Dari Muadz bin Jabal Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (Sahih Tirmidzi no. 2505. 

*^^^*

Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut (sebelum matimu) : Madarijus Salikin, 1: 176. 

Imam Syafi’i berkata: ‘Kita memberantas penyakit bukan membasmi orang-orang yang lagi sakit. Bencilah terhadap perbuatan maksiat dengan sepenuh hatimu tapi maafkanlah dan kasihanilah orang yang berbuat maksiat’.

Syaikh Ibnu Athali’ah rahimakullah dalam kitab Al Hikam berkata : ‘perbuatan ma’siat yang membawa tobat lebih baik dibanding perbuatan baik yang membawa sombong’— jadi jangan pernah sepelekan lonte, penjudi, pemabuk, bandar, kecu atau profesi buruk lainnya yang membawa pelakunya merasa hina, merasa rendah,  kemudian bertaubat atau sebaliknja.  Bukan membiarkan atau membenarkan perbuatan ma’siyat tapi berhati-hatilah dengan lisannmu dengan saudaramu yang sedang khilaf. 

*^^**

Dua jargon revolusi: revolusi mental dan revolusi akhlaq. Aku tak mau keduanya. Saya suka perang jika yang dilawan jelas: Yahudi, Nasrani atau kaum kuffar lainnya. Head to head. Baku tembak di medan laga. Jihad adalah tujuan mulia. Mati syahid masuk surga siapa tak ingin ?

Tapi ini lawan kita sesama muslim. Muslim yang dikaferkan. Muslim yang 

disesatkan atau dicap munafik karena tak sehaluan. Kebetulan yang satu menang Pilpres yang satu kalah, terus saya mau bela siapa, berpihak pada yang mana ? Yang satu bilang  curang zalim, tidak adil, menjual negara. Satunya bilang kamu intoleran, ekstrim fundamentalis, radikal atau lainnya. Dua muslim bertengkar, bela yang mana ? 

Jadi ini persoalan subyektif. Pada kedua kelompok ada ulamanya ada habib nya ada kyai nya dan berniat sama : menegakkan izzul Islam. Dua kutup Islam saling berhadapan.   Saling menafikkan, saling mengkaferkan dan saling menyesatkan atas nama nahy munkar. Bawa kitab yang sama, nabi yang sama, iman yang sama, aqidah juga sama, lantas apa yang menyebabkan keduanya bertengkar. Kiran-kira siapa yang ketawa dan mengambil keuntungan. 

*^^^^*

Tujuan yg sama. Mungkin caranya berbeda atau kebetulan calon yang di dukung keok atau kalah. Tapi apa yang kemudian dicari : Kekuasaan, kekayaan, pengaruh, harta perdagangan, wanita, legitimasi atau pujian ? 

Revolusi mental dan revolusi akhlaq — perang jargon, perang identitas jauh dari substansi. Kejar-kejaran berebut baliho, spanduk dan bendera atau umbul-umbul. Siapa yang dimenangkan sebagai pahlawan atau dikalahkan dicap pecundang. Lantas siapa yang jual negara, jual agama, jual diri untuk sejumput kekuasaan. Wallahu taala a’lm. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *