Lahir di Desa Pengkol, Kecamatan Sumoroto, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada 1 Januari 1926. Ayahnya petani biasa. Kakeknya dari jalur ayah adalah seorang lurah yang disegani di kampungnya. Sementara kakek dari jalur ibu pernah menjabat sebagai wedono.
Waktu kecil beliau termasuk salah satu dari
dua anak yang bisa tamat sampai kelas enam Sekolah Ongko Loro Brotonegaran pada tahun 1941.
Tidak semua anak desa bisa mencapai tingkatan itu. Sebab pada jaman penjajahan Belanda pendidikan untuk anak pribumi sangat dibatasi.
Setelah itu Kayubi nyantri di Pesantren Waung, Baron, Nganjuk di pesantren asuhan Kiai Bonondo, pakdenya sendiri.
Selama di pesantren, Materi pelajaran kesukaannya di pesantren adalah ilmu nahwu dan ilmu sharaf, dan beberapa ilmu lainnya.
Di tahun-tahun terakhir nyantri di pesantren, seperti halnya anak-anak santri di masa itu, Kayubi ingin masuk bergabung ke Barisan Hizbullah sebuah laskar rakyat yang dibentuk oleh Masyumi usai Proklamasi Kemerdekaan 1945. Namun orang tuanya tidak mengizinkan.
Sepulang dari pesantren beliau langsung mendaftar ke dalam Barisan Hizbullah di Ponorogo dan ikut maju ke medan perang ketika Belanda Agresi Militer pertama Juli 1947.
Setelah adanya perintah peleburan seluruh dewan kelaskaran ke dalam wadah tentara nasional di tahun 1947 beliau bergabung ke dalam tentara reguler, bergabung ke TNI.
Ketika Pemberontakan FDR/PKI di Madiun tahun 1948, Kayubi terjun ke kancah perjuangan menumpas aktor-aktor pemberontakan dan pengkhianatan terhadap NKRI itu.
Operasi militer beliau gelar dari Madiun, Magetan dan Ponorogo.
Ketika Agresi Militer II tentara Belanda menyerang Republik Indonesia hingga masuk ke kota Madiun, Kayubi juga ikut gerilya melawan pendudukan tentara asing itu.
Usai revolusi kemerdekaan, tahun 1952 Kayubi meninggalkan dunia militer dan masuk ke Departemen Agama.
Awalnya beliau bertugas di KUA Jenangan, Ponorogo, mengurus masalah-masalah pernikahan dan cerai.
Pada tahun 1953 beliau dipindah-tugaskan ke Bagian Urusan Agama Islam (Urais) Kantor Departemen Agama Kabupaten Blitar.
Sesibuk apapun di kantor, Kayubi tetap aktif di Kepanduan Ansor NU dan PCNU.
Beliau dipercaya sebagai Ketua Pandu Ansor NU Kabupaten Blitar, merangkap Sekretaris PCNU Blitar (1953-1955).
Kayubi termsuk salah satu pemimpin kontingen dalam acara perkemahan Jambore Nasional Kwartir Nasional Pandu Ansor di Kemayoran, Jakarta pada tahun 1954.
Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi dan menjadi parpol pada Pemilu 1955. Kayubi terpilih sebagai anggota DPRD Kotamadya Blitar dari Partai NU.
Setelah Dekrit Presiden Juli 1959, beliau terpilih menkadi anggota DPRD Kabupaten Blitar dari Partai NU hingga tahun 1968.
Di masa-masa ketegangan NU-PKI di Jawa Timur di tahun 1964-1965, beliau terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang GP. Ansor Blitar.
Tahun 1968 terpilih sebagai salah seorang anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) Kabupaten Blitar dari unsur Partai NU. Jabatan itu diembannya hingga tahun 1977.
Diakui, masa-masa memimpin Ansor merupakan masa yang sangat berat bagi beliau – apalagi di daerah yang merupakan basis PKI. Waktu itu Ansor harus berhadapan dengan pemuda-pemuda PKI dan BTI (Barisan Tani Indonesia). Disahkannya Undang-undang Pokok Agraria tahun 1960 dan UU Bagi Hasil Pertanian tahun 1960 mendorong pemuda-pemuda PKI yang tergabung dalam BTI melakukan aksi-aksi sepihak menyerobot tanah-tanah masyarakat.
Di Jawa Timur, tanah-tanah yang diserobot itu kebanyakan adalah tanah-tanah pesantren milik kiai.
Slogan BTI saat itu adalah “Serobot dulu, urusan belakangan”. Akhirnya bentrokan pun tak terelakkan antara kalangan Ansor dan BTI di desa-desa.
Tak terkecuali Tanah-tanah kiai dipatok semena-mena di desa-desa sekitar Blitar, Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. . Bentrok fisik pun terjadi hampir setiap hari.
PC GP Ansor di Karesidenan Kediri membentuk Koordinator Daerah (Korda) atau Komando Daerah (Komda), semacam keamanan gabungan yang melibatkan beberapa unsur dalam Ansor daerah.
Lagi-lagi Kayubi kemudian ditunjuk sebagai ketua Komda.
Tidak lama setelah itu Komda menyepakati didirikannya lembaga semi-militer berbasis masyarakat di bawah naungan GP Ansor. Fungsinya adalah memperkuat pengamanan tanah-tanah milik masyarakat dan pesantren. Atas dasar pemikiran itulah Kayubi berinisiatif membentuk Barisan Ansor Serbaguna (disingkat Banser).
Dan Kayubi sendiri diangkat sebagai pimpinan, dia disebut “jenderal” Banser.
Selama masa genting tersebut, rumah Kayubi di Jl. Semeru (sekarang Jl. Sudancho Supriadi) disulap menjadi markas Banser. Sementara keluarganya sendiri tinggal di rumah lain.
Bekas pabrik limun berukuran 8 x 25 meter itu tak ubahnyasebagai markas tentara. Ada penjagaan, sandi-sandi tertentu, tempat senjata, dapur, dan beberapa ruang rapat. Setiap hari tempat itu tidak pernah sepi dari anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah. Rata rata mereka membawa aneka macam senjata.
Itulah Markas Komando Banser pertama di Karesidenan Kediri, yang tidak lain rumah Kayubi.
Setiap hari Kayubi keliling seluruh daerah untuk melakukan Kursus (diklat) Kader Ansor.
Tak peduli suasana genting, tidak jarang beliau datang sendirian ke pelosok-pelosok desa.
Ia memang seorang pemberani. Postur tubuhnya tidak terlalu besar, tapi mentalnya benar-benar kuat bagai baja.
Di setiap lokasi kursus kader Ansor, beliau selalu memompa semangat anak-anak Banser agar pantang mundur dalam menghadapi lawan.
Saat itu anggota Banser mendapatkan pelatihan dari tentara. Ada yang melalui Raider, Kodam, Kodim, hingga RPKAD pelatihannya selama tiga bulan.
Jadilah anggota Banser bermental tentara. Sedangkan gemblengan mental spritual dilakukan oleh para kiai pengasuh pondok pesantren.
Selama melindungi tanah-tanah rakyat dan pesantren dari aksi-aksi BTI-PKI itu, pihak Ansor dan Banser mengangkat slogan: “Pukul dulu, urusan belakangan”.
Aksi-aksi ini kemudian mengundang intervensi pemerintah.
Pimpinan pusat GP Ansor kemudian dipanggil oleh Dr. Subandrio, wakil perdana menteri dan kepala intelijen, yang dikenal condong pada PKI.
Mereka dimarah-marahin dan diancam GP Ansor akan dibubarkan oleh presiden Sukarno.
Namun para pimpinan Ansor tidak bergeming, bahkan jalan terus membela hak-hak rakyat hingga pasca G30S/PKI di tahun 1965, PKI dan BTI hancur berantakan. Dan sebagian orang-orang BTI pun kemudian berlindung ke orang-orang NU, dan kembali ke kiai dan pesantren.
Kayubi sendiri pernah diminta oleh Kapten Hambali dari Kodim Blitar yang meminta agar para kader GP. Ansor dan Banser bersedia direkrut dalam Operasi Trisula tahun 1968 untuk menumpas sisa-sisa perlawanan PKI di daerah Blitar selatan.
Seusai dengan Perintah Operasi 02/5/1968 yang di antaranya menyebut penggunaan bantuan kekuatan Hansip di wilayah Blitar selatan dan Tulungagung pasukan Banser diminta mengenakan pakaian Hansip.
Lalu, mengapa mesti Ansor dan Banser? Tanya Kayubi. Sebab Pemuda Ansor tidak diragukan lagi ke-Pancasila-annya, jawab Kapten Hambali.
Atas prestasinya yang gemilang dalam merintis dan membentuk Banser, pada tahun 1967 beliau mendapatkan penghargaan Bintang Satya Lencana Gerakan dari Pimpinan Pusat GP. Ansor.
Penghargaan ini hanya dikhususkan untuk Kayubi, sang jenderal Banser ini.
Mohammad Zainuddin Kayubi wafat pada hari Rabu 2 Desember 1983 dalam usia 57 tahun dan dimakamkan di Makam Taman Arum Ponorogo.

No responses yet