Pasal Tawadhu’ Kanjeng Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Sayyidina Hasan RA
Hadits ini ada intronya, tapi biar singkat, maka langsung saja masuk ke inti hadits.
قال الحسين : فسألت أبي عن دخول رسول الله ﷺ، فقال : كان إذا أوى إلى منزله جزأ دخوله ثلاثة أجزاء، جزءا لله وجزءا لأهله وجزءا لنفسه، ثم جزأ جزأه بينه وبين الناس، فيرد ذلك بالخاصة على العامة، ولا يدخر عنهم شيئا، وكان من سيرته في جزء الأمة إيثار أهل الفضل بإذنه وقسمه على قدر فضلهم في الدين، فمنهم ذو الحاجة ومنهم ذو الحاجتين، ومنهم ذو الحوائج، فيتشاغل بهم ويشغلهم فيما يصلحهم والأمة من مساءلتهم عنه وإخبارهم بالذي ينبغي لهم ويقول: ليبلغ الشاهد منكم الغائب، وأبلغوني حاجة من لا يستطيع إبلاغها، فإنه من أبلغ سلطانا حاجة من لا يستطيع إبلاغها ثبت الله قدميه يوم القيامة، لا يذكر عنده إلا ذلك، ولا يقبل من أحد غيره، يدخلون روادا ولا يفترقون إلا عن ذواق، ويخرجون أدلة يعني على الخير..
“Sayyidina Husain bin Ali bercerita pada Sayyidina Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhum : Aku bertanya pada pada ayahku (Sayyidina Ali) tentang bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat di dalam rumah.
Ayahku menjawab : Kanjeng Nabi SAW saat berada di dalam rumah, beliau bagi jadwalnya menjadi 3 bagian: jadwal untuk Gusti Allah, jadwal untuk keluarganya, jadwal untuk urusan pribadinya (1).
Jadwal untuk urusan pribadinya sendiri itu dibagi lagi menjadi dua jadwal: untuk urusan pribadi dan untuk urusan umatnya (2).
Bagian untuk umatnya, beliau diskusikan dan diserahkan pada sahabat nya yang khusus untuk disampaikan pada khlayak. Beliau tidak merahasiakan apapun untuk khlayak (3).
Di antara kisah Kanjeng Nabi SAW yang berurusan dengan umat, beliau muliakan orang yang punya derajat keutamaan (ahlul fadhl), dengan izin Gusti Allah (4). Beliau pun membagi keutamaan mereka menurut derajat keutamaan mereka dalam agama. Maka di antara mereka ada yang punya satu hajat atau dua hajat atau beberapa hajat (5). Maka Kanjeng Nabi mengusahakan agar terpenuhi hajat tersebut, lalu memotivasi mereka untuk berusaha demi kemashlahatan umat (6). Berbagai masalah dipecahkan oleh Kanjeng Nabi dan beliau memberitahu apa yang sebenarnya layak untuk mereka (7).
Kemudian Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh: Hendaknya orang yang hadir di sini, sungguh-sungguh memberitahukan kepada orang yang tidak hadir. Sampaikanlah kepadaku hajat orang yang tidak mampu menyampaikannya langsung kepadaku. Bahwa jika ada orang yang menyampaikan hajat orang lain yang tidak mampu kepada pemerintah, niscaya Gusti Allah akan mengokohkan kedua kakinya pada hari kiamat (8).
Beliau selalu mengingatkan hal yang bermanfaat bagi sahabat-sahabatnya dan tidak menerima kedatangan seorangpun sahabat kecuali dengan hal itu (9). Mereka pun menjadi sahabat-sahabat besar (10). Mereka tidak beranjak dari kediaman Kanjeng Nabi, kecuali setelah menerima ilmu yang dalam (11). Saat mereka keluar, mereka pun menjadi teladan umat pada pada jalan kebaikan (12)”
Penjelasan :
1. Jadwal harian tetap Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang biasa dilakukan oleh beliau dalam rumah, dibagi tiga :
– Jadwal untuk Gusti Allah bermakna jadwal untuk beribadah, tafakur, berdzikir dan lain sebagainya. Sedangkan menerima wahyu tidak termasuk jadwal ini, karena bisa sewaktu-waktu.
– Jadwal untuk keluarga bermakna mengurus keluarga dan bercengkrama dengan keluarga. Karena sebaik-baiknya orang adalah yang akrab dengan keluarganya.
– Jadwal untuk pribadi bermakna yang mencakup waktu mandi, berhias, tidur dan makan.
Ini semua jadwal yang biasa dilakukan Kanjeng Nabi dalam sehari. Sedangkan durasi perjadwal, tergantung kebutuhan beliau. Ini jadi contoh bagaimana seorang kepala keluarga membagi waktunya dalam sehari. Minimal harus ada 3 jadwal tersebut agar orang sehat secara individu dan sosial, baik lahir maupun batin.
2. Bagi Kanjeng Nabi, jadwal untuk pribadi itu masih dibagi dua, untuk beliau sendiri dan untuk umat beliau. Jadi urusan menyampaikan risalah, sebagai tujuan beliau diciptakan Gusti Allah, beliau masukkan ke dalam jadwal pribadi beliau.
Hal ini akhirnya yang membuat Kanjeng Nabi sedikit makan, tidak berlama-lama di kamar mandi dan sedikit tidur. Karena beliau tidak ingin urusan risalah dan umat beliau, sebagai tugas utama, tersita oleh urusan pribadi beliau.
3. Kanjeng Nabi mempunyai sahabat-sahabat khusus yang mempunyai berbagai keahlian dan kelebihan. Dengan mereka, Kanjeng Nabi mendiskusikan berbagai persoalan umat di rumah Kanjeng Nabi. Kepada mereka juga, Kanjeng Nabi menyerahkan amanat untuk menyampaikan keputusan Gusti Allah dan Rosul-Nya kepada semua umat. Dan semua hal yang harus disampaikan Kanjeng Nabi pada umat itu, tidak ada yang disembunyikan oleh para sahabat.
Sehingga bisa dikatakan, lewat para sahabat-sahabat khusus inilah, semua ajaran Islam dan ilmu Gusti Allah dan Rosul-Nya menyebar dan diterima oleh semua manusia. Rodhiyallahu ‘anhum.
4. Sebagai adat, sunnah dan thoriqoh Kanjeng Nabi salah satunya adalah ikut menghormati derajat dan kedudukan sosial seseorang di kalangan masyarakat, baik itu derajat pangkat, jabatan, nasab, usia, kesholehan, ilmu dan pengalaman. Dengan cara penghormatan yang diizinkan oleh Gusti Allah.
Tidak peduli orang itu muslim atau non muslim, jika punya kedudukan sosial di mata masyarakat, beliau ikut menyebut keutamaan, pangkat dan kedudukan orang itu, memperlakukan orang itu secara hormat dan tidak melecehkannya di depan umum. Cara penghormatannya sesuai petunjuk Gusti Allah.
5. Selain itu, Kanjeng Nabi juga membagi-bagi orang menurut derajat kebaikan orang tersebut dalam agama, yaitu dari sisi ketakwaan dan kesholehannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (Al Hujaarat 13)
Yakni tergantung seberapa besar butuhnya orang itu terhadap Gusti Allah dan Rosul-Nya. Maka dikatakan manusia itu berbeda-beda tingkat kebutuhannya, yaitu kebutuhan yang ada hubungannya dengan ketakwaan dan agama. Ada yang punya satu, dua atau banyak hajat.
