Categories:

Oleh: Sartika Hikmaniarawati (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

Manuskrip merupakan naskah kuno yang memiliki usia lebih dari 50 tahun, naskah tersebut adalah segala macam dokumen buatan tangan manusia secara langsung baik ditulis maupun diketik. Manuskrip ini menurut kbbi adalah naskah tulis tangan yang menjadi kajian filologi. Banyak sekali manuskrip yang ada di dunia ini, mereka ada yang disimpan ditempat khusus manuskrip ada juga yang disimpan secara pribadi. Di Indonesia sendiri banyak sekali naskah kuno baik yang sudah diteliti maupun belum diteliti. Semakin canggih teknologi semakin memudahkan kita dalam mengakses sesuatu tak terkecuali digitalisasi naskah kuno atau manuskrip. Dengan adanya digitalisasi naskah kuno ini bisa memudahkan mahasiswa dalam menjangkau manuskrip tanpa harus pergi jauh untuk melihat naskah tersebut.

            Salah satu naskah yang saya temui terdapat pada laman web lektur.kemenag.go.id  dengan kode naskah LKK_WONOSOBO2015_MAR06 yang berjudul Nur Muhammad. Naskah ini merupakan naskah yang berasal dari daerah Wonosobo Jawa Tengah. Naskah tersebut memakai bahasa jawa namun menggunakan aksara Arab Pegon. Naskah ini merupakan prosa, memiliki jumlah halaman sebanyak 116 halaman, dan menggunakan kertas Eropa sebagai alasnya memiliki ukuran 21×17 cm. Naskah ini tidak diketahui penulisnya dan kondisi fisik naskah ini kurang bagus atau tidak lengkap, ada bagian yang sudah robek dan tidak bisa dibaca tulisannya. Tidak diketahui juga berapa banyak lembaran yang robek karena tidak memiliki halaman. Dikatakan bahwa pemilik naskah ini adalah K.H M. Amin Ridlo yang disimpan di Pesantren Manbaul Anwar, Desa Krasak Mojotengah, Wonosobo. Tahun penulisan naskah ini juga tidak diketahui, naskah ini tidak ditemukan watermark dan garis halus dan kasar didalamnya.

            Naskah ini juga tidak memiliki nomor halaman dan tidak ada kata alihan pada setiap halamannya. Dalam naskah ini tidak terdapat iluminasi dan ilustrasi yang menjelaskan isi teks. Tinta yang digunakan untuk menulis naskah ini berwarna hitam dan tidak ada rubrikasi di dalamnya. Teks yang masih ada dapat dibaca dengan jelas dan baik. Naskah ini memiliki sampul berwarna hitam polos, naskah ini dijilid dengan benang. Naskah ini ditulis dengan tulisan tangan dan memiliki beberapa tanda baca yang berbeda pada umumnya. Mengenai isi, naskah ini berisi tentang sejarah Nabi Muhammad SAW dari sebelum kelahiran nabi, masa kelahiran nabi, dan riwayat ka’bah. Didalam naskah ini dikatakan bahwa bukan hanya berisi tentang sejarah nabi namun juga berisi tentang nasihat-nasihat yang disampaikan. Kemungkinan naskah ini ditulis oleh kyai atau ulama untuk mendakwahkan islam dan memberi tahu mengenai sejarah Nabi Muhammad kepada muridnya ataupun masyarakat disitu. Bukan hanya memberi tau tentang sejarah saja akan tetapi diberi nasehat-nasehat agar masyarakat tidak salah jalan dan bukan hanya mengetahui sejarahnya saja.

Adapun beberapa kutipan awal dari naskah ini adalah sebagai berikut :

Kaisah siti aminah atangi atutur marang ibu nira supenane dalu

Iyu kawuro nyumpeno apanggih lan enuh Nabi, atutur sedoyo

Adapun kutipan akhir naskah ini adalah sebagai berikut :

Tegese tauhid iku pun manggih ing sejati Allah sifat murah biyung

Panedamu ing tauhid anggene nyata patamuneku lamon Gusti timanariha

Kurang lebih seperti itu isi naskahnya, bagian akhir naskah ini sulit untuk dibaca karena banyak sekali bagian yang robek dan tulisan yang kurang jelas dikarenakan kotor seperti terkena air, menjadi tidak jelas untuk dibaca. Namun bagian depan dan tengah masih layak dan masih sangat bisa untuk dibaca. Sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya kita menjaga peninggalan budaya kita dengan baik, jangan sampai kita orang Indonesia namun kita tak memiliki catatan sejarah mengenai Negara ini, padahal banyak sekali sejarah di Indonesia terlebih Negara ini banyak sekali daerah dan suku, budaya serta agama. Yang pastinya banyak sekali peninggalan-peninggalan yang belum diketahui masyarakat awam pada umumnya.

Astagfirullahhal’adzim Wallahu a’lam bisshawab.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *