Beliau  mengajar di Madrasah Muallimin Muallimat Tambakberas selama puluhan tahun. Bahkan beliau adalah guru dari istri saya saat di Muallimat, dan sekarang menjadi guru dari anak-anak saya.

Alhamdulillah pagi tadi kami dapat hadiah kitab baru karya beliau yang berbahasa Arab. Kitab ini membahas tentang kaedah fiqhiyyah. Kitabnya diberi judul Al Safinah Al Dzahabiyyah.

Kitab setebal 263 halaman ini adalah syarah dari kitab Al Faraid Al Bahiyyah karya Syaikh Abu Bakr bin Abi Qasim Al Ahdali Al Yamani Al Shafi’i. Kitab Al Faraid Al Bahiyyah ini merupakan salah satu kitab yang diajarkan di Tambakberas.

Kiai Abdurrahim yang pernah satu angkatan kuliah S-3 dengan saya ini menulis kitab Al Safinah Al Dzahabiyyah secara ringkas dan mudah dipahami. Hal yang mungkin tidak kita sangka, beliau memberitahu saya bahwa kitab karyanya itu asalnya adalah bahan materi daring untuk pelajar Muallimin Muallimat Tambakberas. Lalu menjadi pegangan  mengajar. Kata Kiai Rohim, “Karena masa pendemi ini banyak waktu luang, jadilah kitab itu.”

Menariknya, kata beliau bahwa kitab Al Faraid yang berbentuk nadzoman ini dahulu saat masih menjadi pelajar di Muallimin Tambakberas sulit dipahami. Namun karena sulit itulah beliau pantang menyerah dan malah mencari komparasi kitab lain seperti Al Ashbah wa Al Nazair dan Al Fawaid Al Jamiyyah agar bisa memahami kitab Al Faraid Al Bahiyyah. Pantang menyerah adalah koentji.

Satu lagi, Syarah ringkas ini juga kadang diselingi dengan menunjukkan posisi struktur nahwu dari suatu nadzoman sehingga memudahkan para santri. Tidak hanya itu, di beberapa halaman, dalil Al-Qur’an maupun hadis dari suatu kaedah juga ditunjukkan.

Kiai Abdurrohim yang putri-putrinya kuliah di ITB dan ITS  ini menjadikan kitabnya lebih “ilmiah” karena ada footnote atau catatan kaki. Selain itu ada beberapa kasus  yang dikaitkan dengan problem kontemporer seperti implikasi dari kaedah:

الأصل فى الاشياء الاباحة الا# ان دل للحصر دليلا قبلا

 Kiai Abdurrohim setelah menerangkan kaedah itu plus masalah nahwu dan dalil dari kaedah itu, kemudian beliau menjelaskan bahwa masalah maupun  produk  kontemporer baik alat-alat perdagangan semisal  mata uang  maupun produk perbankan (asal tidak riba) dan sejenisnya  bisa menggunakan kaedah di atas.

Ala kulli hal, masa pandemi ternyata juga tetap bisa dimanfaatkan bagi yang mau memanfaatkan untuk kebaikan generasi bangsa dan itu dicontohkan oleh Kiai Abdurrohim. Alhamdulillah saya juga bisa berupaya memanfaatkan dengan terbitnya buka saya pada Oktober 2020 berjudul “Kontranarasi Melawan Kaum Khilafers.”

***

Kiai Abdurrohim dan kitab karyanya

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *