Gusti Allah memperkenalkan diri-Nya dengan dawuh

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Asy Syuura 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada sesuatupun yang persis dengan Gusti Allah” (Al Ikhlash 4)

Ini pakem aqidah. Bahwa secara akal, Dzat Pencipta itu tidak mungkin sama dengan ciptaannya. Pasti berbeda dengan makhluknya (mukholafatul lil hawaditsi). Pasti Dia Berdiri sendiri (Qiyamuhu binafsihi), dan Maha Tunggal baik segi Dzat, Sifat atau Af’al-Nya (Wahdaniyah). Artinya Dzat, Sifat dan Af’al Gusti Allah, tidak ada kaitan dan tidak dipengaruhi apapun.

Bahwa perbedaan Gusti Allah dan makhluk itu mencakup semua hal. Eksisnya Dzat Gusti Allah sama sekali tidak butuh dengan materi, arah, tinggi, lebar, dalam, ruang, waktu, tempat dan semua hal yang lazimnya melingkupi makhluk.

Makhluk dikatakan maha butuh, karena makhluk butuh tubuh untuk bergerak, butuh dukungan materi untuk hidup, butuh ruang untuk eksis, butuh waktu untuk aktualisasi diri, butuh makan untuk tumbuh, butuh ngopi biar seger, butuh rokok biar gak sepet, butuh tidur biar gak lemes dan butuh-butuh yang lain. Hal ini jadi ciri kelemahan-kelemahan makhluk. 

Secara akal, yang namanya Tuhan pasti super segala super, tidak punya kebutuhan dan kelemahan sama sekali. Sehingga menyematkan satu atau dua sifat makhluk pada Dzat Gusti Allah adalah hal yang sangat bertentangan akal. Gusti Allah pasti bersih dari semua sifat makhluk.

Nah, membersihkan bermacam kebutuhan dan kelemahan sebagai sifat makhluk dari sifat Dzat Gusti Allah inilah yang dinamakan taqdis. Dari kata quds yang bisa dimaknai suci. Sehingga taqdis adalah mensucikan. Istilah yang sama maknanya dengan taqdis adalah tanzih dan tasbih.

Sehingga taqdis bermakna yakin bahwa Gusti Allah tidak butuh sesuatu apapun agar Dzat-Nya ada. Dia tidak butuh tubuh, tidak butuh ruang, tidak butuh tempat, tidak butuh waktu dan tidak butuh semua sifat yang menjadi sifat kelemahan makhluk. 

Secara akal sehat, yang namanya Tuhan pasti eternity, tidak dibatasi apapun. Karena jika Gusti Allah punya sifat makhluk yang serba terbatas, satu atau dua saja, artinya Dia punya celah di mana hal itu tidak bisa dijangkau-Nya. Hal ini tentu mustahil.

Maka, dalam aqidah Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, dikatakan Gusti Allah itu Wujud tanpa tempat, tanpa arah, tanpa waktu, tanpa jisim (tubuh). Tidak ada unsur apapun yang melingkupi Gusti Allah, justru unsur apapun itulah yang diciptakan dan dilingkupi Gusti Allah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *