Pasal Tawadhu’ Kanjeng Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Sayyidina Hasan RA
Lanjutan..
قال : فسألته عن مخرجه كيف يصنع فيه ؟ قال : كان رسول الله ﷺ يخرن لسانه إلا فيما يعنيه ، ويؤلفهم ولا ينفرهم ، ويكرم كريم كل قوم ويوليه عليهم ، ويحذر الناس ويحترس منهم من غير أن يطوي عن أحد منهم بشره وخلقه ، ويتفقد أصحابه ، ويسأل الناس عما في الناس ، ويحسن الحسن ويقويه ، ويقبح القبيح ويوهيه ، معتدل الأمر غير مختلف ، لا يغفل مخافة أن يغفلوا أو يميلوا ، لكل حال عنده عتاد ، لا يقصر عن الحق ولا يجاوزه . الذين يلونه من الناس خيارهم ، أفضلهم عنده أعمهم نصيحة ، وأعظمهم عنده منزلة أحسنهم مواساة ومؤازرة
“Sayyidina Husain bertanya lagi: Kutanyakan pula tentang perilaku Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat di luar rumah, apa saja yang dilakukannya?
Ayahku (Sayyidina Ali) menerangkan: Kanjeng Nabi Muhammad SAW selalu menjaga lisannya kecuali pada perkataan yang bermanfaat (1).
Beliau selalu mendekati umat, tidak menjaga jarak dengan umat (2). Beliau memuliakan orang yang terhormat di antara satu kaum dan beliau serahkan tanggung jawab kepemimpinan kaum itu pada orang terhormat itu (3). Beliau selalu mengingatkan umat. Beliau lindungi mereka (4). Dan beliau tidak menutupi kesenangan dan perilaku beliau (5).
Beliau peka bila ada di antara sahabatnya yang tidak hadir (6). Beliau selalu menanyakan keadaan umat pada para sahabatnya (7).
Beliau menegaskan kebaikan itu baik serta memperkuatnya. Beliau menegaskan keburukan itu buruk dan menghapusnya (8). Beliau menempuh jalan tengah di tiap urusan tanpa mengundang perselisihan (9).
Beliau tidak pernah lengah, karena takut kalau para sahabat jadi lengah juga atau jadi tidak punya pendirian (10). Baginya, tiap hal diperhitungkan dahulu (11). Beliau tidak mengurangi kebenaran dan tidak pula melampauinya (12).
Orang-orang yang ikut di belakang Kanjeng Nabi adalah sebaik-baiknya manusia (13). Manusia terbaik menurut beliau adalah yang banyak mengajak pada kebaikan (14). Manusia yang paling tinggi martabatnya adalah orang yang paling baik keteladanannya dan pertolongannya (15)”
Penjelasan:
1. Yaitu menjaga lisan dari kata-kata kotor dan membatasi perkataan dengan bicara yang bermanfaat dan seperlunya saja.
2. Kanjeng Nabi sangat merakyat, luwes, ramah dan menerima semua uneg-uneg umatnya. Selama umat itu tidak punya sengketa dengan Kanjeng Nabi SAW.
Kanjeng Nabi SAW juga tidak anti sosial hingga berbuat hal yg membuat umatnya lari darinya. Beliau selalu memberi maaf, mengakrabi umat, mendengar keluhan dan welas asih pada umatnya.
3. Kanjeng Nabi selalu menghormati orang yang dihormati kaumnya dengan cara yang diizinkan Gusti Allah. Lalu menjadikan orang terhormat itu wakil dan pimpinan bagi kaumnya, karena sudah tabiat satu kaum, hanya akan mematuhi orang terhormat di kalangan mereka sendiri. Lalu orang terhormat tersebut dinasehati agar menjadi pimpinan yang mengayomi dan adil bagi kaumnya.
4. Kanjeng Nabi selalu mengingatkan satu bahaya, memperingatkan adzab Gusti Allah, mengajak mereka menuju ketaatan, menjadi pelindung dari serangan orang luar. Dan Kanjeng Nabi punya keistimewaan punya hati yang hidup sehingga terus terjaga.
5. Kanjeng Nabi selalu menjaga dirinya dari sifat tercela berupa berpura-pura baik di depan, cuek pada umatnya, membuang muka dan perilaku tidak sopan lainnya. Sehingga Kanjeng Nabi selalu berperilaku akrab, tidak jaim dan grapyak dengan umatnya.
6. Kanjeng Nabi selalu sadar bila ada orang yang tidak hadir di muka umum, lalu menanyakan keadaan sahabatnya yang tidak hadir tersebut. Jika sakit, maka Kanjeng Nabi menjenguknya. Jika bepergian, Kanjeng Nabi mendoakan keselamatan. Jika wafat, Kanjeng Nabi menziarahi makamnya dan memintakan ampun baginya.
7. Beliau selalu bertanya pada sahabat yang diserahi tugas memimpin kaum, tentang keadaan kaum yang dipimpin sahabatnya itu. Guna mengontrol keamanan umat, mencegah kedzoliman orang dzolim, membantu pihak yang didzolimi dan membantu orang yang tidak berdaya. Sehingga saat ada masalah di antara umat, beliau langsung tahu.
Maka ini jadi hikmah bagi para pejabat pemerintah untuk selalu rajin mengontrol kesejahteraan dan keamanan rakyatnya.
8. Setiap kaum ada budaya dan adat istiadat. Kanjeng Nabi sangat memahami hal tersebut. Namun Kanjeng Nabi sebagai pemilik syariat Gusti Allah dan pemimpin umat, berwenang menentukan mana adat yang baik dengan memuji adat itu dan kadang ikut melakukan adat tersebut. Juga menentukan mana adat yang buruk, menunjukkan keburukannya lalu menghapus dan mengganti adat tersebut dengan adat yang lebih baik yang sesuai syariat.
Ulama-ulama Nusantara meniru metode Kanjeng Nabi tersebut. Mengakomodir budaya setempat dengan cara menyelaraskan adat dengan syariat, misal menghapus adat memberi sesajen pada kuburan, menggantinya dengan mengirim pahala sedekah untuk orang mati.
9. Kanjeng Nabi saat memberi keputusan pada satu perkara selalu berdasarkan asas keadilan tanpa pandang bulu, bukan atas kecenderungan pada satu pihak. Sehingga setiap kebenaran ditegakkan dan ditunjukkan kebenarannya. Begitu juga setiap keburukan dirobohkan dan ditunjukkan keburukannya. Setiap keputusan hukum yang dikeluarkan Kanjeng Nabi tidak akan pernah menyelisihi asas tersebut. Sehingga semua pihak puas dengan keputusan beliau.
10. Maka Kanjeng Nabi juga tidak pernah lelah selalu mengingatkan pada para sahabatnya untuk selalu menegakkan keadilan dan selalu condong pada kebenaran walau itu pahit. Tidak boleh ada kongkalikong di pengadilan, kolusi, korupsi atau berdasar kepentingan golongan tertentu.
Yang benar katakan benar walau itu dari golongan lain, yang salah katakan salah walau itu dari golongan sendiri.
Begitu juga masalah ibadah kepada Gusti Allah.
11. Kanjeng Nabi selalu memperhitungkan segala sesuatu, dengan mendiskusikannya, berusaha memperoleh gambaran lengkap, menimbang dampak positif negatifnya, menunggu saat yang tepat, selalu teliti sebelum memutuskan sesuatu. Tidak pernah beliau terburu-buru membuat keputusan atau bingung dalam menghadapi sesuatu. Sehingga segala keputusan beliau itu tepat sasaran, terukur dan visi misinya jelas.
Contoh saat menerapkan strategi-strategi mengatur pergerakan militer yang beliau terapkan saat menghadapi peperangan.
12. Kanjeng Nabi tidak akan mengurangi hak orang lain dan tidak akan melebihkan hak orang lain. Semua pas sesuai jatah hak dan kadar yang telah ditentukan dan disepakati.
13. Sebaik-baik manusia yang ada di sisi Kanjeng Nabi SAW adalah manusia terbaik, yang mewarisi ilmu Kanjeng Nabi atau ahli ilmu (ulama) dan orang yang mengikuti ulama (para santri). Yang mengajarkan manusia tentang halal haram satu hal dengan tujuan memperbaiki hidup manusia itu sendiri. Karena ahli ilmulah yang punya pemahaman pentingnya ilmu dan selalu punya komitmen untuk menyebarkan ilmu tersebut.
Ini bisa dilihat dari hikmah dawuh Kanjeng Nabi SAW
ليليني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sungguh orang yang pantas berada di sampingku (di dekatku) adalah kalian yang dewasa dan berakal (sadar maqom diri dan berilmu), kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya”
14. Manusia terbaik menurut Kanjeng Nabi adalah yang mewarisi ilmu para Nabi, mengamalkannya dan menyebarkannya. Karena nasehat butuh ilmu, pengamalan dan menyebarkan ilmu tersebut.
15. Orang yang punya akhlak baik dan suka membantu kesusahan orang lain, adalah paling mulianya manusia menurut Kanjeng Nabi. Merekalah yang patut jadi acuan kita bagaimana seharusnya manusia berperilaku dan berbuat. Maka kita jangan sampai salah memilih idola, mbah.

No responses yet