Keluarga Nabi saw disebut ahlu bait. Terdiri dari istri, anak dan kerabat dekat lainnya yang diikat oleh taqwa dan amal saleh.

Habib adalah istilah baru yang tidak bersumber dari sunah sahihah, merupakan kultur atau tradisi orang Yaman menyebut keturunan Rasulullah dari trah Husein ra — sedang trah Hasan ra disebut Syarif atau Hasaniyah.

^^^*
Ahlu-Bait Dalam Perspektif Teologis

Ahlu-bait disebut dalam berbagai sandaran syar’i dan sunah sahihah. Diantaranya adalah sabda nabi saw :’ Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku” (HR Muslim no 2408)

Abu Bakar ra berkata : ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri” (HR Al-Bukhari no 3711)

‘Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat dengan aku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa saja mereka dan di mana saja mereka” (*HR Ahmad no 22052)

Sesungguhnya Ahlul Bait memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, padahal masalah nya tidak demikian, sesungguhnya para wali-waliku dari kalian adalah orang-orang yang bertakwa, siapapun mereka dan di manapun mereka” (HR At-Thobroni 20/120

^^^^^*
Habib Adalah Tradisi Yaman

Istilah habib adalah istilah baru, sebutan untuk keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ahlul bait yakni istri, anak, dan kerabat beliau.

Di kisahkan, seseorang di Baghdad (tidak tau dia sunni atau syiah) yang mengaku ahlul bait, mengungsi ke Hadrahmaut Yaman. Lalu keturunannya membuat aturan-aturan dalam keluarga dengan sebutan habib, habibah karena klaim sebagai keluarga Nabi dari trah Husain ra.

Dan mereka menyebut syarif atau hasaniyah, atau syarifah bagi keturunan Hasan ra . Kemudian keturunan mereka menyebar di beberapa negara, dan saling berkomunikasi dengan menyebut habib.

^^^^
Rasulullah saw berdiri ketika turun ayat, ” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214). Lalu beliau berkata, “Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206).

Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah orang yang saleh meskipun nasabnya jauh dariku, dan tidaklah termasuk waliku orang yang tidak saleh meskipun nasabnya dekat” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87)

Meski keturunan manusia paling Agung, Ahlu bait ( menurut sunah) atau habib ( dalam tradisi Yaman) adalah manusia biasa bukan manusia suci yang tidak bisa salah— sebab yang suci dan terjaga dari salah (ma’shum) hanyalah baginda Nabi saw bukan keluarga atau keturunannya— Wallahu taala a’lam

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *