Jama’ah : “Jo menurutmu di zaman akhir ini masihkah kita harus memikirkan orang lain? Sebab banyak sekali kejadian orang yang ditolong justru membalas dengan kejahatan kepada kita. Alih-alih bersyukur mereka bahkan memfitnah kita. Bahkan puncaknya ada yang tega membunuh orang tuanya sendiri demi harta warisan.”
Paijo : “Begitulah kehidupan duniawi kang, sejak dahulu sudah begitu. Hanya saja zaman dahulu media pengingat hanya kitab suci dan sejarah lisan (yang dianggap mitos-mitos) yang diceritakan turun temurun. Sementara di era modern semuanya direkam dalam foto, film, video dan bahkan sekarang direkam di dinding-dinding Medsos. Dinding medsos itu bahkan bisa mengingatkan kita agar tidak lupa dengan peristiwa yang kita alami di waktu lalu.”
Jama’ah : “Tapi Jo, kenapa perasaanku zaman ini kok semakin buruk saja? Di TV dan medsos yang muncul adalah berita-berita buruk yang entah kenapa kok lebih disukai, ketimbang berita baik. Bahkan setiap ada berita baik selalu dianggap sebagai sebuah kebohongan.”
Paijo : ” Gejala seperti Itupun sudah terjadi sejak nabi Adam mengabarkan tentang keputusan Tuhan soal perkawinan silang anak-anaknya. Karena dianggap tidak adil, maka terjadilah tragedi Habil dan Qabil. Memang bukan hal mudah bagi manusia untuk menerima sesuatu yang baru dan apalagi jika dipahami sebatas tampilan material atau fisiknya saja.”
Jama’ah : “Apa maksudnya Jo, aku kok belum paham dengan apa yang kamu jelaskan. Kenapa yang buruk itu selalu lebih menarik diperhatikan dan bahkan bisa mengalahkan banyak sekali kebaikan. Seperti pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Coba bayangkan ada orang sudah meminjami modal tanpa bunga, eh ketika saatnya ditagih malah dianggap menghina dan tidak menghargai pertemanan persaudaraan dll.”
Paijo : ” Kang, Kalau kita ketemu dengan kebaikan atau orang yang kita cintai, maka kita akan merasa senang sekali. Sehingga dunia pun begitu indah dan baik, meskipun ada banyak ketidakbaikan di dalamnya. Kemudian kita berahlaq sangat baik di depannya. Sebaliknya ketika kita bertemu dengan yang tidak baik atau orang kita benci. Seringkali kita tidak berahlaq baik, sehingga menutupi semua kebaikan orang itu yang bahkan bisa jadi sangat banyak. Lucunya kang hati manusia gampang berubah tergantung suasana, kecuali hatinya orang beriman yang rajin menyucikannya dengan berefleksi atau dzikir mengingat keagungan rahasia Tuhan.”
Jama’ah : “Nah itu Jo, dimana rahasia Tuhan itu berada? “
Paijo : “Rahasia Tuhan itu ada pada Ahlaq kita kang. Ahlaq itu selalu berangkat dari rasa yang ada di hati dan pikiran kita. Jadi apapun yang terjadi di luar diri kita adalah ujian bagi ahlaq kita sekaligus cermin diri. Jika kita merespon kejahatan dengan kejahatan maka tidak ada beda kita dengan yang kita temui. Namun jika respon kita terhadap semua peristiwa di luar diri kita adalah kebaikan. Maka disitulah kita bisa menemukan rahasia keagungan Tuhan di dunia yang penuh fitnah ini.” #SeriPaijo

No responses yet