Pasal Budi Pekerti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Sayyidina Hasan RA (1)

عن الحسن بن علي قال : قال الحسين : سألت أبي عن سيرة النبي ﷺ في جلسائه فقال : كان رسول الله ﷺ دائم البشر، سهل الخلق، لين الجانب ليس بفظ ولا غليظ ولا صخاب ولا فحاس ولا عياب ولا مشاح يتغافل عما لا يشتهى، ولا يؤيس منه راجيه، ولا يجيب فيه..

“Sayyidina Al Hasan bin Ali RA meriwayatkan : Saudaraku Al Husain bin Ali RA berkata : Aku bertanya pada ayahku (Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA) tentang perilaku Kanjeng Nabi Muhammad SAW pada para sahabatnya. 

Ayahku berkata : Kanjeng Nabi SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya, ramah, tidak bengis, tidak kasar, tidak pernah bersuara keras, tidak berperilaku dan berkata menyakitkan, tidak suka mencela dan tidak pelit. Beliau tidak mencela apa yang tidak disenanginya. Beliau tidak pernah membuat orang yang berharap bantuannya menjadi putus asa dan tidak pernah menolak orang minta bantuan…”

Penjelasan :

1. Menceritakan siroh nabawiyah, semua hal yang berkaitan dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, adalah sunnah para sahabat Kanjeng Nabi SAW.

2. Kanjeng Nabi SAW bermuka manis (دائم البشر), secara lahir selalu memasang wajah riang dan senang di depan manusia, walaupun dalam batinnya terdapat kekhawatiran dalam dua hal : keadaan di akhirat dan keadaan umatnya di masa depan. Kesedihan Kanjeng Nabi tidak pernah berurusan masalah dunia.

3. Kanjeng Nabi SAW lembut budi pekertinya (سهل الخلق), yaitu kemurahan hati yang tidak dibuat-buat. Sehingga tidak pernah menyakiti orang lain tanpa haq.

4. Kanjeng Nabi SAW ramah (لين الجانب), yaitu rendah hati, tawadhu, peka perasaannya, lembut perasaannya, toleransinya sangat apik, di setiap kondisi.

5. Kanjeng Nabi SAW itu tidak bengis dan tidak kasar (ليس بفظ ولا غليظ), yaitu secara lahiriyah, beliau terlihat terbuka, rapi dan bersih selayaknya orang baik. Dalam batin pun tidak punya pikiran untuk mencederai seseorang. Tidak punya sifat kaku, kasar dan keras hatinya pada orang lain.

Gusti Allah memperingatkan lewat dawuh

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, hai Muhammad, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran 159)

Sifat ini adalah ta’kid (penguat) sifat lembut budi pekerti (سهل الخلق) dan bentuk bahasa pujian lain yang maknanya serupa. Sifat ini ditujukan bagi orang mukmin dan non-mukmin yang tidak memusuhi mukmin. Sedangkan bagi orang munafik dan orang kafir jahat, beliau sangat tegas.

6. Kanjeng Nabi SAW itu tidak pernah bersuara keras atau berteriak (لا صخاب أو لا سخاب), yaitu tidak pernah berbicara dengan cara berteriak-teriak seperti pedagang pasar di tengah pasar.

7. Kanjeng Nabi itu tidak pernah berlaku dan berkata keji (لا فحاش), yaitu tidak pernah berbicara sinis, nyinyir, meremehkan atau merendahkan.

8. Kanjeng Nabi itu tidak pernah mencela seseorang atau sesuatu (لا عياب), seperti misal perintah Kanjeng Nabi sendiri :

ما عاب طعاما

“Jangan mencela makanan”

Yang dimaksud di sini adalah adab dalam mengkritik/ mengkoreksi sesuatu. Sebaiknya kritik disampaikan secara sopan, tanpa mencela, runtut argumentasinya dengan niat memberi perbaikan. Ini merupakan panduan adab agar tercipta kesholehan sosial.

9. Kanjeng Nabi itu tidak kikir (لا مشاح), yaitu gampang dimintai bantuan urusan dunia, ringan tangan masalah dunia, tidak banyak curiga bila dimintai bantuan.

10. Kanjeng Nabi itu tidak pernah mencela apa yang tidak disenanginya (يتغافل عما لا يشتهى), yaitu suka memaafkan dan mentoleransi semua kesalahan kecil yang beliau tidak berkenan, baik berupa perbuatan maupun perkataan. Lalu tidak memperbesar kesalahan itu dan tidak mengungkit-ungkitnya di masa depan. Karena beliau lembut pada para sahabatnya dan welas pada umatnya.

11. Kanjeng Nabi itu tidak pernah membuat orang yang berharap bantuannya menjadi putus asa dan tidak pernah menolak orang minta bantuan (ولا يؤيس منه راجيه، ولا يجيب فيه), yaitu tidak suka mengecewakan orang lain dan memutus harapan orang lain. Jika ada orang yg bertawasul kepada Kanjeng Nabi untuk memohon ampun kepada Gusti Allah, maka oleh Kanjeng Nabi SAW dibesarkan hatinya dan didoakan agar diampuni kesalahannya oleh Gusti Allah.

Seperti dawuh Gusti Allah

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau saat mereka sadar akan dosa dirinya sendiri itu datang kepadamu, hai Muhammad, lalu memohon ampun kepada Gusti Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Gusti Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (An Nisa 64)

Maka kita, umat jaman akhir yang tidak pernah bertemu dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, jangan ragu untuk selalu memohon ampunan kepada Gusti Allah dengan bertawassul kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *