“Kegiatan paling melelahkan adalah mengurus kebencian.” ~ Prie GS
Sosok Prie Ge ES tumbuh sebagai figur publik dengan banyak berproses dari kota Semarang. Saya tak mengenalnya dengan sangat baik dan dekat. Hanya dalam satu penggal waktu, kami sama-sama pernah bergelut dalam jagat yang sama: dunia kartun. Mas Prie mengisi rubrik kartun di harian Suara Merdeka, Semarang, dan saya di harian Bernas, Yogyakarta. Sesekali kami bertemu. Tak banyak yang saya ingat kecuali keriangan, kehangatan dan penghormatannya saat menghadapi orang lain.
“Kados pundi kabaripun, mas Kuss?” sapanya pada suatu pertemuan. Dan itu pertemuan entah sudah yang kesekian kalinya. “Lha ngopo to, mas, kok ndadak nganggo basa krama mbarang? Kaya lagi ketoprakan wae!” sambutku. Dia tertawa ngakak. Saya tahu, mas Prie ingin tetap menghormati orang lain di tengah rasa akrabnya hampir pada semua orang yang ditemui dan dikenalinya.
Panjenengan orang baik, mas Prie. Tetep sumeh, ngguya-ngguyu nggih. Mengko nék ketemu molékhat ngganggo basa krama inggil ya. Ben gampang mlebu surga. Kuwi wis jatahmu. Sugeng tindak, mas Prie.
———
Tahun 2014 mas Prie GS membuat buku kumpulan kartun “Cantrik”-nya yang tiap hari Minggu dimuat di harian Suara Merdeka. Judul buku itu, “Indonesia Tertawa”. Saya diminta untuk ikut menulis kata pengantarnya.
“Pokoknya tulisanmu jangan hanya memuji-muji. Kritik aku ya. Sak karepmu. Semaumu! Pendek saja. Cepet ya.” Kurang lebih seperti itu kalimat mas Prie lewat telepon. Tanpa ba-bi-bu.
Malam itu, akhir April 2014, saya mencoret-coret catatan pendek untuk buku kumpulan kartunnya mas Prie GS — di tengah-tengah persiapan sebuah pameran seni rupa di kota Kupang, NTT.
———
Elek Ning Jero
(Pengantar singkat untuk buku kumpulan kartun Prie GS., “Indonesia Tertawa”, 2014)
SALAH satu maestro seni rupa Indonesia, almarhum H. Widayat, saat masih mengajar di kampus Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta, sering membuat keder mahasiswa. Apalagi kalau mengritik karya-karya lukis para mahasiswanya. Tak jarang, saat menghadapi lukisan yang tidak menarik secara artistik dan estetik (baginya), pak Widayat langsung bertanya, “Ini lukisan siapa? Maunya apa?” Sang mahasiswa empunya lukisan tersebut dengan antusias bergegas menjawab, “Karya saya, pak!” Pak Widayat hanya berkomentar pendek: “Elek wae durung, mas!” (Jelek saja belum, mas!) Seperti biasa, ledakan tawa seperti nyaris meruntuhkan tembok kelas mendengar komentar sang dosen itu. Dan dari titik momentum tersebut pak Widayat biasa memberi argument dan dalih atas komentarnya.
Sejujurnya, saya juga punya komentar serupa ketika menyaksikan karya-karya kartun mas Prie GS yang terhimpun dalam buku ini. Goresannya: “elek wae durung!” Sejak pertama kali lihat puluhan tahun lalu hingga karyanya yang mutakhir, kartun-kartun mas Prie—secara artistik—kurang berkembang. Lalu, apa kelebihannya? Bagi saya, kenyataan bahwa karya-karyanya yang masih “elek we durung” itu seperti disadari dan dipahami sebagai bagian penting dari proses sekaligus tujuan kreatifnya, sehingga rute utama yang harus dilalui adalah konsisten pada “elek wae durung”. Output dari proses kreatifnya berupa kartun dengan garis yang linier, monoton, seenaknya tapi kurang plastis-elastis, dikukuhi hingga bertahun-tahun pada ratusan bahkan mungkin ribuan karya. Ini mengingatkan kita pada kartunis Ranan Lurie dengan arsiran pada karyanya yang tegas tapi kaku. Dan ini, yang terjadi pada Pris GS, terus dilakukan dengan konsistensi yang terjaga, dengan mental nekad a.k.a. mburok a.k.a. mbonek. Hasilnya adalah identitas atau ciri khas yang berbeda dengan karya kartunis yang lain. Memang karya kartunnya tidak sangat orisinal—seperti halnya di dunia ini nyaris tak ada yang baru dan orisinal. Tapi ketika menyimak dan membandingkan dengan karya dilingkungannya, maka identitas kartun yang “prie gs banget” terasa betul. Beda jauh dengan (minimal) kartunis seputar Semarang seperti Koesnan Hoesie, Slamet Widodo, dan sekian banyak nama kartunis yang merimbun di kawasan itu.
Ini tentu kalau menyimak dari sisi visualnya, karena pada karya seni rupa (termasuk kartun atau komik termasuk di dalamnya) ada dua hal penting dan mendasar yang bisa disimak: dunia bentuk dan dunia gagasannya, dunia visual dan dunia substansialnya. Lalu, ada apa dan bagaimana dengan dunia substansi karya kartun dari kartunis yang juga cerewet sebagai motivator ini?
Saya melihat bahwa kartun-kartun Prie GS ini, terkhusus yang berlabel “Cantrik” yang dimuat periodik seminggu sekali di harian “Suara Merdeka”, Semarang, seperti miniatur dari pikiran-pikiran usil kartunisnya. Mungkin juga sikap kritis atau sikap politiknya. Dalam “Cantrik”, seperti biasa, ditampilkan struktur cerita yang sederhana yang dipindahkan dari realitas sosial yang tengah aktual terjadi. Oleh Prie digubah sebagai “realitas kartun” dalam beberapa panel sederhana. Ada fakta yang ketengahkan ulang, lalu dijelaskan lebih lanjut lewat dialog antartokohnya, dan diakhiri pada panel terakhir dengan punch berupa kata atau kalimat kunci yang lucu, pedas, nyinyir atau sinis.
Pola ini standar. Namun Prie mampu dan sering membuat punch dengan baik. Standar baik pun bisa bermacam-macam, antara lain lucu, sinis menyengat, atau penuh endapan filosofi. Tapi tokoh “Cantrik” yang disodorkan tak jarang justru mengajak untuk menertawakan kenaasan yang menimpa. Pada titik inilah, sebenarnya, Prie seperti membongkar salah satu nilai terdalam dari sisi kemanusiaan kita: tega mengorek luka sendiri berarti siap lahir batin menjadi manusia yang penuh. Pada level inilah karya Prie berpotensi “elek ning jero”, jelek tapi dalam. ***
Sumber: FB Kuss indarto kusnan

No responses yet