Dikatakan bila ada orang yang butuh penjelasan masalah ibadah umum sehari-hari, masalah muamalat atau butuh harta demi mempertahankan jiwanya, Kanjeng Nabi temui mereka di masjid atau di luar rumah. Kalau ada orang yang karena takwanya udah tinggi, butuh penjelasan pribadi yang tidak semua orang bisa mengerti hal itu, seperti masalah pengalaman spiritual pribadi, fitan, ilham dan lain2, beliau mengajak orang itu masuk ke rumah beliau.
6. Maka Kanjeng Nabi berusaha memenuhi hajat orang-orang yang berbeda-beda tersebut sesuai petunjuk Gusti Allah. Jika hajat orang tersebut sudah terpenuhi, Kanjeng Nabi menasehati orang tersebut agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.
7. Berbagai masalah dipecahkan Kanjeng Nabi dengan memperhatikan hal-hal yang sesuai dengan kebaikan umat. Sehingga kadang satu persoalan yang diajukan banyak orang, pemecahannya bisa bermacam solusi dan jawaban sesuai karakter dan derajat ketakwaan orang-orang tersebut.
8. Dawuh Kanjeng Nabi ini menunjukkan keutamaan menjadi penyambung lidah rakyat atau duta masyarakat.
Hendaknya seseorang punya ghiroh untuk menyebarkan ajaran Kanjeng Nabi, mendengar kesusahan masyarakat, mencarikan solusi, menyampaikan keluhan masyarakat kepada pemerintah dan menyampaikan keputusan pemerintah kepada masyarakat.
Barokahnya jika orang itu mau dan amanat dalam melakukan itu semua, Gusti Allah akan menyelamatkan dirinya dan agamanya, ukhrowi dan duniawi, dalam menghadapi pengadilan hari kiamat.
9. Kanjeng Nabi SAW selalu memberi ilmu dan hikmah pada para sahabat tentang berbagai hal yang bermanfaat dan layak dilakukan oleh mereka, baik dalam urusan ukhrowi maupun duniawi. Dan menasehati mereka untuk meninggalkan hal, baik yang mubah maupun yang haram, yang tidak bermanfaat bagi mereka.
10. Karena para sahabat mendapat ilmu, hikmah dan nasehat secara langsung dari Kanjeng Nabi yang sangat sesuai dengan karakternya dan tingkat ketakwaannya, sehingga para sahabat itupun semakin meningkat ketakwaannya dan akhirnya menjadi sahabat-sahabat yang agung di kalangan manusia. Yang masyhur kesholehan dan ketakwaannya di masyarakat juga kontribusi kebaikan mereka pada masyarakat sangat dirasakan hingga hari ini. Karena mereka mendapat tarbiyah langsung dari sirr Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
11. Maka tidak heran, banyak para sahabat itu betah berlama-lama mendulang ilmu, mengais hikmah, melihat amaliyah hingga bercengkrama akrab dengan Kanjeng Nabi. Sehingga mereka benar-benar paham bagaimana memahami dawuh Kanjeng Nabi dan mengamalkan dawuh beliau.
12. Tujuan para sahabat memahami ajaran Kanjeng Nabi adalah agar bisa dipakai untuk kebaikan umat manusia. Sehingga ajaran mulia Kanjeng Nabi pun terbumikan di tengah masyarakat.
Karena mereka benar-benar paham mulai teori, pengamalannya dan segala penjelasannya, maka para sahabat paham bagaimana kebaikan menurut Gusti Allah dan Rosul-Nya. Jadilah para sahabat itu orang-orang mulia dan jadi teladan utama dalam kebaikan bagi semua umat Kanjeng Nabi hingga hari kiamat yang manfaatnya nyata terasa hingga hari ini. Para sahabat pun memperoleh derajat yang tinggi di masyarakat dan di sisi Gusti Allah.
Ini jadi hikmah pentingnya nyantri dan ngaji pada ulama yang ilmunya sambung dengan para sahabat. Sehingga sirr ilmunya juga nyambung dengan sirr Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan agar punya komitmen memanfaatkan ilmu itu demi kebaikan diri dan umat Kanjeng Nabi semuanya.

No responses yet