Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan
Januari tahun lalu (2020) jagat medsos Indonesia diramaikan dengan ledekan terhadap fenomena Virus Corona di Wuhan Cina. Setahun yang lalu, banyak yang menganggap remeh penyebaran virus Corona (Covid-19). Bahkan beberapa buzzer menilai keji orang yang meyakini penyebaran virus Covid-19 di Tanah Air.
Satu tahun lalu, banyak orang menunjukkan kegagahan menghadapi virus. Berbagai argumentasi disampaikan walaupun banyak juga yang tidak rasional. Kini angka penderita terpapar covid sudah 1 juta lebih dari rakyat Indonesia. Tiga puluh ribu rakyat bahkan sudah meregang nyawa karena tidak sanggup melawan virus.
Satu tahun berlalu, aktivitas kehidupan terasa aneh. Covid berada di antara kesadaran ada dan tiada. Tidak sedikit dari orang yang menganggap remeh covid akhirnya terpapar covid. Bahkan ada juga dari mereka yang wafat karena covid.
Tujuh puluh hari jelang Ramadhan serasa tidak ada gebyar seperti dulu. Spiritualitas umat Islam seolah redup menyambut datangnya bulan suci. Covid membuyarkan semarak spiritualitas Ramadhan. Dari sisi ini saja hidup sudah terasa aneh. Lebih-lebih dari sisi yang lain.
Dan keanehan itu makin terasa ketika umat Islam mulai meninggalkan tauhid di tengah kesulitan hadapi pandemi. Umat sudah melupakan berita dari Sayyiduna Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma:
كَانَ النَّبي صلى الله عليه وسلّم يقُولُ عِنْد الْكَرب: لَا اله الاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لَا اله الا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم لَا اله الا الله رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْاَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْم…
Dulu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika menghadapi kesulitan selalu mengucapkan ” Lā ilāha illa Allahu l-Azhim ul-Halīm, Lā ilāha illa Allahu Rabb ul-Arsy il-Azhim, Lā ilāha illa Allahu Rabb ul-Samawāti wa Rabb ul-Ardhi, wa Rabb ul-Arsy il-Karim..(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)…

No responses yet