Tentang Novel Kyai tanpa pesantren
Sejak kecil, Gus Ainu memiliki kejailan yang tidak biasa dilakukan oleh keluarga pesantren. Tindakannya sering membuat khawatir semua orang. Hal ini berlanjut sampai dia dewasa, bahkan saat menimba ilmu di pesantren Kyai Misbah, sahabat abahnya. Kelakuannya yang tidak lazim sering meresahkan santri lainnya. Karena saking nakalnya, pengurus sudah sepakat hendak mengeluarkan dan memindahkannya ke pesantren lain . Tapi sang Kyai tetap sabar dalam membimbingnya.
Gus Ainu memiliki keberuntungan karena memiliki kyai yang begitu sabar, dan selalu percaya, bahwa kenakalan santrinya merupakan bagian dari proses laku spiritual. Perjalanan Spiritual Gus Ainu menjadi hal yang sangat menarik. Apalagi ia memiliki perbedaan yang menonjol dari putra kyai pada umumnya. Dia sangat berani menempuh jalan yang berbeda, berkenalan dengan orang orang baru yang islamnya masih dipertanyakan, dengan perempuan-perempuan baru, dengan kisah kisah yang tidak lazim. Berdakwah di tempat-tempat yang oleh banyak kalangan dianggap kotor.
Perjalanan Spiritual tokoh ini melewati rute yang terjal dan berliku. Dia bertemu dengan banyak Guru, utamanya saat menimba ilmu di Maroko. Semuanya punya sumbangsih besar dalam pemikirannya. Saat konflik besar terjadi ditengah keluarga pesantren membuatnya terpukul, ia lalu bertemu dengan guru spiritual yang teramat sederhana bernama ki Waskita.
Membaca novel ini membuat kita terus berdebar sepanjang cerita. Ada banyak sekali istilah dan cuplikan mutiara dari berbagai kitab klasik. Ada bayak sekali pelajaran yang bisa diambil, utamanya saat sang tokoh menghadapi cobaan demi cobaan, juga kehilangan demi kehilangan. Tempaan hidup membuat tokohnya matang secara spiritual dari waktu ke waktu, hingga ia memiliki jalan dakwah yang unik dan berbeda dengan para kyai lainnya.
Cc. Penerbit Telaga Aksara

No responses yet