Walau kita mbahas derajat tawakal, kita tetep kudu proporsional. Karena orang yang gak proporsional itu cenderung merusak makna kebaikan itu sendiri. Sehingga gak manusiawi (kamanungsan).

Seperti tulisan kemarin, menurut Imam Ghozali, perilaku tawakal tertinggi itu kalo orang udah kayak mayit di hadapan Gusti Allah. Tentunya perilaku ini bukan lantas kita meninggalkan kasab (usaha lahir). Yang proporsional tentu yang menganut petunjuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dawuh Imam Sahal At Tustary

التوكل حال النبي صلى الله عليه وسلم، والكسب سنته، فمن بقى على حاله فلا يتركن سنته

“Tawakal itu perilaku Kanjeng Nabi SAW, sedangkan kasab adalah sunnah beliau. Maka siapa saja yang ingin menetapi perilaku Kanjeng Nabi, jangan pernah tinggalkan sunnahnya itu”

Artinya, maqom tawakal tertinggi tetap mengikuti syariat Kanjeng Nabi SAW yaitu salah satunya kasab atau beramal dan berusaha. Ya kerja kalo gak punya duit, ya makan kalo lapar, tidur kalo ngantuk. Bukan lantas pasrah gak ngapa-ngapain.

Lalu bagaimana memadukan 2 qoul ulama tersebut?

Seperti dawuh Ibnu Athoillah, jika Gusti Allah menghendaki kita menempati satu maqom kasab, jangan pernah pindah dari maqom tersebut. 

Kalo kita berada di maqom kasab, kalo gak kerja gak makan, ya kita terus aja fokus di situ sampai dikehendaki pindah. Itu baru tawakal, artinya menuruti kehendak Gusti Allah. 

Kalo sampek punya pikiran sok tawakal, lalu memaksa gak kasab lagi, berarti itu bukan tawakal. Ini justru melawan kehendak Gusti Allah dan terjebak tablis syaithon (tipu daya setan) yg halus.

Misal kita pingin tawakal dengan mencukupkan makan makanan gak enak terus-terusan. Tapi ternyata malah syukur kita kurang dan muncul thomak. Padahal dawuh Imam Abul Hasan Asy Syadzili, makan makanan enak sesekali itu penting biar muncul syukur kita dan gak muncul rasa thomak. Karena Kanjeng Nabi SAW juga makan makanan yg enak sesekali.

Jadi tawakal yang wajar2 saja. Ikuti saja sunnah2 Kanjeng Nabi SAW semampunya dan gak usah tergoda untuk noleh2 yg lain. Kalo kita ikuti Kanjeng Nabi SAW, tawakal kita akan jadi tawakal yg manusiawi.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *