Maraknya kemaksiatan dan kemungkaran saat ini juga mendapat perlawanan dengan munculnya kesadaran umat Islam untuk melakukan dakwah dalam rangka memperbaiki kondisi umat. Hal ini patut disyukuri, didukung dan sangat menggembirakan.

Kesadaran ini bisa dijadikan bekal bagi dai dan mubaligh dalam berdakwah, sehingga dakwahnya tidak asal bunyi dan bisa diterima umat (dakwah bil hikmah wal maudzotil khasanah). Karena Rasululullah SAW pernah bersabda,”Sesungguhnya ulama itu pewaris nabi, sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad Al Hakim, Al Baihaqi dan Ibnu Hibban).

Para dai tidak hanya mewarisi keilmuan saja tapi juga hendaknya mewarisi sisi semangat berjuang para Nabi dalam berdakwah membela Dienul Islam.

Para dai hendaknya memadukan ilmu dan amal sehingga pijakan hidup mereka, penuh keridhaan meniti jalan illahi itu berlandasan ilmu dan takwa kepada Allah SWT baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Perpaduan ilmu dan amal adalah bagian dari ibadah.”Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (QS Adz-Dzariyat:56).

Ilmu dan ibadah adalah dua permata, demikian Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulimiddin. Oleh karena itu ujian dan rintangan itu adalah pasti harus dihadapi dengan penuh kesabaran demi meraih Rahmat dan Keridhoan Allah SWT.

Hanya saja saat ini kemaksiatan dan kemungkaran telah merajalela di mana-mana. Tontonan jadi tuntunan, demikian sebaliknya tuntunan jadi tontonan. Korupsi, suap, kolusi, nepotisme adalah bagian dari kemungkaran dan kemaksiatan yang sangat dilarang oleh agama mana pun di muka bumi serta akan mendapat laknat Allah SWT. Padahal kondisi seperti itu sudah merata di seluruh lini kehidupan dan amat sedikit yang mencegahnya dari perbuatan munkar.

Sungguh beruntung orang berbuat amar ma’ruf Nahy Munkar , Allah SWT berfirman,” “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

. Rasulullah SAW bahkan memerintahkan kita untuk ber amar ma’ruf nahy munkar,“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu _dengan lisannya_, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Beliau juga melalui hadist riwayat At Tirmidzi bersabda,”Demi Allah yang jariku berada di dalam genggamannya, kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau kalau tidak, pasti Allah akan menurunkan siksa kepadamu kemudian kamu berdoa , maka tidak diterima doa darimu.”

Nabi Muhammad SAW mengingatkan,”Sesunguhnya jika melihat manusia berbuat jahat dan tidak mereka cegah. Hampir-hampir Allah akan meratakan siksa atau adzabnya kepada mereka .” (HR Abu Dawud).

Rasulullah adalah penyambung lisan para ulama kepada umat. Karena itu perlu kesiapan matang dan keikhlasan yang murni dari para dai mutlak diperlukan. Sehingga amanah dan tugas mulia agung ini dapat dipanggul oleh para dai dan mubaligh.Dengan dua bekal ini para mubaligh dapat menjalankan tugasnya penuh kesadaran dan kehati-hatian.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *