Wira’i terhadap dirinya.

Cerita ini diriwayatkan oleh murid beliau, Syekh Umar Dzinnun (beliau merupakan Syekh Dar al-Hadits Asyrafiyah pengganti dari Syekh Husain Sa’biyah, _Rahimahullah_). 

Syekh Abu Hasan al-Kurdi adalah murid langsung dari Syekh Abdul Karim Al-Rifa’i, beliau selalu berpesan pada Syekh Abu Hasan “ketika ada perempuan yang ingin ngaji (tasmi’ Qur’an, karena beliau ahli qira’at) ke kamu maka pakailah sitar (tirai/penutup). Pesan ini selalu beliau pegang teguh, maka dari dulu ketika mengajar di masjid dengan perempuan beliau selalu menggunakan satr (tirai) jadi masing-masing (antara Syekh Abu Hasan dan muridnya) tidak bisa melihat. 

Suatu ketika Syekh Waliyyudin Farfur (putra dari Syekh Sholeh Farfur, Muassis Ma’had Fath al-Islami) dan Syekh Abdul Fatah Bizm (Mufti Damaskus) meminta beliau agar mau mengajar al-Qur’an untuk murid-murid perempuan di Ma’had Fath al-Islami. Sebenarnya beliau tidak pernah mau mengajar di ma’had-ma’had karena tidak adanya sitar, tapi dengan “paksaan” –karena didesak terus-menerus– lama kelamaan beliau tidak bisa menolak, dan akhirnya mau untuk mengajar. Saking hati-hatinya ketika datang ke kelas beliau selalu memejamkan mata, dari pertama masuk sampai akhir, beliau sama sekali tidak membuka matanya. Jadi, beliau tidak mengetahui wajah-wajah perempuan (thalibat yang ada di dalam kelas). Sampai suatu ketika, para murid perempuan itu ditanya oleh salah satu guru, “Siapa yang mengajar kalian al-Qur’an?” mereka sama sekali tidak mengetahui. Hal ini, karena beliau tidak pernah memperkenalkan diri beliau, dan hanya fokus mengajar. Murid-murid perempuan itu hanya mengetahui bahwa yang mengajar mereka adalah Syekh yang sudah sepuh dan selalu memejamkan matanya ketika mengajar. 

Pernah suatu ketika beliau akan masuk ke kelas perempuan, ada murid laki-laki beliau yang memberikannya minyak wangi. Karena takut, beliau buru-buru mencuci minyak wangi itu dengan air, lalu meminta maaf kepada muridnya, dan berkata “Saya sebentar lagi akan mengajar di kelas perempuan, jadi saya tidak mau ada semerbak wangi yang sampai ke perempuan-perempuan itu.” Begitulah kehati-hatian beliau dalam mengajar perempuan pasti selalu memakai sitar, jika tidak ada sitar beliau akan memejamkan mata, padahal beliau sudah sepuh, yang jika dilihat dari kacamata syahwat pun sudah tidak ada. Tapi beliau tidak ingin menimbulkan fitnah dan selalu wira’i terhadap dirinya sendiri.

Saking tidak maunya beliau untuk mengajar di Ma’had, ketika gajian, beliau memegang gajinya dan tidak dimasukkan ke dalam kantongnya. Lalu, beliau pulang ke rumah dengan taksi, sesampainya di rumah cepat-cepat gaji itu diberikan kepada anaknya agar segera dibagikan kepada nama-nama yang telah ditulis oleh beliau. Beliau sama sekali tidak menggunakan gajinya sepeserpun. Memasukkan ke kantongnya saja tidak, disinilah kita belajar bahwa mengajar adalah ibadah bukan untuk mengejar dunia semata. Kehati-hatian beliau dalam dua hal di atas dapat kita jadikan contoh untuk bersikap wara’ kapanpun dan dimanapun serta dalam kondisi apapun.

*Sang Qura’ al-‘Arsy*

Kisah ini adalah mimpi dari anak perempuan Syekh Abu Hasan al-Kurdi, sebagian riwayat mengatakan yang mengalami mimpi ini adalah Seykh Abdu al-Zaim (beliau adalah muhibbin sekaligus khadim Syekh Abu Hasan al-Kurdi). Hal ini juga telah dita’kidkan (divalidasi) kepada Syekh Aiman Suwaid (beliau juga merupakan murid dari Syekh Abu Hasan al-Kurdi) bahwasanya mimpi ini adalah benar.

Di suatu malam Syekh Abdu al-Zaim bermimpi bertemu dengan Syekh Abu Hasan al-Kurdi (saat itu beliau sudah wafat). Dalam mimpinya beliau bertanya pada Syekh Abu Hasan. 

“Anda ini sedang dimana?” 

“Saya dibawah al-‘arsy.” (tahta al-‘arsy) 

“Apa yang anda lakukan?” (ma dza taf’al?) 

“Saya membaca al-Qur’an.” (aqra’ al-qur’an) 

“Dengan siapa?” 

“Saya dengan para al-Qura’.”

* Cerita ini saya dengar langsung dari Syekh Umar Dzinnun ketika selesai makan malam dirumah beliau.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *