Perbedaan pendapat diantara para ulama, cendekiawan dan tokoh pemikir itu hal lumrah. Mereka tetap saling berguru dan bersahabat meski pendapat mereka kerap musuhan. 

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik para pendiri mahzab Hanafi dan Maliki yang Sunni keduanya berguru pada Imam Ja’far Ash Shadiq, Imam ke 6 dalam tradisi Syiah.  Begitu pula dengan Cak Nur, Gus Dur, Pak Amien dan Kang Jalal empat maestro cendekiawan tanah Jawa ini tetap bersahabat meski berbeda pandangan. 

Bahkan Pak Amien meresmikan sekolah Muthahari yang didirikan Kang Jalal. Hanya orang jahil yang apabila berbeda pendapat dilanjut adu urat leher 

*^^^^^*

Pada saat itu di tahun 98 di depan ratusan mahasiwa, Kang Jalal biasa dipanggil mengatakan, “Pak Amien Rais adalah orang baik. Ia jujur. Dalam politik, orang jujur seringkali tidak beruntung. Oleh karena itulah kita harus membantu”. Kang Jalal memprediksi bahwa upaya Amien Rais ‘running for power’ tak akan berjalan mulus. Terbukti, ia gagal beberapa kali dalam pilpres. 

Dalam buku Meraih Cinta Ilahi, Kang Jalal mengajarkan pentingnya berpikir positif. Ia mengutip hadits Qudsi: Anna inda zhanni ‘abdi bi. ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada diri-Ku’. 

Mengutip Iqbal, Ia menegaskan manusia adalah co-Creator, “Kawan” Sang Pencipta. Manusia menciptakan kenyataan melalui pikirannya. Kenyataan yang dikehendaki manusia bisa digapai melalui pikiran-pikiran positif tentang Tuhan. 

*^^^*

Secara tidak langsung Tuhan meminta kita untuk selalu berpikir positif tentang diri-Nya, dan memang begitulah seharusnya. Wajah Tuhan dengan kasih dan sayang-Nya jauh lebih nyata dibanding kemurkaan-Nya. Keagungan Tuhan dengan kemahalembutan-Nya jauh lebih memancar. 

Bila manusia berpikir negatif tentang dirinya, maka yang akan ia rasakan adalah kesulitan, siksaan, dan penderitaan. Bila ia berpikir positif, maka ia akan merasakan kesenangan, ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan. Hal ini kembali ditegaskan Kang Jalal dalam buku Meraih Kebahagiaan.

Membaca pikiran pikiran cerdas Kang Jalal butuh dada lapang dan kedalaman pengetahuan. Tak berasa pikiran pikiran sufistik nya digemari banyak kalangan mahasiwa meski ia menganut Syiah tapi siapa peduli. Bagi penimba ilmu tak penting darimana ia berasal. 

*^^^^*

Kalau ditimang-timang semua aliran dan manhaj tak ada yang sempurna. Suni dan Syiah juga melakukan banyak peyimpangan. 

Pada kalangan Suni juga tak sedikit yang masih menyembah kuburan, wali yang dikeramatkan bahkan ada yang masih berguru pada Nyi Roro Kidul Ratu pantai selatan meski tata cara ibadahnya menganut madzab Imam Syafi’i. 

Syiah pun sama— penyimpangan kerap terjadi dikalangan Syiah tradisionalis bahkan ada yang menganggap Ali ra sebagai nabi dan imam-imamnya ma’shum terjaga. Termasuk kebenciannya pada sahabat-sahabat besar ahli surga. 

Salafi-Wahabi yang mengaku Islamnya paling Suni pun tak luput dari penyimpangan —-pada tataran konseptual: trilogi Rubbubiyah, Uluhiyah dan Ubudiyah pun disoal mirip trinitas yang diyakini Kresten. 

Meski mengaku Suni, realitasnya juga berbeda dengan tradisi Suni yang lain, bahkan saling mentahdzir.  Pembagian Ulama ahli bid’ah, ahli subhat dan ahlu sunah semakin memperkuat bahwa dalam tradisi Sunipun juga tak lepas dari pertengkaran dan konflik. 

*^^^^*

Lantas apakah mimpi tentang bersatunya umat Islam dalam satu kekhilafahan masih relevan mengingat potensi konflik dan perbedaan begitu besar— atau semua ini bagian dari ‘rencana besar’ Tuhan menciptakan manhaj, ideologi, aliran agar masing-masing berlomba-lomba berbuat bajik dan masuk surga sesuai niat dan amal perbuatan dengan tidak melihat apakah beraliran Suni, Syiah, Wahabi atau lainnya — Wallahu taala alm

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *