Saat pertama kali mengenal sosok Mahar dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, saya langsung ingat Ahmad Basuni, teman satu kelas selama tiga tahun di Pulau Tidung Kepulauan Seribu. 

Mahar sosok anak yang punya kelakuan unik, nyentrik, menyukai seni, dan hidupnya seperti tak punya masalah barang satu pun. Begitu juga Basuni. Mahar punya senyum yang mengembang dengan wajah anak-anak yang tampan di masanya. Begitu juga Basuni. 

Dalam banyak hal, Mahar mampu menggerakkan laskar pelangi, begitu juga Basuni. Kelas satu Tsanawiyah, Basuni sudah mendirikan grup musik dengan anggota lengkap. Dari gitaris hingga vokalis. Jangan bayangkan alat musik mereka seperti yang digunakan grup-grup musik seperti sekarang.

Mereka memang punya gitar. Seingat saya tiga buah. Tapi gitar itu terbuat dari papan yang biasa digunakan untuk tubuh kapal nelayan. Ditambah dengan tali nilon berbagai ukuran. Tali itu gampang didapatkan sebab biasa digunakan untuk memancing dan dijual di toko-toko kelontong di pulau kami. 

Bagaimana dengan gendang? Mudah saja. Dibuat dari kaleng biskuit ditutup plastik tebal. Kaleng biskuit banyak didapat sisa lebar. Satu besar, satu lebih kecil. Sedang besi pelantang untuk mengiringi gendang dibuat dari tutup panci. Semua alat-alat itu, Basuni yang membuat. Saya sering menikmati grup musik ini sebab sering konser di jalan pinggir pantai. 

Basuni punya bakat melukis. Setahu saya lukisannya paling bagus di antara semua anak di angkatan kami. Kalau ia tak suka dengan pelajaran, ia melukis. Lukisan terbaiknya adalah kapal muroami, tempat orang pulau mencari penghidupan hingga Belitong.

Lulus Tsanawiyah, kami berpisah. Ia melanjutkan Madrasah Aliyah di Lebak Bulus, saya masuk pesantren di Kedoya. Bersama Ahmad Munthoi, saya beberapa kali kami pernah bertemu untuk sekedar melepas kangen. 

Munthoi, teman kelas lain memang lebih akrab ketimbang saya. Keduanya tergabung dalam satu kelompok yang saya lupa namanya. Meski begitu, Basuni dan Munthoi punya beda yang mencolok. Munthoi setahu saya tak punya potongan seni. Ia tak menyukai seni rasanya. 

Bakat dan minat itu rupanya terus menempel hingga Basuni berkeluarga. Ia membuka jasa fotografi dan desain. Usahanya sudah terkenal seantero pulau. Bagaimana itu berkembang, saya juga tak tahu persis sebab saya tak lagi di pulau. 

Entah bagaimana ceritanya sejak beberapa tahun belakangan, ia punya sakit menahun. Saya bertemu terakhir kali setahun lalu ketika ia dirawat di rumah sakit di Jakarta Utara. Meski agak sedikit kepayahan, seyumnya masih seperti 26-an tahun lalu. Renyah. 

Waktu saya dan Ahmad Munthoi datang, wajahnya kelihatan senang dan matanya berbinar-binar. Kami mengajak bicara macam-macam. Ia menjawab sekali-kali. “Salam dari teman-teman Tsnawaiyah, Nel,” kata Munthoi. “Terima kasih, salam juga untuk teman-teman. Terima kasih doanya,” jawabnya.

Nel itu lengkapnya Onel. Nama samaran yang memang pernah beken dan melekat hingga kami berkeluarga. Saya sudah lupa dari mana Basuni dapat nama itu. Kalau Ahmad Munthoi, saya tahu. Elga, nama samarannya kalau tak salah dapat dari merek sepatu. 

Tadi sore, kami bersedih mendengar kabar ia betul-betul “pergi” akibat sakit di usia yang sama dengan usia saya saat ini. Selamat jalan teman! Terima kasih atas persahabatan ini.

Kalimulya, 11 Desember 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *