Imam Ghozali dawuh, faktor utama yang bikin orang luput buat ingat mati adalah suka panjang angan-angan (thulul amal). Yaitu menunda amal baik dan gak beranjak dari keruwetan mikir materi, mensia-siakan umur tanpa aksi seakan-akan merasa bakal hidup selamanya. Padahal kematian itu pasti datang kapan saja. Maka gak heran, sifat demikian itu sumber ketololan (‘ainul jahl).
Kanjeng Nabi Muhammad SAW menasehati Sayyidina Abdullah bin Umar RA
إذا أصبحت فلا تحدث نفسك بالمساء، وإذا أمسيت فلا تحدث نفسك بالصباح، وخذ من حياتك لموتك، ومن صحتك لسقمك، فإنك يا عبد الله لا تدري ما اسمك غدا
“Kalo kamu di pagi hari, jangan mengkhayalkan apa yang akan kamu dapat di sore hari. Kalo kamu di sore hari, jangan mengkhayalkan apa yang akan kamu dapat di pagi hari. Ikatlah kehidupanmu dengan saat kematianmu. Ikatlah sehatmu dengan saat sakitmu. Karena di hari esok itu, Hai Abdullah, kamu tidak akan tahu kamu bakal jadi apa”
Kanjeng Nabi SAW dawuh
إن أخوف ما أخاف على أمتي خصلتان : اتباع الهوى وطول الأمل
“Ketakutan terbesar yang ditakutkan menimpa umatku itu ada 2 ketakutan : selalu menuruti hawa nafsu dan panjang angan-angan”
Jadi yg namanya ingat mati, menurut Imam Ghozali, adalah sifat tidak pernah yakin 100% bahwa dia akan terus hidup dan terus enak-enak hingga detik berikutnya. Mindsetnya selalu berkata bahwa di dalam satu kehidupan pasti ada kematian yang datang gak diduga, dalam satu keberhasilan pasti ada kejatuhan yang gak disangka.
Akhirnya mindset ini membuat seseorang punya karakter gak akan mensia-siakan satu momen, gak banyak rencana, gampangan, yang penting aksi dan amalnya dulu daripada waktunya terlalu ruwet mikir rencana. Sehingga punya motto “Berangkat dulu, pikir sambil jalan”. Karena kalo kebanyakan mikir, gak akan pernah jadi apa yang dipikir itu. Takut keduluan mati dan kehilangan momen.
Dan di setiap aksi dan amalnya, dia punya mindset tidak pernah yakin gak bakal ada kendala, dia selalu siap alternatif-alternatif dan cadangan aksi yang dipakai bila satu rencana gagal. Untuk menemukan alternatif itupun tidak akan pernah tahu kalo belum pernah punya aksi sebelumnya.
Dan puncaknya, seorang yang punya mindset demikian, tidak pernah punya anggapan dirinya bakal mampu menguasai hidupnya sendiri. Selalu ada “faktor X” yang gak bisa dihindari dan jadi garis batas kemampuannya sebagai makhluk. Dan itu datangnya dari Gusti Allah. Semua mindset itu gak bakalan dipunyai kalo kita masih punya pikiran panjang angan-angan.
Sehingga kalo dalam urusan peribadatan, dia gak menunda taubat, gak menunda amal baik dan gak menahan hak orang lain. Dalam urusan dunia, dia segera mengambil kesempatan baik tanpa ragu, tidak menyesali yang sudah terjadi dan selalu berpikir ke depan dengan berpijak masa lalu. Ini semua mindset orang sukses, bergairah dalam hidupnya dan bermental kaya.
Maka kita jangan suka panjang angan-angan. Karena panjang angan-angan ini benar-benar mindset seorang bermental miskin yang gak bakal siap dengan apa yang bakal terjadi. Hidup tanpa aksi, sukses cuma di angan-angan, artinya hidup yang gak layak dijalani. Kalo gak punya aksi dan kesiapan, pasti digulung dan tergulung oleh badai zaman.
Obatnya panjang angan-angan itu selalu ingat mati, mbah.
Kanjeng Nabi SAW dawuh
نجا أول هذه الأمة باليقين والزهد، ويهلك آخر هذه الأمة بالبخل والأمل
“Kejayaan generasi pertama umat ini karena faktor keyakinan dan kezuhudan, jatuhnya generasi akhir umat ini disebabkan faktor pelit dan suka panjang angan-angan”
Kanjeng Nabi SAW pun memberi tips biar sukses dunia akhirat
قصروا آمالكم، واجعلوا آجالكم بين أبصاركم، واستحيوا من الله حق الحياء
“Perpendek angan-angan kalian, jadikan kematian itu selalu dekat di depan mata kalian, pasang mindset hidup kalian untuk menghidupi hidup anugerah Gusti Allah ini dengan mindset sejatinya hidup”

No responses yet