Kedaulatan bangsa Jawa dan Nusantara ini sepenuhnya sudah terenggut semenjak 1400 Saka atau 1478 Masehi seiring runtuhnya Majapahit.
Sirna Ilang Kêrtaning Bumi (Sirna : 0, Ilang : 0, Kêrta : 4, Bumi : 1 – 1400 Saka atau 1478 Masehi ; Sirna Hilang Kedaulatan Bumi) adalah sengkalan yang sangat tepat menggambarkan peristiwa keterenggutan tersebut.
Usaha mengembalikan kedaulatan yg terenggut bisa dimulai dengan berani bersikap Obyektif dalam memandang sejarah.
Obyektif artinya jujur melihat fakta realita kasunyatan sejarah masa lalu sehingga dari masa lalu atau sejarah kita bisa mengambil hikmah, pelajaran, dan banyak perbaikan bisa dilakukan, Selama belum bisa berlaku jujur maka jangan harap perbaikan bisa dilakukan. Tetap akan jalan di tempat, tidak ke mana-mana.
NKRI ini mau tidak mau, diakui atau tidak, memang merupakan representasi dari Majapahit. Selama hampir 500 tahun (pada waktu video ini dibuat), Jawa dan Nusantara kehilangan kedaulatannya. Itu terjadi semenjak runtuhnya Majapahit pada 1478. Usaha untuk meniru kejayaan Mahapahit gagal dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Jawa yang mengaku sebagai penerus Majapahit.
Pengiriman kekuatan untuk menyatukan kembali Jawa, juga usaha ekpansi memperluas wilayah keluar Jawa tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Itu dilakukan sepanjang masa Demak Bintara, Pajang dan Mataram Islam.
Hingga pada akhirnya usaha mereka terhalang oleh kekuatan besar imperialisme Belanda yang kokoh berdiri di Batavia semenjak abad-17, satu kekuatan raksasa yang didirikan di atas keterpecahan Nusantara, satu keterpecahan yang sudah ditakutkan oleh Prabhu Kertanegara (1268-1292) dari Keraton Singhasari, Malang, Jawa Timur.
Karena ketakutannya tersebut, Prabhu Kertanegara pernah mempertaruhkan segalanya untuk menyatukan Nusantara demi membendung kekuatan dahsyat Kerajaan Tiongkok Yuan (Mongol) yang pada waktu itu telah menguasai hampir separuh dunia. Walau tertatih2, impian penyatuan Nusantara akhirnya terwujud di tangan putri Prabhu Kertanegara, Dyah Gayatri yang merupakan garwa (istri) dari Prabhu Kêrtarajasa, Raja Majapahit pertama. Dyah Gayatri adalah perempuan perkasa, dia adalah ide otak penyatuan Nusantara, dan pelaksana eksekusi misi tersebut adalah Mahapatih Gajah Mada yang cakap.
Dyah Gayatri adalah neneknda Prabhu Hayam Wuruk, pada masa pemerintahan cucunya tersebut penyatuan Nusantara terwujud, cita-cita Prabhu Kêrtanêgara terwujud. Selama Nusantara solid ada dalam satu kesatuan utuh, maka kekuatan asing tidak akan mudah masuk menjarah-rayah Nusantara. Namun sayang, persatuan tersebut hancur pada 1478. Seiring keruntuhan Majapahit dan munculnya Kerajaan Dêmak. Dan Nusantara kembali terpecah-pecah. Keterpecahan tersebut menjadi celah yang memudahkan bagi kekuatan Eropa untuk masuk dengan senjata utama mereka : “devide et impera” (adu domba).
Ketika NKRI berdiri, maka Majapahit baru yang diimpikan seolah terwujud. Tedapat Video ketika suasana ketika Pejabat Kerajaan Belanda harus hengkang dari Istana Paliies yang sekarang menjadi istana Merdeka Jakarta setelah 300 tahun menjadi penghuni tetap.
Bendera Belanda harus berganti dengan tunggul Gula Kelapa – Merah Putih, dan sosok berdarah ksatria dan brahmana Majapahit itu, Soekarno, datang dengan kecemerlangannya menggantikan raksasa imperialis yang sudah mencengkeram lama bumi Jawa dan Nusantara. Kedaulatan mulai direbut walau hingga detik ini kedaulatan tersebut belum sepenuhnya bisa diambil kembali.
Jaya jaya Dwipantara, tetep jaya ngadhepi bebaya!!!…
NKRI Jaya!!!…

No responses yet