Dari Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi Ad-Dausi) Radhiyallahu ‘anhu (603 – 678 M, Jannatul Baqi’ Madinah) bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yg menyeru kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang2 yg mengikutinya, tanpa mengurangi pahala2 mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yg menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang2 yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa2 mereka sedikit pun.” (HR. Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi Asy-Syafi’i atau Imam Muslim rahimahullah, wafat 5 Mei 875 M, Naisabur, Iran)

Berbuat kebaikan pun tidak harus yg muluk2 atau mewah. Langkah nyata sekecil apapun dalam memudahkan urusan sesama, bisa dimulai dari apa saja, sesuai dgn kemampuan dan kemauan baik kita.

Tentu, ada beberapa perilaku manfaat sosial atau tauladan yg baik, yg dapat kita jadikan pondasi awal dalam menumbuhkan kebaikan sosial. Karena dgn menumbuhkan kebaikan sosial ini, akan tumbuh kebaikan2 lainnya, sehingga dapat mengantarkan generasi yg selalu membawa manfaat yg banyak di kemudian hari.

Salah satunya, perbuatan menolong orang lain dalam kebaikan, merupakan perkara yg sangat di sukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, karena bisa jadi dgn kebaikan yg kita berikan, amal tsb dapat menjadi wasilah atau jalan kebaikan baik untuk kita maupun bagi mereka yg membutuhkan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda : 

“عَنْ  أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ  مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ …”

“Barangsiapa melapangkan kesusahan seorang Mukmin di dunia, maka Allah akan melapangkan baginya dari kesusahan2 pada Hari Kiamat, dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang, maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat.”

Hadits diatas shahih. Diriwayatkan oleh banyak ulama hadits, seperti : Imam Muslim, Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ad-Darimi, Imam Ibnu Hibban, Imam Ath-Thayalisi,  Imam Al-Hakim An-Naisaburi, Imam Al-Baghawi, Imam Ibnu ‘Abdil Barr, dan lain2 rahimahumullah.

Kita pasti faham, bahwa kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan, tingginya jabatan. Kesuksesan sejati, diraih jika seluruh capaian itu, memberikan manfaat bagi orang lain, sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak, saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. 

Hal ini penting dipahami, agar umur yg Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada manusia tidak sia2, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

Orang2 yg selalu berusaha menumbuhkan kebaikan sosial, maka ia akan mendapatkan hasil terbaiknya dari setiap bibit2 kebaikan yg ia tanam, hingga akhirnya ia dapat menuai hasil kebaikannya, baik di dunia maupun di akhirat

Bukankah kita sering mendengar dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik (Anas bin Malik bin an-Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin Malik bin Taimullah bin Tsa’labah bin ‘Amr bin al-Khazraj) radliyallahu ‘anhu (612 M, Madinah – 709 M, Basra, Irak), berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka ia memaafkan-Nya, “lalu dikatakan, “Bagaimana Ia Memanfaatkanya?” Beliau menjawab, “Allah memberi taufiq kepadanya untuk beramal shalih sebelum ia wafat.” (Riwayat Imam Ahmad Bin Hambal rahimahullah, 780 – 855 M Bagdad Irak dan Imam Tirmidzi rahimahullah, 824 – 892 M, Termez, Uzbekistan)

Pada hakikatnya, menumbuhkan kebaikan sosial bukanlah untuk orang lain, melainkan akan kembali untuk diri kita sendiri, masih ingatkah kita akan hadits nabi yg menjelaskan tentang tiga perkara yg akan menemani kita setelah kematian, salah satunya adalah amal jariyah. AMAL JARIYAH ini dapat berupa keahlian, tenaga, harta atau materi serta ilmu pengetahuan yg kita berikan kepada orang lain, sehingga bermanfaat dan mereka senantiasa memanfaatkannya.

Maka marilah kita senantisa meminta pertolongan kepada Allah yg Maha baik dan selalu menerima kebaikan, “Ya Allah jadikanlah kami dan anak cucu kami menjadi sumber kebaikan bagi siapapun, dan terimalah amal kami. Ya Allah mudahkanlah kami dalam melakukan kebaikan dimanapun dan kapanpun sehingga kebaikan itu dapat menjadi penghalang kami dari api neraka dan dgn kebaikan itu dapat membimbing kami ke syurga”. Aamiin.

variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *