Mahabbah atau kecintaan itu bagi orang yg materialistik dan mendewakan logika, dinilai cuma hal yg absurd, abstrak, klise dan tidak nyata karena cinta itu cuma hiperbola untuk satu hal yg dicondongi. Kalo istilah orang akademis, gak ngilmiyah blas karena gak ada tolok ukur yg pasti.
Tapi di tangan ulama seperti Imam Ghozali, mahabbah ini bisa dijelaskan secara ilmiyah dan punya tolok ukur. Mahabbah ini banyak disebut oleh Gusti Allah, para Rosul-Nya, para shohabat, para ulama dalam mengistilahi hubungan akrab antara hamba dengan Gusti Allah dan Rosul-Nya.
Gusti Allah sendiri mengisyaratkan dengan jelas bahwa rasa cinta itu ada, nyata dan bisa jadi semakin kuat. Artinya, punya ukuran jelas.
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Gusti Allah” (Al Baqoroh 165)
Gusti Allah pun berkali-kali dalam Al Qur’an menyatakan cinta-Nya pada hamba-hamba-Nya yang punya sifat-sifat tertentu. Yg mengandung makna, mahabbah ada kriteria yg jelas, bukan sesuatu yg abstrak.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Gusti Allah sangat cinta orang2 yg berbuat baik”
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Gusti Allah sangat cinta orang yang selalu bertaubat dan selalu mensucikan diri”
فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“Gusti Allah sangat cinta orang yang bertaqwa”
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Gusti Allah sangat cinta orang yang bertawakal”
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Gusti Allah sangat cinta orang yang berbuat adil”
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Gusti Allah sangat cinta orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”
Keistimewaan mahabbah atau kecintaan ini, dia itu maqom tertinggi yg bisa dicapai manusia. Dari mahabbah ini, diikuti syauq, ridho dan anis. Orang yang punya cinta, dia akan punya rindu pada yg dicintai, dia akan sukarela terhadap apapun yg diperbuat sang kekasih pada dirinya dan hanya selalu memandang pada sisi indahnya sang kekasih. Istilahnya bucin. Orang lain bilang itu gila, tapi itu hal paling masuk akal yg bisa dilakukan oleh sang pecinta.
Cinta ini juga unik. Kalo kita doa minta ampun, itu karena kita gak punya pelindung dari siksa. Kalo kita doa minta harta, karena kita gak punya harta. Kalo kita doa minta ilmu, karena kita gak punya ilmu. Tapi kalo kita doa minta dicintai, kita harus punya cinta dulu. Gak akan bisa terkabul doa minta dicintai tapi kita sendiri gak punya cinta.
Untuk bisa muncul cinta pada Gusti Allah itu jalurnya macem2. Seperti kandungan makna doa Nabi Dawud AS yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW
اللهم اني اسالك حبك وحب من يحبك والعمل الذي يبلغني حبك اللهم اجعل حبك احب الي من نفسي واهلي ومن الماء البارد
“Duh Gusti Allah, saya memohon cinta-Mu dan cintanya orang yang mencintai-Mu, dan cinta pada amal yang menjadikan aku cinta kepada-Mu. Ya Allah, jadikan cinta kepada-Mu lebih aku cintai dibanding cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan dari air yang dingin.”
Artinya, cinta Gusti Allah berarti harus cinta para Rosul dan waliyullah, cinta syariat Gusti Allah, cinta takdir Gusti Allah dan memandang semua yg ada di jagat raya itu sebagai fadhol (kebaikan) dari Gusti Allah.
Maka di sinilah pentingnya kita mengetahui ilmu menumbuhkan mahabbah kepada Gusti Allah secara lahir batin. Agar saat kita berharap cinta-Nya, kita memang layak mendapat cinta-Nya.

No responses yet