(Sebuah Catatan Santri untuk Guru dan Kyainya)

Oleh: M. Habib A. Syakur

Saya mengenal beliau sejak tahun 1973, ketika itu saya kelas III MI di Klaten, ikut kakak saya KH Drs. Ja’far A. Syakur (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Srimpi Karangmojo Gunungkidul) mondok “pasanan” di Krapyak. Mas Ja’far waktu itu kelas III MTs Krapyak.

Saya mondok “pasanan” hanya betah 11 hari, tetapi saya sudah merasa mencicipi ilmu membaca al-Qur’an dari Mas Najib (panggilan al-Maghfur lahu KH R. M. Najib Abdul Qadir) saat itu. Saya lupa, apakah saya lulus bacaan Surah al-Fatihah saat itu atau tidak. Tetapi nama Mas Najib sangat membekas di dalam benak saya.

Baru pada tahun 1976 saya benar-benar menjadi santri Krapyak. Saya tidak mengaji al-Qur’an kepada Mas Najib, tetapi kepada al-Maghfur lahu KH Ahmad Munawwir di Komplek L. Ketika itu Mas Najib, kalau tidak salah, masih mondok di Kudus untuk mengkhatamkan qira’ah sab’ah kepada al-Maghfur lahu KH Arwani Amin Kudus. Setelah Mas Najib boyong dari Kudus, baru saya mengaji al-Qur’an kepada beliau.

Perlu diketahui, pada saat itu panggilan “Gus” untuk putra-putra Kyai Krapyak belum populer. Akan tetapi setahu saya, setelah al-Maghfur lahu boyong dari Kudus, panggilan “Gus” baru disematkan kepada beliau, dan beliau lah satu-satunya putra Kyai Krapyak yang saya panggil dengan sebutan “Gus”.

Ketika mengaji al-Qur’an kepada beliau, saya betul-betul memperhatikan cara membaca beliau. Bagaimana menepatkan makharij al-huruf, shifat al-huruf, ahkam tanwin wa nun taskun ‘ind al-hija’ (hukum tanwin dan sukun ketika bertemu huruf hija’iyah), ahkam al-mim al-sakinah (hukum mim sukun), madd, fawatih al-suwar, ghara’ib al-qira’ah dan lain-lain. Saya sangat terkesan dan mencoba membaca sebagaimana ketika beliau membaca huruf “jim”, “shad”, “syin” dll yang tidak sama dengan bacaan kebanyakan orang. Begitu juga bacaan huruf-huruf qalqalah ketika sukun. Bahkan yang sangat menarik adalah ketika beliau membaca “isymam” pada ungkapan “La ta’manna” di Surah Yusuf, saya merasa hati saya bergetar, karena bacaan “isymam” beliau sangat menusuk hati dan terasa sangat sesuai dengan alur ceritanya. Saya membayangkan kakak-kakaknya Nabi Yusuf AS ketika berbicara kepada Nabi Ya’qub AS dengan intonasi dan nada suara sebagaimana yang beliau baca.

BERSAMBUNG… (إن شاء الله)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *