, James Chadwick, membuktikan bahwa nukleus juga mengandung unsur lain yang tak memiliki daya elektrik: neutron. Sehingga, akhirnya diyakini bahwa elektron dan proton selalu berorbit pada neutron.
Namun secara mengejutkan, tahun 1969 Murray Gell-Mann juga menemukan bahwa elektron, proton dan neutron pada kecepatan sangat tinggi mengindikasikan bahwa ketiga partikel ini pun masih mengandung elemen penyusunnya lagi. Ia menyebutnya quark.[6] Sebelumnya pun, ketika teori Albert Einstein diuji coba, secara mengejutkan ditemukan bahwa ketika neutron yang diputari elektron dan proton dengan kecepatan yang sangat tinggi berhasil ditembak dengan sinar x, nyatanya berpecah secara terus-menerus hingga tak terhingga dan memiliki daya ledak yang luar biasa. Uji coba ini pula yang mengawali pembuatan bom atom yang mampu menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II.
Entah sampai kapan akan ditemukan partikel lain yang lebih kecil. Namun, sampai saat ini fisika quantum yang dibuktikan secara ajaib oleh Albert Einstein berhasil menghancurkan keimaman sebelumnya bahwa ada jauhar fard di alam semesta. Teori quantum ini menjelma sebagai puncak reformasi paradigma seputar kosmologi.
Selain fisika quantum, Einstein juga memiliki konsep relativitas dengan rumus E=m.c2 yang berkaitan erat dengannya. Ia pun berhubungan dengan konsep ruang-waktu. Selanjutnya, bagaimana mentransformasikan konsep-konsep ini ke dalam kurikulum pendidikan nasional? Jawabannya akan Anda temukan dalam sub-judul berikutnya.
Konsep Ruang-Waktu dan Teori Pendidikan
Bukan tempatnya di sini untuk menjelaskan setiap teori gravitasi yang erat hubungannya dengan ruang-waktu. Masuk ke dalamnya sama saja saya harus memasuki relung-relung argumen Aristoteles yang meyakini bahwa benda di dunia ketika bergerak menurun disebabkan sebuah tarikan bumi; semakin berat benda semakin cepat gerakannya. Atau konsep Galileo yang merevisi konsep Aristo dan mengatakan bahwa benda dengan berat apapun akan meningkatkan kecepatannya dengan rata-rata yang sama, walaupun berbeda beratnya. Ataupun argumen Newton dalam Principia Mathematica yang menyempurnakan konsep Galileo. Atau bahkan temuan paling mutakhir Albert Einstein bahwa gaya gravitasi bukan tarikan sebagaimana tarikan yang umumnya dipahami secara lugu. Namun, tarikan itu adalah konsekuensi bahwa ruang-waktu tak berbentuk datar, melainkan curva atau melengkung.[7] Namun, yang ingin saya paparkan di sini adalah spirit konsep ruang-waktu oleh Einstein.
Sebelum dia, ruang dan waktu menjadi entitas yang terpisah sama sekali; belum ada penjelasan yang memadai tentang hubungan ruang dan waktu dan pengaruh kecepatan benda terhadapnya. Setelah dia mendemonstrasikan the general theory of relativity, mulai diketahui hubungan bahwa setiap bagian di alam semesta bukan hanya tak akan lepas dari ruang-waktu, namun juga ketika benda tertentu mampu bergerak mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan mengalami penurunan kecepatan; ia melambat. Karenanya, ia menyebut waktu adalah relatif karena tergantung kecepatannya—jika mendekati kecepatan cahaya tentunya.
Konsep Einstein ini, oleh pakar tafsir saintis Quran, dipakai untuk menafsirkan surat Al-Kahfi ayat 18 dan 25. “Dan engkau mengira mereka tidak tidur padahal tidur. Dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan andai kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan diri dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.” “Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” Oleh para pakar tafsir itu, gerakan membolak-balik mereka oleh Tuhan kemungkinan dengan kecepatan yang sangat cepat, mendekati kecepatan cahaya atau bahkan sama—dengan kuasa-Nya tentunya. Saking cepatnya, sehingga yang melihat akan merasa takut mengamatinya. Sehingga, tubuh mereka masih dalam keadaan utuh saat terbangun dari tidur panjang selama 300 tahun (Syamsiyyah/Masehi) atau 309 tahun (Qamariyyah). Tegasnya, ketika gerakan sangat cepat, hampir mendekati kecepatan cahaya, akan menyebabkan detik waktu berhenti dan melambat sehingga tubuh mereka masih utuh meski sekitarnya telah berubah dengan sangat drastis.
Jika demikian, bagaimana mentransformasikan konsep ini ke dalam teori pendidikan? Saya ingin menjawabnya dengan teori Immanuel Kant dalam Critique of Pure Reason. Ia menegaskan bahwa “space is nothing but the form of all appearences of outer sense. It is subjective condition of sensibility, under which alone outer intuition is possible for us.”[8] Bahwa ruang hanya kerangka penampakan logika luar (alam realitas luar). Ia adalah kondisi subjektif rasa sensibilitas, padanya intuisi luar memungkinkan kita alami. Tegasnya, ruang—dalam lanskap pendidikan yang bisa berupa: prasarana, tempat penyelenggaraan pendidikan, dsb—bukan tempat yang benar-benar penting hingga mengalahkan yang lain. Namun ia hanya sarana pembantu di mana rasa sensibiltas kita seputar pendidikan menjadi mungkin. Ia pula tempat kita memainkan intuisi pendidikan kita untuk menggapai alam realitas, sains, pengetahuan yang lebih luas, dan paradigma berpikir yang lebih maju. Artinya, sarana dan prasarana pendidikan tidaklah menjadi penting sampai sarana itu membantu kita untuk menggapai pengetahuan yang lebih maju dibanding sebelumnya tanpa menggunakan sarana. Namun bukan hanya ruang yang dibutuhkan, tapi juga waktu.
Waktu adalah “.. nothing but the form of inner sense, that is of the intuition of ourselves and of our inner state.”[9] Bahwa waktu hanyalah kerangka rasa diri kita yang tersimpan di dalam, yakni intuisi dan suara hati kita sendiri. Tegasnya, waktu bisa disiasati. Waktu longgar tak selalu berbanding lurus dengan hasil kerja. Dalam pendidikan—proses belajar-mengajar di antaranya—waktu bukanlah suatu patokan yang benar-benar menentukan. Ia relatif, sebagaimana kata Einstein. Jika pengajaran, misalnya, disampaikan dengan cara yang sangat memukau dan elegan oleh sang guru, berjam-jam pun akan dirasa hanya beberapa menit. Hakekat inilah yang menjelaskan bagaimana ulama klasik mampu bertahan mencari ilmu puluhan tahun tanpa merasa bosan sedikitpun, sedang kita sekarang hanya beberapa tahun saja sudah merasa jenuh. Ilustrasi gampangnya begini: Apa yang Anda rasakan ketika sedang duduk bersama pujaan hati Anda, walaupun memakan waktu berjam-jam? Apakah Anda bosan? Tidak, pastinya! Bahkan ketika telah usai, Anda masih mengira bahwa alokasinya terlalu singkat untuk mengeluarkan semua perasaan cinta Anda pada si dia. Coba bandingkan dengan ketika Anda belajar di sekolah pelajaran matematika hanya dengan alokasi waktu 45 menit saja! Jauh sekali bukan?!
Artinya, apa yang diperlukan hanyalah penyiasatan batin dan penciptaan suasana yang nyaman. Ketika sistem pendidikan dibuat sedemikian nyaman, meriah, menggairahkan, tidak seram dan doktrinal, maka ruang-waktu pun akan berjalan dengan mulus. Bahkan, alokasi ruang-waktu yang sempit sekalipun, jika digunakan dengan sangat ceria akan membuahkan hasil yang sangat menggelegar. Dengan kata lain, Einstein dengan temuan konsep ruang-waktunya, setidaknya menyadarkan kita bahwa ruang-waktu adalah relatif. Yang terpenting adalah penyiasatan dan inner state, dalam bahasa Immanuel Kant. Atau jangan-jangan konsep barakah al-auqât yang menjadi karamah para wali zaman dahulu hingga mampu menghasilkan pulahan jilid karya padahal umurnya sangat singkat, juga mengalami relativitas ruang-waktu Einstein? Entahlah!

No responses yet