Membaca, meneliti dan menulis adalah aktivitas intelektual yang bernuansa spiritual. Wahyu pertama yang turun kepada nabi adalah perintah membaca. Ini membuktikan aktivitas membaca adalah aktivitas spiritual yang menjadi kunci penguasaan terhadap segala jenis pengetahuan. Membaca bukan aktivitas yang mahal. Bisa dilakukan siapapun mulai anak bayi sampai mereka yang tua renta. Mulai yang normal sampai mereka yang berkebutuhan khusus bisa melakukan. Karena membaca itu bukan soal bisa melihat dan membunyikan semata, tetapi juga merasakan, memahami dan menikmati. Karena itulah setiap pembacaan yang baik selalu berujung pada kesadaran imajinatif, reflektif dan evaluatif. Dari sinilah kita bisa memahami bahwa semua manusia pada prinsipnya adalah seorang “sejarawan”. Ia hidup membawa kesadaran masa lalu, masa kini dan masa depan.

Dalam konteks pembacaan terhadap peristiwa di masa lalu (peristiwa sejarah), kita mengenal apa yang biasa disebut metode sejarah. Pertama adalah langkah-langkah heuristik. Aktivitas heuristik adalah aktivitas observasi awal dalam mencari, menemukan, dan menentukan sumber data baik yang bersifat subjek (informan/orang) atau objek (benda). Langkah ini merupakan pembacaan awal terhadap sebuah peristiwa sejarah yang ingin kita “rekonstruksi” ulang. Dibutuhkan kemampuan mengenali sebuah peristiwa, sebelum kita turun langsung melakukan observasi awal di lapangan. Langkah yang dilakukan untuk mengenali peristiwa itu adalah dengan “membaca” lewat dokumen atau lewat pengalaman orang lain dalam bentuk informasi tertulis atau lisan.

Dari proses inilah kita mempunyai gambaran awal tentang peristiwa sejarah tersebut. Dengan bekal informasi awal ini, kita melanjutkan langkah kita dengan “berjalan-jalan” (observasi awal) ke lapangan atau lokasi di mana peristiwa itu terjadi. Di tahap inilah kemampuan imajinatif seorang “sejarawan” diperlukan. Seperti seorang polisi yang sedang melakukan rekonstruksi sebuah peristiwa kecelakaan ataupun kejahatan. Kita membutuhkan saksi-saksi yang melihat langsung peristiwa kecelakaan atau kejahatan itu. Agar kita bisa mencari “jejak” siapa saja pelaku utama dalam peristiwa tersebut, jika para pelaku belum ditemukan. Dari para saksi dan pelaku inilah kita bisa dapatkan data lisan. Sementara dari keadaan fisik (material) yang digunakan dan terdampak dalam peristiwa tersebut kita bisa mendapatkan semacam gambaran (foto) yang sangat membantu kita dalam membangun asumsi2 bagaimana peristiwa itu terjadi. Karena ragam data yang diperoleh bisa jadi “tidak begitu baik” karena itu kita perlu data pendukung dan “pembanding”. Data-data ini berisi informasi yang berfungsi sebagai sarana klarifikasi terhadap data informasi lainnya. Disinilah watak Siddiq seorang sejarawan dipertaruhkan.

Langkah membandingkan, mengkategorisasi dan menyortir serta mengklarifikasi data, adalah bagian dari aktivitas kritik sumber data dan data. Bagaimana karakter (keadaan) sumber data, sangat menentukan apakah dia layak ditetapkan sebagai sumber data atau tidak? Karena tidak semua subjek atau objek bisa digunakan sebagai sumber data. Demikian juga dengan data yang didapat dari sumber tersebut apakah memenuhi kelayakan sebagai data atau tidak. Disinilah dibutuhkan sebuah “ketelitian” dan kehati-hatian seorang sejarawan dalam melakukan kritik sumber dan data. Karena bisa jadi sumber datanya terlihat “jelek” tetapi datanya valid, sebaliknya meskipun sumber data terlihat bagus bisa jadi datanya jelek atau kurang valid.

Setelah melakukan kritik sumber data dan data langkah berikutnya adalah melakukan interpretasi atau menafsirkan data yang sudah berhasil dikumpulkan setelah “divalidasi”. Langkah ini diawali dengan mengaitkan data dengan data, kemudian mengaitkan data dan peristiwa, serta mengaitkan peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam lingkup penelitian yang dilakukan. Dalam konteks inilah kita membutuhkan teori sebagai alat bantu menganalisis setiap bentuk relasi antar data dengan data, data dengan peristiwa serta peristiwa dengan peristiwa. Penentuan teori pun tidak bisa sembarangan, tetapi harus melalui sebuah proses “pencabaran” teori. Harus ada alasan kenapa kita memilih teori tersebut sebagai alat bantu analisis dalam penelitian kita. Dalam fase inilah rekonstruksi peristiwa sejarah secara “utuh” dilakukan.

Langkah terakhir dalam metode sejarah adalah historiografi. Aktivitas utama historiografi adalah menjelaskan hasil rekonstruksi peristiwa sejarah itu dalam narasi dokumentasi. Apakah itu berbentuk laporan penelitian ataupun berupa naskah dokomen untuk kepentingan pentas drama sejarah atau pembuatan film serta drama dan film itu sendiri. Atau bahkan berupa dokumen “novel sejarah”. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menyatakan bahwa sejarah adalah ilmu yang sangat penting. Saya menyebut sejarah sebagai ilmu yang paling “primordial”. Karena melekat dalam kesadaran individu sekaligus dalam kesadaran kolektif masyarakat. #SeriPaijo

Tawangsari, 4 November 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *