Kemarin saya dikunjungi guru dan mentor saya dalam bidang Filologi dan Kajian Naskah Kuno, yaitu Dr. Yulfira Riza, M.Hum. Puti Tanjung Sari (foto tengah), yang baru saja menyelesaikan doktor bidang Filologi di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Beliau datang bersama keluarga. Kata beliau, membuka perbicaraan siang itu, saya adalah orang yang dikunjunginya pertama setelah keluarga, sehabis sidang promosi dan wisuda. Sebenarnya saya merasa segan, kenapa tidak? Guru mengunjungi murid. Takut melanggar adab. Namun saya tentu tidak menolak keberkahan, yaitu di saat guru mengunjungi murid, ibarat turun keberkahan dari Allah Jalla Jalalahu.

Tahun 2008, dua belas tahun silam, beliau mulai mendidik dalam disiplin keilmuan, yang saat itu asing bagi saya. Seiring waktu guru dan murid itu sering bertukar fikiran, diskusi. Apalagi suami beliau Pak Afandi Dt. Bunta Ahmad Afandi Dt Bunta, adalah “teman” diskusi yang hangat, dan berkesesuaian. Terutama kami yang memilih “jalan berbeda” dari kebanyakan netizen Minang di Medsos, dalam soal sosial politik masa kini.

Sampailah kami berdiskusi soal Syaikh Abdullatif Syakur, ulama darek yang produktif menulis, namun namanya tidak begitu banyak dibicarakan. Setidaknya ada 63 karya beliau yang terdeteksi. Ulama ini terbilang unik. Selain ulama, da’i, guru, ia juga ahli qira’at, qashidah, penulis (terutama dalam Bahasa Arab), dan lain-lainnya. Meskipun ulama ini, secara pemikiran, cenderung kepada Kaum Muda, namun ia dapat memposisikan diri sebagai seorang yang netral di antara teman-teman sejawatnya seperti Syaikh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi dan Syaikh Abdul Karim Amrullah Maninjau.

Akhirnya dosen dan mentor saya tersebut tertarik menjadikan Syaikh Abdullatif Syakur sebagai fokus penelitian doktoral di seberang. Maka dipilihlah satu naskah karya Syaikh Abdullatif yang menarik, yaitu Naskah Perempuan (al-Mu’asyarah), terdiri dari tiga kuras, tulisan tangan, yang berbicara seluk beluk perempuan, zhahir batin, secara lengkap. Teks ini dijadikan objek kajian, dan alhamdulillah, beberapa saat yang lalu lulus dalam sidang disertasi. Alhamdulillah.

Maka Dr. Yulfira Riza, M.Hum. adalah doktor ke-2 yang basis kajiannya ialah naskah Syaikh Abdullatif Syakur setelah Dr. Ridhoul Wahidi (Universitas Islam Inderagiri). Dan saya sangat berbahagia, bahwa telah berkecambah kajian-kajian akademis terhadap karya tulis ulama Minangkabau. Dan, sebenarnya kawan, saya tukang provokasi peneliti untuk meneliti karya ulama Minang, dan saya ingin “melawan” (dalam tanda kutip) beberapa akademisi yang menutupi sumber (data); saya membuka semua data/sumber/ manuskrip untuk siapapun.

Penemuan karya tulis syaikh abdullatif syakur

Tahun 2012 saya memijakkan kaki di Ciputat. Suatu sore, saya berjalan dengan Dr. Ibrahim Sulaiman (Dosen UIN Makassar). Ketika itu saya melihat toko kitab, dan mengajang Daeng Sulaiman singgah. Tidak disangka, pemilik toko kitab ialah Abuya Ashfi Bagindo Pakiah, yang saat itu kenal saya, gegara web surautuo.blogspot.com. di situ mulai keakraban, dan akhirnya saya menjadi muridnya. Cerita demi cerita beliau paparkan. Sampailah beliau bercerita soal buyutnya Syaikh Abdullatif Syakur Balaigurah dan kitab-kitabnya. Dari situ saya bersepakat, bila pulang ke Minang nanti, akan mampir ke Balaigurah untuk melihat koleksi tersebut.

Bulan Februari 2013, saya dapat melihat kitab-kitab tersebut; membuka lemari, menyusun, dan merapikan beberapa kitab. Pada tahun 2015 saya membawa beberapa peneliti IAIN Padang (sekarang UIN Padang) untuk melakukan digitalisasi dan penelitian. Kabarnya beberapa peneliti tersebut telah membuat katalog terhadap naskah. Kelanjutannya saya tidak tahu lagi, karena saya undur diri dari tim peneliti tersebut.

Siapa syaikh abdullatif syakur

Beliau wafat 1963 di Balaigurah, Ampek Angkek, Agam. Ketika masih kecil, beliau berangkat ke Mekkah, belajar agama belasan tahun lamanya. Di antara guru-gurunya di Mekkah, ialah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Khatib Ali Padang, Syaikh Khatib Alim Kumango, dan Syaikh Rukunuddin Rawa.

Cerita yang berkesan bagi saya, tentang beliau, ada 3:

(1) Beliau bersua hantu di Silaiang

(2) Beliau diarak ke dermaga, ketika akan ke Mekkah, dengan dendang Barzanji

(3) Beliau belajar Bahasa Urdu di kapal sebelum ke Mekkah

Rahimahullah…

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *